On Mon, Jun 19, 2006 at 02:40:24PM +0700, adi wrote: > > tapi biasanya, tipikal orang Indonesia (sorry) kan pakai jurus menggabungkan > segala kekuatan dari seluruh penjuru dunia, im dan yang; tanah, air dan api, > untuk mencapai satu tujuan. yaitu menjaga keutuhan UUD (ujung-ujungnya duit), > nah itu baru namanya freeloader. jadi tidak heran kalau kebanyakan lebih > menyenangi opensource ketimbang freesoftware, karena opensource lebih > seperti angin (bisa jadi next avatar) he..he.. >
Sebetulnya bukan hanya orang Indonesia, tapi rata-rata vendor lebih menyenangi opensource karena saking akomodatifnya, bisa dimanfaatkan sedemikian rupa untuk kepentingan usaha. Kalau sempat baca lisensinya satu-satu akan terlihat kepentingan masing-masing dengan membuka kode programnya. Kalau khusus yang terjadi disekitar kita, mungkin pilihan ke opensource bukan karena faktor UUD, tapi memang mungkin salah satu sebabnya adalah istilah itu yang pertama kali didengar, ditambah dengan penjelasan semangat software bebas, jadi seolah-olah keduanya adalah binatang yang sama. > satu hal yang jelas, tatanan bisnis (monopoli/kapitalisme) perangkat lunak, > hanya bisa dilawan dengan freesoftware, bukan opensource. boleh percaya > boleh tidak. > Sukanya kok nglawan aja :-) sekali-kali kompromi gitu hehehe. Gimana kalau frasanya diganti gini: Satu hal yang jelas, untuk Indonesia dalam tatanan institusi maupun dalam praktek, mau tidak mau harus mengadopsi freesoftware. Mengganti tatanan bisnis seperti merubuhkan rumah :-) salah-salah bisa 'kebrukan'. Paling minim akan merasa kesepian, atau merasa jalan sendiri. :-) -- fade2blac -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

