Ada yang jauh lebih penting dari sekedar ngubek-ubek
Soeharto, yaitu merapatkan barisan untuk mengatasi
negara yang sudah babak belur hari-hari ini. Soeharto
adalah salah satu lubang di perahu negeri ini. Banyak,
bahkan ratusan atau ribuan lubang lain, yang
potensinya juga tak kalah nggegirisi, bagi
tenggelamnya Titanic RI ini.
Pemusatan tenaga dalam satu fokus saja, dalam hal ini
cuma mengubek-ubek Soeharto, adalah sebuah strategi
yang salah, karena di lini lain, kasus-kasus bobrok
lain, tak tersedia cukup enersi. Pemusatan enersi yang
begitu besar hanya ke sebuah sasaran, pada akhirnya,
hanya menjadi sebuah tombak dengan ujung meruncing
pada sebuah titik. Ini gampang sekali menangkalnya,
dan bukan main sulitnya untuk menembusnya. Lebih-lebih
lagi, rakyat yang sedemikian besar, yang
tertegun-tegun melihat indikator ekonomi yang
tampaknya cuma satu-satunya sebagai haluan, dollar,
seperti begitu mudah ngambek. Bukan pujian karena
begitu kukuhnya niat untuk menghukum Soeharto, tetapi
malah elusan dada, mengapa jadi (makin) kacau begini.
Mengapa kita tidak membagi tugas, untuk berada di
tempat dan waktu yang benar, guna menunggui semua
peluang kebocoran di perahu kita ini, agar bangsa ini
terlihat cukup terpelajar dan terdidik untuk memahami
masalah yang sebenarnya, bukan yang tampak lebih gagah
saja.
Tiba-tiba kita dikejutkan begitu gampangnya 50-ribuan
dibuat kopinya. Tiba-tiba begitu gampang peredaran
narkoba meruyak di setiap anak negeri. Tiba-tiba kita
terkejut oleh begitu gampangnya kereta api tabrakan.
Tiba-tiba kita heran, begitu gampangnya orang merampas
sepeda motor, dan lain sebagainya. Tiba-tiba pula, hak
DPR yang lebih 30 tahun tak terpakai, interpelasi,
sudah hendak dipakai, tetapi kita tahu, membela siapa
interpelasi itu nantinya. Rakyatkah ? Tidak. Cuma Laks
dan Kalla saja. Sementara kegagahan penggunaan
interpelasi itu justru membuat cibiran saja, dan
dollar pun sudah ancang-ancang untuk naik lagi.
Apakah mahasiswa tidak terpanggil untuk mendatangi
DPR, dan mengingatkan mereka agar tak gegabah, ketika
negeri ini sedang jadi sorotan dan bulan-bulanan? Tak
kah sebaiknya mereka justru menjadi peredam-kejut,
agar membuat laju kendaraan ini lebih nyaman? 62
persen anggota DPR setuju interpelasi. Tetapi mari
kita tanya penduduk negeri ini, relakah peluru
interpelasi, yang beresiko membuat kredibilitas
pemerintah melorot, lalu rupiah tiarap, begitu saja
dilepas?
Apakah mahasiswa tidak melihat dan mendengar,
bagaimana elit politik dengan dalil-dalil asal comot
membuat hangat suhu bangsa yang sedang ke penyakit
berat? Tak kah sebaiknya mahasiswa memberikan
peringatan kepada mereka para elit ini agar
berhati-hati melepas kata?
Itu memang isu-isu kecil. Tetapi kelengahan kita
karena hanya tertarik pada isu besar, yang pasti
mendapat publisitas besar, lalu anasir-anasir bobrok
lain enak-enakan menggerogoti urat nadi rakyat sampai
nyaris putus.
Barangkali kita terbiasa dengan isu-isu besar, yang
mesti tak pernah selesai selalu membuat bangga dan
cerita-cerita, bahwa 'aku pernah terlibat isu besar',
namun tak pernah terselesaikan. Seperti dongeng
pelipur lara seorang pejuang tua, yang masih
membangga-banggakan kisah-kisah heroisme versinya
semata, ketika anak dan cucunya lebih suka melihat
kenyataan, lowongan pekerjaan yang semakin langka.
Kecuali kalau demo itu sendiri adalah lapangan
pekerjaan. Jika tidak, mari kita tengok lubang-lubang
lain di kapal kita, yang meski kecil, jumlahnya banyak
sekali. Jangan lupa, di level-level birokratis, yang
namanya korupsi, masih ramai main.
Salam
=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Kick off your party with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com/
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!