On Wed, Jun 21, 2006 at 08:00:39PM +0700, beast wrote: > dari kacamata pebisnis: > open source = good > GPL = bad
pertama soal freeloader. freeloader adalah: orang yang mengencourage code orang lain untuk terbuka, tetapi menutup punya sendiri. atau, orang yang menggunakan code orang lain yang terbuka, tanpa reward kembali ke yang membuat/komunitas. yang kedua, banyak contoh dimana kalangan 'opensource' menjadi 'korban'. kedua, istilah 'pebisnis' ini terlalu luas. mungkin maksudnya produsen perangkat lunak. dulu ada yang 'ngotot' bahwa orang bisa membuat dan menjual perangkat lunak bebas. jawabannya jelas tidak. mungkin tepatnya belum (?) karena prekondisi-prekondisi yang mengijinkan free software melaju dengan kencang, belum semua terpenuhi. sebenarnya yang disampaikan oleh FSF soal bisnis freesoftware (jualan), baru dalam taraf wacana. itu tidak akan terwujud tanpa bantuan semua pihak. seperti yang saya bilang, semua aktifitas pengembangan perangkat lunak, entah itu closed/open/free, selalu saja memerlukan dukungan, perlu followers, dan ini pun harus banyak. ketiga, soal driver (di atas itu kaitannya soal driver kan?). sebenarnya masalahnya spt ini: kalau mereka tidak berminat untuk mensupport linux (juga OS yang lain) secara sungguh-sungguh (selalu up-to-date), kenapa mereka bilang bahwa, misalnya, mensupport linux dan menjualnya. sebenarnya, kalau mereka membuka spek-nya saja, pasti ada yang berminat menuliskan drivernya (entah itu opensource atau freesoftware). ini sebenarnya yang jadi pemicu. keuntungan menggunakan GPL adalah, lisensi ini tidak mengijinkan orang lain 'mencuri' jerih payah orang lain untuk kepentingan sendiri dan di-close (freeloader). salah satu contohnya adalah tinypeap, yang menggunakan freeradius. akhirnya tinypeap menulis ulang softwarenya, membuang bagian-bagian yang GPL. setidaknya itu kata mereka, tapi fair enough. dari pada developer openssh misalnya yang pusing-pusing cari dana. kenapa tidak di-GPL-kan saja. krn dengan di-GPL-kan, otomatis orang tidak bisa menjadi freeloader atas hasil jerih payah orang lain. maksudnya, ada kesempatan untuk melibatkan lebih banyak lagi pihak dalam pengembangan openssh, yang orang-orang ini tidak ingin hasil karya mereka diperkosa untuk kepentingan pihak tertentu (misi paling mendasar dari freesoftware adalah menjamin kebebasan). ke empat, linux sendiri sudah mengijinkan/mempunyai ABI, tetapi vendor hardware tsb. tidak benar-benar memaintain driver mereka (yang closed) dan memindahkan beban pada support komunitas. misalnya jadi tanya ke milis, jadi dimuat bagaimana menggunakan ndiswrapper di infolinux, ada artikel bagaimana menjalankan softmodem yang hanya memiliki binary only module (driver). topik ini pernah menghabiskan thread yang cukup besar di linux-kernel, coba cari di google dengan keyword: linux in doomsday screnario yang pertama kali diangkat oleh Arjan. yang jelas menjadi tarik menarik, dan dikuatirkan komunitas linux akan dikorbankan (linux tewas). sebenarnya ini yang sering dilupakan oleh para aktivis linux. mereka kebanyakan terfokus pada bagaimana membuat sesuatu (menjadi seniman/pemain). mungkin kalau di bidang IT di Indonesia, bidang ini memiliki kasta paling tinggi. jadi, seolah- olah orang harus pernah membuat sesuatu baru layak ngomong. seperti ortu dulu, setiap kali saya bicara selalu dihardik: hus! sik cilik mingkem!. ndak heran gedhenya IQ jongkok :-) atau punya duit, atau punya kuasa. kalau dua yang terakhir ini bisa membuat punggung orang jadi lemas terbungkuk dengan sukarela. asal bilang opensars-opensors semua tepuk tangan, setelah itu wes-ewes-ewes bablas angine. > pangsanya sudah jelas disitu, user maunya "get the stuff done". pasti > nantinya ada bbrp org customer (minoritas) yg komplain knp tdk conform ke > rfc/open standard etc (get the stuff right). jika di kabulkan maunya, nanti > komplain lagi, knp sourcenya tdk dibuka etc, jika dikabulkan lagi nanti bikin > fork dan akhirnya semua customer akan lari ke versi yg gratis ini. mau hidup > dr support? well, dream on :-) anda menggunakan kacamata mana? gerakan freesoftware itu masih in-progress, dan akan selalu begitu. kalau anda mempertanyakan seperti di atas, dan banyak orang yang menshare paham yang sama dengan anda, bahkan meng-encourage orang untuk memiliki paham yang sama (sadar atau tidak, paham yang berbau-bau apatis memang lagi amat sangat populer sekali di negara ini akhir-akhir ini), lantas, kenapa harus ada linux-aktivis? :-) kalau sudah seperti ini kan jelas. tidak perlu pakai linux. tinggal saja dan kalau semua orang seperti anda, konsekuensi logisnya linux tewas. bikin gerakan lain misalnya sontoloyoware (pokoke gratis yang penting hepi). case closed. > jadi advokasi untuk mrk yg minoritas tsb implikasinya besar thd kelangsungan > usaha, padahal kontribusi mrk kecil sekali thd pemasukan. advokasi supaya paham yang dishare oleh kaum minoritas ini, menjadi dishare oleh lebih banyak orang lagi, sehingga menjadi mayoritas. ini hal yang simpel dan mendasar sekali, bukan? seperti pepatah dalam bahasa latin: "Ojo siro nandangi pakaryan kang gedhe lamun siro durung nate ngrampungake pakaryan kang cilik". otherwise: linux .. bye-bye. Salam, P.Y. Adi Prasaja -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

