On Saturday, 27 May 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:
> Ada yang jauh lebih penting dari sekedar ngubek-ubek
> Soeharto, yaitu merapatkan barisan untuk mengatasi
> negara yang sudah babak belur hari-hari ini. Soeharto
> adalah salah satu lubang di perahu negeri ini. Banyak,
> bahkan ratusan atau ribuan lubang lain, yang
> potensinya juga tak kalah nggegirisi, bagi
> tenggelamnya Titanic RI ini.
Weleh cak Gigih ceritane lagi pura pura nggomblohi. Yo wis kepancing pisan
aku, nggak apalah demi saudara tua.
Cak cak, cak Gigih, siapa yang nggak prihatin dan membenarkan keprihatinan
peno ini. Lha wong negara kok jadi compang camping kayak gombal amoh gini.
Maka dari keprihatinan itu, mulailah dipikir. Tenaga (termasuk duwit dan
waktu) yang terbatas ini enaknya difokuskan kemana, diprioritaskan kesasaran
mana dulu supaya dampaknya cukup besar untuk mengentaskan bangsa dari krisis
ini. Gitu kan cak. Orang sebelah saya bilang istilahnya CSF (Critical
Success Factor). Itulah yang dibilang prioritas atau simpul masalah. Ibarat
mau menjalankan mobil, perlu dicari kunci kontaknya dan lubang kuncinya.
Kalau mau didorong rame rame, ditarik derek dan sebagainya juga bisa, tapi
rak ya lebih episien kalau dikontak saja langsung greng tah cak. Itulah
mengapa semua rame rame cari simpul masalahnya, cik lebih mudah diudari. Nah
simpulnya ya di soe (tanpa el) itu. Kalau sudah ketemu jurusnya menekuk soe
ini kan lainnya tinggal copy-paste saja.
Ya bener sampeyan, yang lain masalahnya masih sak ndayak, dan memang tiap
orang diharapkan bekerja keras menyelamatkan diri dan lingkungan terdekatnya
SAMBIL berkontribusi membuka simpul masalah.
Makanya ya sudah bener, mbah soel tetep rajin belajar di okayama, pak Hasan
menggenjot pabriknya, Martin rajin belajar sampeyan terus berkreasi dibidang
media, saya sendiri muter kaya baling baling bambu (dora emon kali) ngetan
ngulon gak karuwan, tidak lain karena kita tetap punya tanggung jawab
pribadi.
>
> Pemusatan tenaga dalam satu fokus saja, dalam hal ini
> cuma mengubek-ubek Soeharto, adalah sebuah strategi
> yang salah, karena di lini lain, kasus-kasus bobrok
> lain, tak tersedia cukup enersi. Pemusatan enersi yang
> begitu besar hanya ke sebuah sasaran, pada akhirnya,
> hanya menjadi sebuah tombak dengan ujung meruncing
> pada sebuah titik. Ini gampang sekali menangkalnya,
> dan bukan main sulitnya untuk menembusnya. Lebih-lebih
> lagi, rakyat yang sedemikian besar, yang
> tertegun-tegun melihat indikator ekonomi yang
> tampaknya cuma satu-satunya sebagai haluan, dollar,
> seperti begitu mudah ngambek. Bukan pujian karena
> begitu kukuhnya niat untuk menghukum Soeharto, tetapi
> malah elusan dada, mengapa jadi (makin) kacau begini.
Lha wong ujung tombaknya fokus menuju sebuah titik saja gak beres beres,
apalagi kalau dikendorkan. Tetapi memang bidang lain juga (nyatanya) terus
digarap, karena urusannya kan going concern alias the show must go on.
>
> Mengapa kita tidak membagi tugas, untuk berada di
> tempat dan waktu yang benar, guna menunggui semua
> peluang kebocoran di perahu kita ini, agar bangsa ini
> terlihat cukup terpelajar dan terdidik untuk memahami
> masalah yang sebenarnya, bukan yang tampak lebih gagah
> saja.
Lha kan sudah, semua orang sudah memilih posisinya sendiri. Hanya ya namanya
wong akeh, ada saja yang mbingungi sendiri. Ada yang pengen peran ganda, ada
yang nggak kebagian.
>
> Tiba-tiba kita dikejutkan begitu gampangnya 50-ribuan
> dibuat kopinya. Tiba-tiba begitu gampang peredaran
> narkoba meruyak di setiap anak negeri. Tiba-tiba kita
> terkejut oleh begitu gampangnya kereta api tabrakan.
> Tiba-tiba kita heran, begitu gampangnya orang merampas
> sepeda motor, dan lain sebagainya. Tiba-tiba pula, hak
> DPR yang lebih 30 tahun tak terpakai, interpelasi,
> sudah hendak dipakai, tetapi kita tahu, membela siapa
> interpelasi itu nantinya. Rakyatkah ? Tidak. Cuma Laks
> dan Kalla saja. Sementara kegagahan penggunaan
> interpelasi itu justru membuat cibiran saja, dan
> dollar pun sudah ancang-ancang untuk naik lagi.
Lha ya yang begini ini kalau diladeni satu satu kan habis tenaganya cak.
Makanya dicoba cari simpul masalahnya. Mengapa tergoda cetak uang palsu,
narkoba dan sebagainya, kan budaya konsumerisme yang mendewakan harta ini
sudah begitu meruyak, sehingga uang sudah benar benar dipuja puja dengan
pertaruhan apapun. Banyak buktinya yang kemarin terhormat sekarang terdakwa.
Sayangnya memang ada juga yang tadinya terdakwa sekarang ter SP3, ha ha haa.
Yang sudah kelaparan tertekan dan nggak bisa cari uang secara wajar, ya itu
tadi, curi, ngrampok, nyopet, nipu dan sebagainya sesuai keahlian dan
keberanian masing masinglah. Lha wong cuma mijit saja bisa nyamber 35
milyard, apa nggak gendeng? Tibaknya tukang pijit itu bersama yang dipijit
punya kongsi usaha kapal terbang, kata GOWA lho, apa gak makin gendeng.
Apalagi, katanya sebelum meneken cek milyaran itu, sapuan memang dipanggil
keistana dulu. Ngomong sama Kalla (bosnya) bahwa yang manggil tadi (Presiden
Gus Dur) butuh uang dan minta uang Bulog yang diluar neraca. Kalla nolak (eh
bukan nolak, minta surat resmi dari Presiden), eh sapuan nekat menjebol dana
karyawan. Kalau ini benar, ya super gendeng semua. Kita lihat saja apa
cerita GOWA itu nanti terbukti atau terpelintir, atau memang khayalan.
>
> Apakah mahasiswa tidak terpanggil untuk mendatangi
> DPR, dan mengingatkan mereka agar tak gegabah, ketika
> negeri ini sedang jadi sorotan dan bulan-bulanan? Tak
> kah sebaiknya mereka justru menjadi peredam-kejut,
> agar membuat laju kendaraan ini lebih nyaman? 62
> persen anggota DPR setuju interpelasi. Tetapi mari
> kita tanya penduduk negeri ini, relakah peluru
> interpelasi, yang beresiko membuat kredibilitas
> pemerintah melorot, lalu rupiah tiarap, begitu saja
> dilepas?
Lha nek interpelasi, ya nggak masalah to cak. Masak ditanya saja kok turun
kredibilitasnya. Interpelasi itu kan cuma hak bertanya. Ya dijawab saja yang
bener dan jujur, nggak usah neko neko. Justru bersyukur ada yang mau tanya,
sehingga ada kesempatan menunjukkan kebenarannya (ini kalau bener lho).
Kalau memang salah ya akui saja, minta maaf, terus rekonsiliasi. Gitu aja
kok repot. Kalau jawabannya mbulet, atau bohong ya salahnya yang mbulet
kalau akhirnya digusur.
Jadi Presiden itu kan memang begitu risikonya. Ada risiko enak, jalan jalan
keluar negeri gratis, pakai pesawat carter lagi, gak mikiri kebutuhan sehari
hari, kemana mana dikawal dan dihormati. Dan sebagainya. Tapi juga ada
risiko tidak enaknya, diantaranya ya diinterpelasi, diimpeach dan sebagainya
itu. Makanya daripada jadi presiden, enakan jadi temannya presiden.
Kecipratan enaknya nggak ikut nanggung risikonya. Ngaco ah.
Laks dan Kalla kan cuma obyek, contoh kasus. Soal dia diberhentikan ya
silahkan saja, itu hak prerogatif Presiden. Tapi kalau benar Presiden bilang
karena mereka KKN, ngangkat maling dsb. itu kan sama dengan membunuh hak
perdatanya. Sama dengan waktu Ali Sadikin bikin petisi 50, langsung dibunuh
hak perdatanya. Masak yang gini tanya saja nggak boleh.
Malah aneh kalau orang sak senayan yang gajinya jutaan itu cuma bungkam
saja.
>
> Apakah mahasiswa tidak melihat dan mendengar,
> bagaimana elit politik dengan dalil-dalil asal comot
> membuat hangat suhu bangsa yang sedang ke penyakit
> berat? Tak kah sebaiknya mahasiswa memberikan
> peringatan kepada mereka para elit ini agar
> berhati-hati melepas kata?
Nampaknya peringatan sampeyan juga sudah nyampe. Buktinya sekarang agak
dingin kan. Nggak usrek terus. Bahwa ada interpelasi, itu baik, karena
memang begitu seharusnya mekanisme kenegaraan ini. Wuik, melipe. Maksud
saya, daripada bikin statement, teriak diluaran, ya bagusan begitu. Jadi
jelas juntrungannya.
>
> Itu memang isu-isu kecil. Tetapi kelengahan kita
> karena hanya tertarik pada isu besar, yang pasti
> mendapat publisitas besar, lalu anasir-anasir bobrok
> lain enak-enakan menggerogoti urat nadi rakyat sampai
> nyaris putus.
Nah ini benar benar eksesnya. Makanya saya memilih berada di blind side,
lalu menusuk kemulut gawang ketika bola sudah jadi umpan matang. Ya
lumayanlah walaupun kelas (anaknya) teri, bersyukur masih ada yang mbayari
pulsa. Mungkin banyak juga yang memanfaatkan kesempatan ini, dan sementara
aturan masih amburadul ya balik ke nuraninya sendiri, apa yang mau
dilakukan.
>
> Barangkali kita terbiasa dengan isu-isu besar, yang
> mesti tak pernah selesai selalu membuat bangga dan
> cerita-cerita, bahwa 'aku pernah terlibat isu besar',
> namun tak pernah terselesaikan. Seperti dongeng
> pelipur lara seorang pejuang tua, yang masih
> membangga-banggakan kisah-kisah heroisme versinya
> semata, ketika anak dan cucunya lebih suka melihat
> kenyataan, lowongan pekerjaan yang semakin langka.
>
> Kecuali kalau demo itu sendiri adalah lapangan
> pekerjaan. Jika tidak, mari kita tengok lubang-lubang
> lain di kapal kita, yang meski kecil, jumlahnya banyak
> sekali. Jangan lupa, di level-level birokratis, yang
> namanya korupsi, masih ramai main.
Akurlah cak, sekarang ini arus memang lagi kuat kuatnya menyeret siapapun
kedalamnya. Ya kita selamatkan diri sendiri dan lingkungan terdekat
sebisanya. Setidaknya, kalau nggak bisa mbantu ya jangan ngganggu. Itu saja
sudah cukuplah. Sisa kemampuan dipakai kontribusi pada issue besar, tanpa
perlu berpretensi jadi pahlawan.
andum slamet,
yap
---------------
Justice maybe blind, but it can see in the dark
Sak beja bejane sing (ng)edan, isih beja sing eling lan waspada
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!