Beberapa waktu yang lalau pada acara VIP di MetroTV hadir mantan menteri PAN, RR. Aku terpaksa geleng-2 kepala dengan pernyataan beliau yang intinya: "Dalam politik itu janganlah terlalu mengandalkan nurani, karena tujuan bisa saja berubah arah" Geleng-geleng kepala, karena membayangkan tingkah politiknya, termasuk dulu bersedia masuk di kabinet GD itu berarti memang sudah punya tujuan politik tertentu yang berubah-ubah itu. Betul nggak? Berarti semua politikus-2 itu juga demikian adanya... Ampuuuuun! Tiwas dulu optimis ikutan pemilu, rek. Nggak tahunya... hehehee Ki Denggleng Pagelaran -------------------------- apa bedane uwong ambek manungsa? ----- Original Message ----- From: "$Bji(B" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, February 11, 2001 1:35 AM Subject: Re: [Kuli Tinta] AR: MPR Tak Terbelenggu Aturan untuk Gelar SI Nah..., Alvin Lie mengatakan bahwa dia tahu persis kalau itu gerakan kiri. Beberapa kali dia mengulang kalimat itu namun tidak mau menyebutkan sekarang. Bahkan AR menyebut juga Komunis malam dan komunis siang. Saya jadi teringat peristiwa 27 Juli. Tidak ada hujan tidak ada mendung sekonyong-konyong PRD mencuat menjadi biang keladi untuk mengalihkan perhatian publik ke kasus yang sebenarnya. Bedanya, kalau dulu Budiman S dkk bisa lolos dari lubang kubur maka sekarang mereka bisa langsung menanggapi sehingga masyarakat jadi tahu. Jadi, seakan-akan telah ada standar penilaian bahwa konotasi perilaku gerakan kiri atau Komunis adalah radikal, mengrusak, membunuh, liar, dsb. Namun, mengapa dalam peristiwa Mei stigma itu tidak diberikan? Dimanakah posisi Alvin Lie ketika peristiwa Mei terjadi? Apakah dia sudah lama menjadi politisi atau aktifis sehingga yakin dengan perilaku sebuah gerakan? ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke