Nah..., Alvin Lie mengatakan bahwa dia tahu persis
kalau itu gerakan kiri. Beberapa kali dia
mengulang kalimat itu namun tidak mau menyebutkan
sekarang. Bahkan AR menyebut juga Komunis malam
dan komunis siang.
Saya jadi teringat peristiwa 27 Juli. Tidak ada
hujan tidak ada mendung sekonyong-konyong PRD
mencuat menjadi biang keladi untuk mengalihkan
perhatian publik ke kasus yang sebenarnya.
Bedanya, kalau dulu Budiman S dkk bisa lolos dari
lubang kubur maka sekarang mereka bisa langsung
menanggapi sehingga masyarakat jadi tahu.
Jadi, seakan-akan telah ada standar penilaian
bahwa konotasi perilaku gerakan kiri atau Komunis
adalah radikal, mengrusak, membunuh, liar, dsb.
Namun, mengapa dalam peristiwa Mei stigma itu
tidak diberikan? Dimanakah posisi Alvin Lie ketika
peristiwa Mei terjadi? Apakah dia sudah lama
menjadi politisi atau aktifis sehingga yakin
dengan perilaku sebuah gerakan?
----- Original Message -----
From: Fukuoka Kitaro <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 09, 2001 7:51 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] AR: MPR Tak Terbelenggu
Aturan untuk Gelar SI
hehehe,
Yuridis memang mengemuka sekarang ini.
Kok jadi sama dengan JFT pengacara cendana ya?
dalam acara debat minggu ini, mengulang-ulang
kata YURIDIS ini menjadi landasan
kerja-professinya.
Bahkan ketika ditanya oleh penelepon atau disuruh
agar secara moral menganjurkan keluarga cendana
untuk membantu menemukan HMP. Dalam satu
jawaban dia mengeluarkan "berdasarkan yuridis"
sampai 6 kali...
Pada channel lain AR dikerubutin mike-2 dan
perekam-2.
Mensinyalir bahwa kerusuhan di JATIM adalah ulah
komunis. Bahkan secara eksplisit mengeluarkan
kata-2
PKI untuk yang berbuat anarkis. Hehehee.. dengan
beralasan sesuai dengan informasi rekan-rekan
INTELIJEN... lhu-lhu-lhuuuu.... apakah sudah
demikian
buobroknya intelijen di negeri ini? Mengumbar
informasi
kepada ketua MPR yang notabene merupakan wakil
dari rakyat (khalayak)? Atau memang AR juga punya
piaraan intelijen?
Aku lagi berangan-angan. Betul memang GD habis
legitimasinya di parlemen. Tapi di khalayak
walaupun
itu hanya satu propinsi dan sebagian propinsi
tetangganya,
tetapi boleh jadi ada 30% penduduk lebih. Terus
nanti
kalau khalayak ikutan aksi damai tiap hari ke
Jakarta
secara bergilir gimana ya? Terus seandainya yang
magrong-magrong di kursi jadi mBak MW,
digoyang-goyang
gitu gimana ya?
Kepada siapa beliau cari pegangan? Hayoooo pada
siapa? Ingat Jakarta-Surabaya hanya perlu 50.000
rupiah
dengan KA kelas BISNIS. pakai ekonomi bisa buat
3 orang kurang dikit... hehehe.
Jangan-jangan ekses aksi angkatan 66 yang muncul
lagi. Siapakah itu?
Ki Pengamat Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
----- Original Message -----
From: "$Bji(B" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, February 10, 2001 12:59 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] AR: MPR Tak Terbelenggu
Aturan untuk
Gelar SI
Alvin Lie tadi berbicara bahwa temuan Pansus
memang perlui ditindaklanjuti dan memang tidak
bisa menjadi bahan di Pengadilan. Masya Allah....
setelah Marzuki ngomong dan dunia hinar bingar
baru ngomong dan bahkan dibumbui dengan landasan
juridisnya.... he... he... lie... lie...
Selanjutnya, Alvien Lie (ini kecil, kalau besar
namanya apa Mas Dadi?) mengatakan bahwa
penggalangan isu tanda tangan di anggota DPR untuk
mempercepat SI adalah rumor...., horotoyonoh....
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan
anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--