On Saturday, 13 May 2000,  Abdullah Hasan wrote:

> Pertama, metode pemilihan yang benar memang belum tentu menghasilkan orang
yang
> benar.

Pengen nimbrung aaahh...

Kalau ini dikaitkan dengan proses SUMPR yang lalu, maka perlu juga
dipertanyakan yang dianggap 'benar' itu.
Kalau kebenaran itu berdasarkan obyektivitas, mestinya hasilnya harus benar.
Kalau tidak, perlu dipertanyakan kebenaran metodenya. Mungkinkah
subyektivitas terlalu dominan?
Seingat saya dimilis ini dulu ada arus pendapat yang menganggap keputusan
MPR itu mengabaikan suara rakyat, dan pak Hasan pada pihak yang mengatakan
bahwa itulah politik cantik, sesuai aturan main dsb. Setelah direnungkan
lebih dalam, akhirnya disadari bahwa terpilihnyanya para petinggi Negara
(Ketua DPR, Ketua MPR, Presiden dan Wapres) adalah the best possible
solution. Win win solution. Sangat legitimate. Kalau diubah komposisinya
malah kurang baik. Karena itu wajar kemudian timbul dukungan yang besar
didalam dan diluar negeri. Kok sekarang malah dipertanyakan sendiri?

>Walaupun perkawinan selalu didahului oleh masa pacaran yang hati-hati
> dan lama, perceraian selalu saja bisa dan wajar terjadi. Karyawan yang
telah
> kita pilih dengan management recruitment yang OK, kadang-kadang setelah
> beberapa waktu kelihatan tidak OK. Dia tidak bisa lewat masa percobaan dan
> mesti dikeluarkan.

Benar sekali. Tetapi tetap bahwa pilihan itu adalah yang terbaik pada saat
itu. Setelah mengalami proses ternyata pilihan yang dulu itu dirasa salah,
yang bertanggung jawab memperbaiki justru yang memilihnya. Bukan langsung
main cerai atau pecat saja, walaupun alternatif itu memang sah sah saja.
Disinilah visi seseorang yang memilih itu dapat dinilai, apakah hanya visi
yang jauh kedepan atau visi yang jauh menyimpang, karena dikontaminasi
kepentingan sesaat.

>
> Yang kedua, manusia itu tidak seperti batu akik yang awet sama berpuluh
> tahun. Manusia itu bisa berubah. Dulu baik , sekarang jelek. Dulu jelek
> sekarang jadi baik. Dulu nggak doyan, sekarang jadi tidak kuat iman
melihat
> tumpukan duit dilingkungan kerjanya.
> Jadi peradaban sadar, bahwa manusia perlu suatu pengawasan dan audit.
> Manusia perlu kritik yang terus menerus. Supaya benar selalu. Supaya bisa
> maju.

Dan perubahan itu bisa sangat cepat, sehingga ada kewajiban moral bagi yang
memilihnya untuk menjaga agar perobahan itu tetap pada arah yang positip.
Menjaganya itu bisa dengan kritik. Bisa saja walaupun bukan satu satunya.
Kritik hanya salah satu bentuk tawashul bil haq, dan bahkan merupakan bentuk
yang tersulit. Bisa saja menjaganya dengan memberi saran (kontribusi
pemikiran konkrit) , ikut mencarikan solusi, memberi second opinion dan
sebagainya.
Dalam tata cara komunikasi, menyampaikan kritik mempunyai cukup banyak
persyaratan dan langkah. Kritik juga mencerminkan ketidak sepihakan,
sehingga sangat rawan konflik.
Kalau ternyata kritik tidak menghasilkan perbaikan, mengapa tidak
menggunakan instrumen lain? Konsep, saran, solusi, alternatif tindakan, atau
kegiatan yang menambal kekurangan yang dilihat, sehingga sinergi?

>
> Ketika Clinton meresmikan kawasan pelestarian alam yang isinya ada
> pohon-pohon yang berusia 600 tahun, ada yang menyangsikan. Apakah dia
tulus?
> Apa maksud politisnya ? Ketika Clinton mengkampanyekan pembatasan
> kepemilikan senjata, dia disangsikan dan di olok-olok. Ketika dia
> mengkampanyekan jaminan kesehatan yang lebih baik pada rakyat banyak, dia
> disangsikan pula ketulusannya.

Di Amrik memang semangat kompetisi sudah begitu melembaga, sehingga 'keep
questioning' itu nggak masalah. Kalau itu dilakukan disini, apaah masyarakat
kita sudah siap?

>
> Kita orang Indonesia ( bukan cuma orang Jawa), belum biasa mendengar
kritik
> dan kontrol terhadap pemerintahannya. Walaupun kritik oleh orang yang
> profesinya memang pengritik dan pengontrol pemerintah. Amin Rais misalnya.

Masalahnya lebih pada proporsionalitas dan konsistensi, sehingga terukur
ketulusannya.
Kita ambil contoh konkrit kritik kritik dari AR.
Kedua tokoh ini (GD dan AR) pantas disebut, atau setidaknya memposisikan
diri sebagai Guru Bangsa.
Pada AR juga melekat tanggung jawab moral atas duduknya GD dikursi Presiden,
karena tidak bisa dipungkiri dialah yang paling getol mencalonkan dan
sekaligus menggalang dukungan, walaupun banyak dicurigai sebagai gerakan ABM
(Asal Bukan Mega). Kepiawaian AR menarik PKB dari aliansinya dengan PDIP dan
mendapatkan dukungan Habibie untuk menyalurkan (sebagian) suara Golkar-lah
yang pada akhirnya memenangkan perjuangan Poros Tengah mengantarkan GD
kekursi Presiden. Ini dilakukan dengan susah payah, dan berhasil.
Setelah itu AR juga 'memasukkan' orang orang terbaiknya dalam kabinet,
sementara dia sendiri memimpin Lembaga Tertinggi Negara. Dalam pemikiran
normal, dia pada posisi dapat menjaga dan mengamankan pilihannya, atau dalam
bahasa jargonis, mampu mengawal keberhasilan gerakan reformasi.
Tetapi pada fase lanjutannya, dia seperti kehilangan kedekatan dengan
gacoannya itu. Ini yang membingungkan banyak pihak. Secara beruntun dia
membuka 'borok demi borok' gacoannya, sehingga orang jadi bertanya, mengapa
hal semacam itu tidak diketahuinya ketika dia memutuskan mencalonkan GD. Ini
pertanyaan serius tentang visi, ketulusan dan pamrih.
Kalau PAN dikenal punya platform yang jelas dan baik (tetapi kurang dapat
suara dalam Pemilu) mengapa pada saat 'pacaran" untuk menjagokan GD dulu
tidak dimasukkan sebagai syarat 'perkawinan"? Kalau kepatuhan pada Poros
Tengah itu sekarang disadari sebagai hal yang penting, mengapa hal itu dulu
tidak disyaratkan? Sebetulnya kesepakatan macam apa sih yang terjadi antara
AR dan GD sehingga begitu ngototnya AR mencalonkan GD? Ini pertanyaan
serius.
GD cuma didukung dengan menempatkan orang-orang tertentu dari Poros Tengah,
tetapi nampaknya tidak didukung dengan konsepsi yang jelas bagaimana
menjalankan tugas kepresidenan, dan dalam perjalanannya juga terkesan lepas
komunikasi, sehingga terkesan berantem sendiri.
Belum lagi kalau dikaitkan dengan kewenangan konstitusionalnya, mengapa
tidakdilakukan komunikasi kelembagan antara legislatif dan eksekutif secara
elegan. Yang jelas rakyat dan dunia sudah menerima dengan tulus pemilihan GD
ini.
Nanti kalau diingatkan bahwa mestinya mereka nggak sepantasnya berantem dan
menghasut yang lain ikutan berantem begitu, katanya pembelajaran politik.
Jangan jangan AR yang masih banyak perlu dibelajari.

> Kontrol masih selalu dilihat sebagai merusak dan ambisi. Dan Gus Dur pun
> melihat dan memakai kelemahan kita ( bukan cuma orang Jawa) ini, untuk
> membela diri. Sebagian dari kita , karena kultur feodal dan lain-lain
> sejenisnya, tidak tega terhadap kata-kata kontrol yang masih lunak
sekalipun
> : "jewer" umpamanya. Kalau Habibie lain, barangkali mungkin dianggap
sebagai
> bukan orang Jawa, jadi nggak apa-apa kalau dikurang-ajari. Sebagian dari
> kita ( bukan cuma orang Jawa) sama sekali tidak sanggup melihat bahwa
> kegalauan yang ada dihasilkan oleh Gus Dur sendiri. Menurut istilah
> Dr.Syahrir, pemerintah kita sekarang ini punya kemampuan untuk menembak
kaki
> sendiri.

Ini nggak relevan. Kontrol oleh pihak luarbolehlah bersifat konfrontatif.
Tetapi kontrol dari pihak dalam mestinya berbentuk konsolidasi, kerja
konstruktif, saling melengkapi dan sebagainya. Positioning memang menuntut
konsekuensi tertentu. Ada hak untuk mencalonkan, ada kewajiban yang sama
besarnya untuk memelihara dan mempertahankan calon itu setelah jadi, dengan
menambal kekurangannya. Sehingga tetap tampil cantik seperti proses
pemilihannya. Bukan menelanjangi boroknya. Ini memang kerja besar yang perlu
banyak pengorbanan. Sayang sekali itu hanya dilakukan PKB, dengan risiko
dicap sebagai partai bebek. Padahal itu tadinya naiknya GD itu bukan maunya
PKB. Apakah ini bukan termasuk penjerumusan? Coba dipikir sekali lagi.

>
> Menurut pendapat saya, Gus Dur itu kemampuannya sebetulnya lumayan.
> Kelemahannya adalah dia punya bakat arogan dan tidak tahu keterbatasan
> dirinya. Dia amat tidak peduli pada orang lain . Kata Nurcholis , dia
tidak
> bisa mendengar orang lain. Apakah ada cara lain , kecuali dengan kritik
> keras, kalau kita mau menjaganya ? Rupiah kemarin sudah menyentuh 8800,-.
> Dia masih berkata, dia punya cara, pemerintah itu tidak bodo ! Kata
Syahrir
> sambil ketawa: "Pasar lebih tidak bodo lagi !". Lha kalau masih tidak bisa
> mengerti, kenapa mau kita sayang-sayang terus ?  Ya di ganti, to ! Seperti
> memberhentikan karyawan kita yang tidak perform diatas. Ini kan menyangkut
> ratusan juta orang. Negeri ini bukan cuma milik banser-banser yang suka
> ngamuk itu. Coba kita lihat peristiwa hari ini. Polisi Gus Dur, seperti
> presidennya yang terlalu PD itu, membuat keributan lagi di Glodok. Ngapain
> nggeropyok pedagang kecil , disaat mencari makan sedemikian sulit ? Mbok
> lima-sepuluh tahun lagi ngurusi kemewahan hak cipta inteletual segala?.
> Hampir saja tragedi 14 Mei terjadi lagi. Mana bisa investor masuk ke
> Indonesia ?

Tentang kapasitas GD ini mestinya sudah masuk pertimbangan dan pemikiran
visionaris macam AR. Kalau dia mampu memprediksi kejatuhan Soeharto (yang
saat itu sangat kuat), mengapa dia tidak mampu mengenali dan memprediksi GD
jauh sebelum dia sampai pada keputusan untuk berjuang all aout menjadikannya
Presiden. Apa artinya ini? Coba dipikir sekali lagi.

>
> Pemerintahan demokratis, memerlukan pers yang bebas. Jangan malahan
> diintimidasi. Pers kita masih kurang sempurna. Tapi manfaatnya sudah
> kelihatan. Lihat! Peristiwa kecambah KKN yang mulai tumbuh. Peristiwa
> melayangnya 35 milyar uang bulog segera diendus dan disiarkan oleh pers
kita
> yang kurang sempurna itu. Marilah kita lihat apakah NU berani menuntut
> dimuka pengadilan akan masalah itu. Kalau GD benar clean akan ada
> pengadilan. Kalau pers memang ada benarnya, ancaman menuntut adalah cuma
> bacot saja yang akan dicoba dilupakan. Tempo bukan majalah bodo !
>  istilahnya GD ). Pemerintahan demokratis memerlukan orang-orang dan
oposisi
> vokal seperti Amin Rais, kurang sempurna sekalipun. Pemerintahan walaupun
> benar, harus selalu disangsikan oleh oposisi, seperti contoh Clinton
diatas.
> Jangan malahan bersikap begundal, membela ndoro kita apapun fakta yang
> dilakukannya.

Kalau AR berpikir konsisten, dengan hasil Pemilu mestinya memang pilihannya
lebih terhormat menjadi oposisi. Bukan malah membuat dikotomi Islam dan non
Islam untuk mengecilkan kemenangan raihan suara PDIP dan dikotomi statusquo
dan reformis untuk mengecilkan kemenangan raihan suara Golkar. Sekarang nasi
sudah menjadi bubur. Apakah tadinya dia pikir GD itu robot yang bisa
diprogram sekehendak hatinya. Dan terkejut setelah ternyata pikirannya
keliru? Coba dipikir sekali lagi.


 Wassalam
yap

------------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke