assalamualaikum wr wb. 
  teman teman anggota milis 
   
  saya sekedar menyampaikan pengalaman saya
  dulu waktu masih muda.. 
  kiranya bisa jadi bahan perbandingan dengan yang sekaran..  
  saya sependapat dengan mas Yusuf. 
  bahwa kita harus mengambil hikmah nya
   
  demikian lah pengalaman saya.. 
  tahun 1975 saya lulus sarmud.. 
  dan ditempatkan di ambon.. 
  saat itu di ambon ada KPN dan KKN.. 
  Kanwil nya masih menginduk ke Jayapura  
  saya ditempatkan di KKN.. (kas negara) 
  tugas saya menghandle mesin cash register.. 
  kalau saat ini bisa disamakan dengan seksi persepsi. 
   
  kebetulan ada teman yang bersama saya ditempatkan di Ambon.. 
  (sekarang teman tsb sudah pensiun)
  selain itu ada dua orang lagi teman, 
  yang ditempatkan di sebelah timur Indonesia
  satu di Makasar, satu lagi di Manado.. 
   
  karena kami berempat merupakan teman akrab, 
  teman satu group belajar.. 
  maka kami berempat sepakat, 
  kami akan berangkat naik kapal laut dlm rangka menghemat ongkos. 
  kami menghubungi seorang saudara..yang bekerja di kapal barang.. 
  dan mendapat tempat di kapal nya.. gratis. 
  jadwal pelayaran nya.. tg priok, makasar, manado, ambon. 
  dengan kapal tsb baru 11 hari saya dapat mencapai ambon.. 
   
  namun entah di tentukan lain oleh Yang Diatas.. 
  ternyata pada hari keberangkatan, 
  adik perempuan saya mendapat kecelakaan 
  adik sedang menumpang super bajaj. 
  tau tau bajaj nya diseruduk bus kota.
  alhasil kami berempat yang sudah merupakan sahabat sejati 
  tidak jadi berangkat naik kapal laut.. 
  malam itu kami berempat, 
  semua nya menunggu di RS..
   
  keesokan hari nya teman teman berangkat ketempat tujuan.. naik pesawat. 
  uang untuk transport sudah berkurang, 
  karena semula mengharap gratis naik kapal laut. 
   
  teman yang satu tujuan ke ambon terpaksa pinjam dulu uang.. 
  untuk bisa berangkat lebih awal naik pesawat.  
  seminggu kemudian setelah adik betul betul tidak mengkhawatirkan lagi
  saya berangkat juga naik pesawat.. hutang dulu ke calon istri.. 
   
  teman saya yang sudah berangkat dulu sudah mendapatkan penempatan
  dia di tempatkan di seksi Bank Giro Pos. juga di Kantor Kas Negara.  
   
  tapi dia juga belum mendapat tempat kost.
  katanya karena dia masih menunggu saya.
  dia masih numpang di tempat kost salah satu pegawai lokal.
  dan malam pertama itu, saya pun ikut numpang di tempat dia numpang itu.. 
  itulah malam pertama saya di luar jawa.. 
   
  keesokan hari setelah melapor ke kepala kantor, 
  kami minta izin mencari tempat kos. 
  kami berdua cari cari cari.. 
  akhirnya dapat rumah di kawasan batu meja.
  dirumah seorang pensiunan RRI.. 
  rumah nya tidak begitu baik.. 
  setengah bagian belakang masih dari kayu.. 
  hanya dibagian depan saja yang terbuat dari tembok.. 
  yang rupanya dibangun sendiri oleh si pensiunan 
  kami pilih rumah itu karena letaknya tidak begitu jauh 
  tapi tidak begitu dekat juga dari kantor yang letaknya di jl pattimura
   
  dalam kamar kost kecil cuma ada satu dipan.. 
  kami tidur berdua dalam satu dipan.
  tidak ada kawat nyamuk di kamar kami.. 
  setiap malam minggu kami mengunjungi teman ex jurusan akuntansi
  yang kebetulan ber tiga mendapat satu rumah dinas dua kamar tidur.
  teman teman ex akuntansi hidupnya lebih enak dari kami
  mereka sering kali tugas audit.. dan dapat uang jalan.. 
   
  setiap kali tidur di sana, saya diajak makan malam yang lebih manusiawi
  dan saya juga bisa dengar musik lagu lagu kesukaan 
  yg dipasang di pesawat tape rekorder mereka.. 
  setiap kali tidur disana, karena dipan nya cuma ada tiga.. 
  maka saya tidur di tikar. di rumah itu ada kawat nyamuk.. 
  tapi aneh nya justru teman teman itu yang kena giliran
  satu persatu masuk rumah sakit.. 
  karena mengidap malaria. 
  ANEH ya..kami dari perbendaharaan (dulu Anggaran).. 
  kamar nya tidak ada kawat nyamuk
  tapi malah kami selamat dari malaria. .
  lho lho.. .. setiap minggu kami mengkonsumsi pil KINA.. 
  tidak bosan bosan nya.. minum pil KINA untuk anti MALARIA. 
   
  hanya satu hal yang cukup menyedihkan hati saya 
  uang saku saat itu cuma 17 ribu perbulan.. 
  8 ribu diantaranya untuk bayar kost.. 
  sisa nya untk makan.. dan untuk beli prangko. 
  setiap kali makan nasi ikan bayar 200 rupiah
  setiap hari tulis surat.. kirim nya tiga hari sekali. 
  hanya surat itu lah satu satu nya sarana komunikasi dengan calon istri. 
  satu tahun kemudian turun lah SK CPNS  
   
  yang ingin saya kemukakan disini adalah
  situasi seperti ini.. memang terjadi dari dulu
  bukan hanya sekarang saja.. 
  dan dulu saya bisa tabah.. 
  terimakasih kepada teman2 orang lokal yang membantu
  kadang makan siang di bayari.. '
  sampai saat ini .. 
  saya selalu punya kenangan manis ttg ambon. 
   
  satu kali saya mendapat kesempatan tugas ke ambon.. 
  bisa nostalgia berkunjung ke ambon pada tahun 1991.. 
  saya kunjungi teman teman setelah 15 tahun berpisah
  cerita cerita tentang masa lalu dengan mereka 
  merupakan saat saat yang menggembirakan. 
   
  hari ini kalau mengingat masa lalu masa ketika bertugas di Ambon
  saya sudah bisa mengatakan.. 
  bahwa penempatan saya di ambon waktu itu
  adalah yang dipilihkan oleh ALLAH 
  adalah yang terbaik buat saya..
   
  saya tidak pernah menyesali.. 
  dan sampai saat ini saya merasakan hikmah nya
  bekerja di departemen keuangan. 
   
  demikian dari saya. 
  wassalam 
   
   Yusuf Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Ass.wr.wb.,
janganlah anda terlalu berlebihan dalam hal ini, kan bukan cuma mereka saja 
yang mengalaminya, contohnya angkatan saya (penerimaan sarjana tahun 1996), 
kami mengalami hal yang sama bahkan mungkin jauh lebih menderita dari adik2 
yang baru lulus stan...
saat itu kami langsung di tempatkan di seluruh indonesia dan harus segera 
berangkat walaupun saat itu di bulan puasa (2 minggu lagi lebaran). Selain 
bingung karena belum tahu mau ditugaskan kemana...kalau mau berangkat saat itu 
tiket sangat sulit didapat kalaupun ada harganya tentu sangat mahal... apalagi 
kami hanya di"bekali" dengan selembar surat yang isinya kira-kira "TEMPAT TUGAS 
YANG BARU".
jadi nostalgia nih, tapi yang harus dan patut disyukuri oleh kita semua adalah 
Insya Allah akan ada kejelasan status PNS, saya harapkan terutama kepada adik2 
alumni stan untuk jangan gampang mengeluh/menyerah, dan kalian harus 
mengembangkan diri (sekolah kuliah lagi, tetapi ....."harus buka mata dan 
telinga" dan jangan hanya "buka mulut" apalagi yang berlebihan).
intinya adalah KITA SEMUA HARUS MENSYUKURI NIKMAT (REZEKI) YANG DIBERIKAN 
ALLAH...HADAPILAH SEMUANYA ITU DENGAN BISMILLAH....
sekali lagi saya ucapkan selamat kepada kalian semua, wassalaam 

Untuk mas khobir.....kalau sekolah terus.. lah kapan kerjanya mas.... 
(pa.2.c.kwl.16)


amirsyahya wrote:
Memprihatinkan melihat nasib junior-junior yang sudah melaksanakan 
tugas di daerah-daerah tetapi belum mendapatkan kejelasan status 
CPNS. Walaupun mereka mendapatkan tunjangan kegiatan yang merupakan 
komponen dari TKPKN, namun hal ini belumlah cukup untuk memenuhi 
kebutuhan minimal mereka apalagi untuk meningkatkan kinerja. Apalagi 
di banyak daerah2 tertentu, harga2 lebih mahal dibanding harga normal.
Ada beberapa hal yang mungkin perlu dipertimbangkan oleh pemegang 
otoritas kepegawaian mengenai nasib para kader muda DJPBN tersebut, 
antara lain:

1. Menempatkan pegawai tanpa NIP dan tanpa kepastian kapan akan 
diangkat tidak akan memberi efek yang positif bagi kaderisasi dan 
tidak sesuai dengan lingkungan kerja PNS, karena seyogyanya yang 
bekerja secara formal melayani masyarakat adalah mereka yang memiliki 
otorisasi, dalam hal ini adalah PNS.

2. Menempatkan mereka di daerah2 tanpa penghasilan yang semestinya 
bisa menjadi kontra produktif terhadap usaha pemerintah meningkatkan 
kinerja dan memerangi KKN. Di daerah2 tertentu biasanya harga-harga 
lebih mahal karena faktor distribusi. Para pegawai yang dituntut 
bekerja optimal namun tidak dapat memenuhi kebutuhan normalnya 
apalagi yang merupakan ujung tombak keluarga (yang diharapkan 
membantu keluarga) bisa saja mempunyai kecenderungan untuk memenuhi 
kebutuhannya dengan melakukan KKN. KKN untuk sekadar memenuhi 
kebutuhannya saja mungkin tidak akan berdampak besar pada citra 
kantor, tetapi hal ini bisa menjadi suatu kebiasaan yang makin lama 
makin besar dan sulit dihilangkan yang akhirnya menjadi KKN karena 
kebiasaan yang akan merusak citra DJPBN.

3. Seorang CPNS telah mempunyai hak untuk mendapatkan asuransi 
kesehatan (ASKES). Hal ini sangat membantu seorang pegawai bila 
sewaktu-waktu dalam keadaan sakit, apalagi memerlukan pengobatan 
dengan biaya yang cukup besar seperti harus diopname. Apalagi di 
daerah2 tertentu masih terdapat penyakit2 endemik seperti Malaria, 
Rabies, Typus dsb. yang bisa saja menyerang pegawai yang baru tiba 
ditempat tersebut. Pegawai baru yang ditempatkan di daerah2 sangat 
rentan terkena penyakit2 endemik tersebut (semacam 
reorientasi/pengenalan lingkungan). Tanpa adanya status CPNS/NIP, 
para pegawai baru tidak dapat membuat kartu ASKES yang dapat 
memberikan perlindungan yang cukup memadai apabila terserang penyakit 
atau terjadi kecelakaan dalam rangka melaksanakan tugasnya.

4. Seorang CPNS hanya digaji 80% dan tidak serta merta dapat diangkat 
menjadi PNS. CPNS merupakan masa percobaan. Bila yang bersangkutan 
dengan standar penilaian tertentu (transparant dan jelas), ataupun 
selama CPNS melakukan hal2 yang tercela, atau formasi PNS yang tidak 
ada, CPNS tersebut bisa saja tidak menjadi PNS.

Tidak ada salahnya dan tidak ada ruginya bila memberikan kejelasan 
status (CPNS) bagi pegawai2 baru yang akan diterjunkan ke "medan 
perang" melaksankan tugas2 DJPBN di daerah2. Dengan kejelasan status 
tersebut, para CPNS akan memperoleh penghasilan yang relatif 
mencukupi/memadai selama di daerah dan memiliki perlindungan (ASKES) 
sehingga dapat bekerja dengan tenang dan optimal. Selain itu para 
CPNS juga akan berusaha maksimal memberikan kemampuan yang terbaik 
agar dapat diangkat menjadi PNS.

Satu hal lagi, coba sejenak kita meresapi apa yang mereka 
para "balon" rasakan. Bayangkan saat kita menjadi balon pegawai di 
suatu daerah yang belum pernah kita kunjungi dengan harapan menjadi 
PNS. Bayangkan saat itempat tersebut saat sedang melaksanakan tugas 
tiba2 badan kita meriang dan panas dingin terkena Malaria. Setelah 
diperiksa ternyata terkena malaria stadium 4 dan harus diopname. Apa 
yang bisa dilakukan sang Balon? Gaji belum memadai, askes pun tidak 
punya. Bayangkan bagaimana bila hal seperti ini menimpa anak2 kita, 
saudara kita, bahkan diri kita sendiri. Bayangkanlah!!!

Just For Better DJPBN:






---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.

[Non-text portions of this message have been removed]




Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke