Sumuhun Akang Katon,
Abdi mah bingung ketka AR mengatakan bahwa nilai GD
untuk Dwi Fungsi ABRI dan Demokrasi 7,2 dan 7,8 sedang
nilai nya untuk Ekonomi dan Politik Merah.
Saya mengalami kesulitan untuk membayangkan penentuan
nilai relatif seperti itu. Disinilah kekaguman saya
terhadap AR yang bisa membuat nilai relatif dengan
cermat seperti itu. Dalam ati saya bertanya, kenapa
bukan 7,1 dan 7,6? Ah... ini tentu saja merupakan
proses brilyan didalam otak AR yang memungkinkan dia
bisa mengolah banyak informasi sehingga menghasilkan
nilai relatif semacam itu sebagai seorang akademisi.
Namun, kemudian saya bertanya lebih lanjut didalam
hati, apakah karir politiknya tidak mempengaruhi proses
penilaian itu sehingga kejernihannya sebagai seorang
akademisi tidak tergangggu?
Itulah kebingungan saya Akang. Apalagi ada beberapa
kelompok masyarakat di Yogya yang integritas
akademiknya tidak dibawah AR mengatakan bahwa kalau GD
bisa bertahan dua periode maka Indonesia akan mengalami
perubahan yang sangat besar.
Di sisi yang lain, meskipun ini bukan indikator makro,
saya telah berjumpa dengan beberapa new comer business
di Yogya yang masih muda (kepala 2). Mereka ada yang
lulusan MM UI, Elektro UGM, Ekonomi Atma Jaya yang
setiap bulan mengekspor paling sedikit 1 container
kerajinan (handy craft) dan mebel. Di Semarang saya
menjumpai lulusan Sastra Inggris UKSW yang sibuk dengan
ekspor asinan ke Jepang dan mebel ke Eropa. Secara
statistik, saya pikir pasti masih banyak gejala seperti
itu di tempat lain namun saya tidak menjumpai. Jadi,
saya semakin bingung kalau harus membicarakan seorang
pemimpin apalagi pemimpin Bangsa. Kita bisa menilai
Soekarno, Soeharto, Habibie setelah mereka tidak
menjadi pemimpin lagi, dan itupun ketika kita sudah
memiliki pembanding.
Apakah kalau MW, seperti beberapa kasak-kusuk politisi
yang dijual media itu, naik menjadi Presiden maka
tekanannya lebih ringan dibanding GD?
Soekarno telah mencoba untuk membangun karakter bangsa
Indonesia dan Soeharto yang tidak ikut dalam proses
kristalisasi nilai-nilai bangsa itu dan berkesempatan
menjadi pemimpin telah menerjemahkannya secara salah
sehingga justru pengkotakan-pengkotakan masyarakat yang
terjadi. Inilah yang terjadi saat ini. Kelompok dan
Golongan lebih mementingkan kepentingan mereka
dibanding kepentingan bangsa dan negara. Wakil rakyat
lebih menyuarakan suara partai dibanding suara rakyat
yang memilihnya. Padahal, diantara mereka dulu pernah
menjadi pilar-pilar kekuasaan Soeharto untuk
melanggengkan kekuasaannya. Hanya saja kini mereka
telah mengalami metamorfosa.
salam.
----- Original Message -----
From: Sukaton _ <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 30, 2000 9:00 AM
Subject: RE: Re: [Kuli Tinta] Fw: [economist] Segera
Selesaikan Kasus Soeharto: How?
Punten,
Mas ac, mungkin bisa tanyakan jawabannya ke Pak Amin
Rais. Beliau pernah
ngomong kalau dalam SU nanti mau mengevaluasi kinerja
Presiden seperti
layaknya seorang guru yang menilai muridnya. Kalau guru
menilai muridnya kan
berarti guru itu tahu bagaimana cara yang benar-benar
betul (betul-betul
benar) dalam menyelesaikan masalah, dan guru itu pasti
lebih tahu dari
muridnya (padahal si guru ini tadinya adalah calon
siswa yang tidak
terpilih, nah loe jadi binun kan?).
------Original Message------
From: =?iso-8859-1?B?5ec=?=
<[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: May 29, 2000 10:45:49 AM GMT
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [economist] Segera
Selesaikan Kasus Soeharto:
How?
Wah ni menarik.....
Bagaimana kita mengetahi seorang Nachoda yang sehat dan
mengetahui cara untuk menyelamatkan negeri
ini..................?
salam
----- Original Message -----
From: Farhan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 29, 2000 10:43 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [economist] Segera
Selesaikan Kasus Soeharto: How?
At 03:49 AM 5/27/00 -0700,
Agar kapalnya tidak tenggelam...makanya kita perlu
seorang Nahkoda yang
sehat,yang mengerti apa yang harus dilakukan untuk
menyelamatkan negeri
ini..................
you wrote:
>Ada yang jauh lebih penting dari sekedar ngubek-ubek
>Soeharto, yaitu merapatkan barisan untuk mengatasi
>negara yang sudah babak belur hari-hari ini. Soeharto
>adalah salah satu lubang di perahu negeri ini. Banyak,
>bahkan ratusan atau ribuan lubang lain, yang
>potensinya juga tak kalah nggegirisi, bagi
>tenggelamnya Titanic RI ini.
>
>Pemusatan tenaga dalam satu fokus saja, dalam hal ini
>cuma mengubek-ubek Soeharto, adalah sebuah strategi
>yang salah, karena di lini lain, kasus-kasus bobrok
>lain, tak tersedia cukup enersi. Pemusatan enersi yang
>begitu besar hanya ke sebuah sasaran, pada akhirnya,
>hanya menjadi sebuah tombak dengan ujung meruncing
>pada sebuah titik. Ini gampang sekali menangkalnya,
>dan bukan main sulitnya untuk menembusnya. Lebih-lebih
>lagi, rakyat yang sedemikian besar, yang
>tertegun-tegun melihat indikator ekonomi yang
>tampaknya cuma satu-satunya sebagai haluan, dollar,
>seperti begitu mudah ngambek. Bukan pujian karena
>begitu kukuhnya niat untuk menghukum Soeharto, tetapi
>malah elusan dada, mengapa jadi (makin) kacau begini.
>
>Mengapa kita tidak membagi tugas, untuk berada di
>tempat dan waktu yang benar, guna menunggui semua
>peluang kebocoran di perahu kita ini, agar bangsa ini
>terlihat cukup terpelajar dan terdidik untuk memahami
>masalah yang sebenarnya, bukan yang tampak lebih gagah
>saja.
>
>Tiba-tiba kita dikejutkan begitu gampangnya 50-ribuan
>dibuat kopinya. Tiba-tiba begitu gampang peredaran
>narkoba meruyak di setiap anak negeri. Tiba-tiba kita
>terkejut oleh begitu gampangnya kereta api tabrakan.
>Tiba-tiba kita heran, begitu gampangnya orang merampas
>sepeda motor, dan lain sebagainya. Tiba-tiba pula, hak
>DPR yang lebih 30 tahun tak terpakai, interpelasi,
>sudah hendak dipakai, tetapi kita tahu, membela siapa
>interpelasi itu nantinya. Rakyatkah ? Tidak. Cuma Laks
>dan Kalla saja. Sementara kegagahan penggunaan
>interpelasi itu justru membuat cibiran saja, dan
>dollar pun sudah ancang-ancang untuk naik lagi.
>
>Apakah mahasiswa tidak terpanggil untuk mendatangi
>DPR, dan mengingatkan mereka agar tak gegabah, ketika
>negeri ini sedang jadi sorotan dan bulan-bulanan? Tak
>kah sebaiknya mereka justru menjadi peredam-kejut,
>agar membuat laju kendaraan ini lebih nyaman? 62
>persen anggota DPR setuju interpelasi. Tetapi mari
>kita tanya penduduk negeri ini, relakah peluru
>interpelasi, yang beresiko membuat kredibilitas
>pemerintah melorot, lalu rupiah tiarap, begitu saja
>dilepas?
>
>Apakah mahasiswa tidak melihat dan mendengar,
>bagaimana elit politik dengan dalil-dalil asal comot
>membuat hangat suhu bangsa yang sedang ke penyakit
>berat? Tak kah sebaiknya mahasiswa memberikan
>peringatan kepada mereka para elit ini agar
>berhati-hati melepas kata?
>
>Itu memang isu-isu kecil. Tetapi kelengahan kita
>karena hanya tertarik pada isu besar, yang pasti
>mendapat publisitas besar, lalu anasir-anasir bobrok
>lain enak-enakan menggerogoti urat nadi rakyat sampai
>nyaris putus.
>
>Barangkali kita terbiasa dengan isu-isu besar, yang
>mesti tak pernah selesai selalu membuat bangga dan
>cerita-cerita, bahwa 'aku pernah terlibat isu besar',
>namun tak pernah terselesaikan. Seperti dongeng
>pelipur lara seorang pejuang tua, yang masih
>membangga-banggakan kisah-kisah heroisme versinya
>semata, ketika anak dan cucunya lebih suka melihat
>kenyataan, lowongan pekerjaan yang semakin langka.
>
>Kecuali kalau demo itu sendiri adalah lapangan
>pekerjaan. Jika tidak, mari kita tengok lubang-lubang
>lain di kapal kita, yang meski kecil, jumlahnya banyak
>sekali. Jangan lupa, di level-level birokratis, yang
>namanya korupsi, masih ramai main.
>
>Salam
>
>
>
>
>=====
>Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
>
>__________________________________________________
>Do You Yahoo!?
>Kick off your party with Yahoo! Invites.
>http://invites.yahoo.com/
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan
LAKUKAN SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
-----------------------------------------------
FREE! The World's Best Email Address @email.com
Reserve your name now at http://www.email.com
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!