Syukurlah saya nggak sulit-sulit amat,

Rasanya penilaian itu banyak betulnya. Anda penganut Gusdurian sih, jadi
yang dilihat yang baek-baek saja, hehehehe

-----Original Message-----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, May 31, 2000 7:33 AM
Subject: Re: Re: [Kuli Tinta] Fw: [economist] Segera Selesaikan Kasus
Soeharto: How?


>Sumuhun Akang Katon,
>
>Abdi mah bingung ketka AR mengatakan bahwa nilai GD
>untuk Dwi Fungsi ABRI dan Demokrasi 7,2 dan 7,8 sedang
>nilai nya untuk Ekonomi dan Politik Merah.
>
>Saya mengalami kesulitan untuk membayangkan penentuan
>nilai relatif seperti itu. Disinilah kekaguman saya
>terhadap AR yang bisa membuat nilai relatif dengan
>cermat seperti itu.  Dalam ati saya bertanya, kenapa
>bukan 7,1 dan 7,6? Ah... ini tentu saja merupakan
>proses brilyan didalam otak AR yang memungkinkan dia
>bisa mengolah banyak informasi sehingga menghasilkan
>nilai relatif semacam itu sebagai seorang akademisi.
>Namun, kemudian saya bertanya lebih lanjut didalam
>hati, apakah karir politiknya tidak mempengaruhi proses
>penilaian itu sehingga kejernihannya sebagai seorang
>akademisi tidak tergangggu?
>
>Itulah kebingungan saya Akang. Apalagi ada beberapa
>kelompok masyarakat di Yogya yang integritas
>akademiknya tidak dibawah AR mengatakan bahwa kalau GD
>bisa bertahan dua periode maka Indonesia akan mengalami
>perubahan yang sangat besar.
>
>Di sisi yang lain, meskipun ini bukan indikator makro,
>saya telah berjumpa dengan beberapa new comer business
>di Yogya yang masih muda (kepala 2). Mereka ada yang
>lulusan MM UI, Elektro UGM, Ekonomi Atma Jaya yang
>setiap bulan mengekspor paling sedikit 1 container
>kerajinan (handy craft) dan mebel. Di Semarang saya
>menjumpai lulusan Sastra Inggris UKSW yang sibuk dengan
>ekspor asinan ke Jepang dan mebel ke Eropa. Secara
>statistik, saya pikir pasti masih banyak gejala seperti
>itu di tempat lain namun saya tidak menjumpai. Jadi,
>saya semakin bingung kalau harus membicarakan seorang
>pemimpin apalagi pemimpin Bangsa. Kita bisa menilai
>Soekarno, Soeharto, Habibie setelah mereka tidak
>menjadi pemimpin lagi, dan itupun ketika kita sudah
>memiliki pembanding.
>
>Apakah kalau MW, seperti beberapa kasak-kusuk politisi
>yang dijual media itu, naik menjadi Presiden maka
>tekanannya lebih ringan dibanding GD?
>
>Soekarno telah mencoba untuk membangun karakter bangsa
>Indonesia dan Soeharto yang tidak ikut dalam proses
>kristalisasi nilai-nilai bangsa itu dan berkesempatan
>menjadi pemimpin telah menerjemahkannya secara salah
>sehingga justru pengkotakan-pengkotakan masyarakat yang
>terjadi. Inilah yang terjadi saat ini. Kelompok dan
>Golongan lebih mementingkan kepentingan mereka
>dibanding kepentingan bangsa dan negara. Wakil rakyat
>lebih menyuarakan suara partai dibanding suara rakyat
>yang memilihnya. Padahal, diantara mereka dulu pernah
>menjadi pilar-pilar kekuasaan Soeharto untuk
>melanggengkan kekuasaannya. Hanya saja kini mereka
>telah mengalami metamorfosa.
>
>salam.
>
>
>
>----- Original Message -----
>From: Sukaton _ <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Tuesday, May 30, 2000 9:00 AM
>Subject: RE: Re: [Kuli Tinta] Fw: [economist] Segera
>Selesaikan Kasus Soeharto: How?
>
>
>Punten,
>Mas ac, mungkin bisa tanyakan jawabannya ke Pak Amin
>Rais. Beliau pernah
>ngomong kalau dalam SU nanti mau mengevaluasi kinerja
>Presiden seperti
>layaknya seorang guru yang menilai muridnya. Kalau guru
>menilai muridnya kan
>berarti guru itu tahu bagaimana cara yang benar-benar
>betul (betul-betul
>benar) dalam menyelesaikan masalah, dan guru itu pasti
>lebih tahu dari
>muridnya (padahal si guru ini tadinya adalah calon
>siswa yang tidak
>terpilih, nah loe jadi binun kan?).
>
>
>------Original Message------
>From: =?iso-8859-1?B?5ec=?=
><[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Sent: May 29, 2000 10:45:49 AM GMT
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [economist] Segera
>Selesaikan Kasus Soeharto:
>How?
>
>
>
>Wah ni menarik.....
>
>Bagaimana kita mengetahi seorang Nachoda yang sehat dan
>mengetahui cara untuk menyelamatkan negeri
>ini..................?
>
>salam
>
>----- Original Message -----
>From: Farhan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Monday, May 29, 2000 10:43 PM
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [economist] Segera
>Selesaikan Kasus Soeharto: How?
>
>
>At 03:49 AM 5/27/00 -0700,
>
>Agar kapalnya tidak tenggelam...makanya kita perlu
>seorang Nahkoda yang
>sehat,yang mengerti apa yang harus dilakukan untuk
>menyelamatkan negeri
>ini..................
>
>you wrote:
>>Ada yang jauh lebih penting dari sekedar ngubek-ubek
>>Soeharto, yaitu merapatkan barisan untuk mengatasi
>>negara yang sudah babak belur hari-hari ini. Soeharto
>>adalah salah satu lubang di perahu negeri ini. Banyak,
>>bahkan ratusan atau ribuan lubang lain, yang
>>potensinya juga tak kalah nggegirisi, bagi
>>tenggelamnya Titanic RI ini.
>>
>>Pemusatan tenaga dalam satu fokus saja, dalam hal ini
>>cuma mengubek-ubek Soeharto, adalah sebuah strategi
>>yang salah, karena di lini lain, kasus-kasus bobrok
>>lain, tak tersedia cukup enersi. Pemusatan enersi yang
>>begitu besar hanya ke sebuah sasaran, pada akhirnya,
>>hanya menjadi sebuah tombak dengan ujung meruncing
>>pada sebuah titik. Ini gampang sekali menangkalnya,
>>dan bukan main sulitnya untuk menembusnya. Lebih-lebih
>>lagi, rakyat yang sedemikian besar, yang
>>tertegun-tegun melihat indikator ekonomi yang
>>tampaknya cuma satu-satunya sebagai haluan, dollar,
>>seperti begitu mudah ngambek. Bukan pujian karena
>>begitu kukuhnya niat untuk menghukum Soeharto, tetapi
>>malah elusan dada, mengapa jadi (makin) kacau begini.
>>
>>Mengapa kita tidak membagi tugas, untuk berada di
>>tempat dan waktu yang benar, guna menunggui semua
>>peluang kebocoran di perahu kita ini, agar bangsa ini
>>terlihat cukup terpelajar dan terdidik untuk memahami
>>masalah yang sebenarnya, bukan yang tampak lebih gagah
>>saja.
>>
>>Tiba-tiba kita dikejutkan begitu gampangnya 50-ribuan
>>dibuat kopinya. Tiba-tiba begitu gampang peredaran
>>narkoba meruyak di setiap anak negeri. Tiba-tiba kita
>>terkejut oleh begitu gampangnya kereta api tabrakan.
>>Tiba-tiba kita heran, begitu gampangnya orang merampas
>>sepeda motor, dan lain sebagainya. Tiba-tiba pula, hak
>>DPR yang lebih 30 tahun tak terpakai, interpelasi,
>>sudah hendak dipakai, tetapi kita tahu, membela siapa
>>interpelasi itu nantinya. Rakyatkah ? Tidak. Cuma Laks
>>dan Kalla saja. Sementara kegagahan penggunaan
>>interpelasi itu justru membuat cibiran saja, dan
>>dollar pun sudah ancang-ancang untuk naik lagi.
>>
>>Apakah mahasiswa tidak terpanggil untuk mendatangi
>>DPR, dan mengingatkan mereka agar tak gegabah, ketika
>>negeri ini sedang jadi sorotan dan bulan-bulanan? Tak
>>kah sebaiknya mereka justru menjadi peredam-kejut,
>>agar membuat laju kendaraan ini lebih nyaman? 62
>>persen anggota DPR setuju interpelasi. Tetapi mari
>>kita tanya penduduk negeri ini, relakah peluru
>>interpelasi, yang beresiko membuat kredibilitas
>>pemerintah melorot, lalu rupiah tiarap, begitu saja
>>dilepas?
>>
>>Apakah mahasiswa tidak melihat dan mendengar,
>>bagaimana elit politik dengan dalil-dalil asal comot
>>membuat hangat suhu bangsa yang sedang ke penyakit
>>berat? Tak kah sebaiknya mahasiswa memberikan
>>peringatan kepada mereka para elit ini agar
>>berhati-hati melepas kata?
>>
>>Itu memang isu-isu kecil. Tetapi kelengahan kita
>>karena hanya tertarik pada isu besar, yang pasti
>>mendapat publisitas besar, lalu anasir-anasir bobrok
>>lain enak-enakan menggerogoti urat nadi rakyat sampai
>>nyaris putus.
>>
>>Barangkali kita terbiasa dengan isu-isu besar, yang
>>mesti tak pernah selesai selalu membuat bangga dan
>>cerita-cerita, bahwa 'aku pernah terlibat isu besar',
>
>>namun tak pernah terselesaikan. Seperti dongeng
>>pelipur lara seorang pejuang tua, yang masih
>>membangga-banggakan kisah-kisah heroisme versinya
>>semata, ketika anak dan cucunya lebih suka melihat
>>kenyataan, lowongan pekerjaan yang semakin langka.
>>
>>Kecuali kalau demo itu sendiri adalah lapangan
>>pekerjaan. Jika tidak, mari kita tengok lubang-lubang
>>lain di kapal kita, yang meski kecil, jumlahnya banyak
>>sekali. Jangan lupa, di level-level birokratis, yang
>>namanya korupsi, masih ramai main.
>>
>>Salam
>>
>>
>>
>>
>>=====
>>Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
>>
>>__________________________________________________
>>Do You Yahoo!?
>>Kick off your party with Yahoo! Invites.
>>http://invites.yahoo.com/
>>
>>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
>www.indokado.com
>>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan
>LAKUKAN SENDIRI
>>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
>www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
>SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
>www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
>SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>-----------------------------------------------
>FREE! The World's Best Email Address @email.com
>Reserve your name now at http://www.email.com
>
>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
>www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
>SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke