Rasanya tidak fair kalau teman-teman dari IPB dan WWF belum memberikan
tanggapan. Berdasarkan catatan saya ada beberapa teman dari IPB alamat
emailnya terdaftar di milis ini. Pak D Murdiyarso (dari FMIPA IPB) yang
sekarang jadi Asmennya MenLH. Mudah-mudahan ikut membaca diskusi ini dan
bisa mendorong teman dari IPB untuk ikutan mengirimkan pesan. Dari WWF ada
WWF Bali (Ketut, Nina, Veda).  Dari LIPI ada alamat umum Museum Zoologi
Bogor, mungkin bisa membuka akses untuk teman dari LIPI lainnya.
Saya akan coba memforwardkan diskusi ini ke teman-teman IPB (dan dari
lainnya) yang saya punya alamat emailnya. Saya kira semangatnya adalah
berdiskusi, bukan pengadilan. Bagaimana kita mencari titik lemah demi
kebaikan bersama.
Silahkan teman-teman yang berminat melanjutkan, terutama dari IPB dan LIPI. 
Salam,
Harry Surjadi (Moderator)
NB: Mas Wicak mana "suaranya"

Teman-teman,

Rasanya diskusi kita makin bergulir soal DNA penyu ini.

Terima kasih Bambang Riyadi yang sudah mengkontak teman dari LIPI. Tinggal
kita tunggu responnya.
Terima kasih juga kepada Dwi R. Muhtamman yang mengupdate data tentang
Diversa. Saya tidak mengenal orang dari FMIPA IPB tapi kenal beberapa orang
IPB. Misalnya, mungkin bisa ditanyakan ke Mas Hariadi yang dari Fahutan
apakah ada kontak. Damayanti Buchori mungkin bisa membantu karena beliau
berkecimpung dalam urusan hama (walaupun serangga). Selain itu, mungkin
moderator kita Mas Harry (yang eks KOMPAS yang banyak orang IPBnya) mungkin
kenal beberapa orang. Tapi prinsipnya, Mas Dwi sudah berjanji memantau dan
rasanya kita tetap perjuangan untuk mendapatkan akses informasi ke IPB.
Kalau perlu kita semua tulis surat resmi ke dekannya langsung dan minta
informasi. Kalau satu surat mungkin tidak digubris tapi kalau sepuluh
surat, dia pasti mikir kan.

Kemudian, daftar pelaku potensi bioprospeksi jadi bertambah, yaitu
perguruan tinggi. Dalam sebuah rapat tentang biosafety (yang dilaporkan
oleh Riza lewat milis ini juga), Pak Effendy mengatakan bahwa para doktor
di universitas daerah juga banyak berperan sebagai agen pembawa material
hayati ke luar negeri. Situasi ini bisa jadi akan lebih parah dalam era
desentralisasi bila tidak ada panduan hukum nasional dan kesadaran aparat
di daerah. Nah, PR kita jadi bertambah lagi. Mungkin kita mulai dari
menyadarkan orang-orang IPB dulu lah.

Terakhir buat Tony Whitten, tentang inventarisasi biodiversity. SAya
sepakat bahwa kegiatan itu penting dan perlu didanai. Persoalannya kemudian
adalah akses publik perlu diadakan. Beberapa tahun yang lalu seingat saya
LIPI pernah mengadakan pertemuan membahas penyusunan data base biodiversity
yang user friendly  (mungkin sebagian dari program inventarisasi ini) tapi
terus tidak pernah terdengar lagi. Apakah benar bahwa proyek ini masih 'on
paper'? Bukankah beberapa ekspedisi sudah dimulai? dan itulah yang kita
pertanyakan.

Kita masih menunggu respon WWF. Mudah-mudahan LSM lingkungan internasional
ini tidak sama pelitnya dengan LIPI dan PKA. Kita juga masih menunggu
respon dari PKA.

Apakah teman-teman punya gagasan untuk menggulirkan kampanye ini lebih
jauh?

Terima kasih dan salam

Hira



--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke