Assalamualaikum Wr Wb 
  Mas Irsyad.. 
   
  tulisan ini betul betul merupakan kisah perjalanan yang komplit 
  sekaligus informatif, 
  khususnya bagi temen2 yang ingin berkunjung ke Pangkalan Bun.
  saya jadi teringat, 
  dulu waktu masih muda.. 
  tidak tau apa apa tentang Indonesia bagian Pelosok.. 
  persis seperti halnya yang Mas Irsyad alami, 
  tidak tau Pangkalan Bun ada di Kalimantan.  
Itulah keuntungan nya kerja di DJPB.. 
  kita jadi tau pelosok se Indonesia.. 
  sekarang saya sudah pernah datang ke semua Pulau Besar di Indonesia. 
  Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.. 
  yang belum pernah justru Timor Timur.. 
  dan itu sangat saya sesalkan..
  kenapa dulu waktu masih jadi wilayah Indonesia, 
  saya tidak berkunjung kesana.. 
  sekarang kalau mau ke Tim Tim.. musti pakai Passport. 
   
  Mengenai Pangkalan Bun.. 
  Maaf mas Irsyad, 
  saya belum pernah masuk kota itu, 
  cuma sempat transit di Pelabuhan Udara
  begini cerita nya.. 
  ketika saya bertugas di Pontianak, 
  ada panggilan rapat di Banjarmasin..
  untuk dapat mencapai banjarmasin hanya ada satu pilihan yaitu transportasi 
Udara..
  itupun harus ke Jakarta dulu dengan pesawat besar.. 
  ada juga pesawat kecil (KALSTAR) yang tidak usah ke jakarta.. 
   
  karena jiwa petualangan, saya pilih pesawat kecil, 
  walaupun harga tiket tidak beda jauh.dibanding pesawat besar.
   
  ternyata naik turun empat kali..
  karena trayek nya adalah sbb 
  Banjarmasin, Sampit, Pangkalan Bun, Ketapang, Pontianak.
  Pesawat nya cukup bagus, 
  dibanding pesawat yang membawa saya dari medan ke Simeulue..
  saya pernah ke Simeulue.. dengan rombongan Menko Perekonomian.. 
  ketika sebelum gempa Tsunamie.. 
  Pesawat dari Medan ke Simeulue ada kampak di dinding ruang Pilot.. 
  Mengerikan sekali.. katanya buat antisipasi kalau pesawat terjun ke laut. .
  Ha ha .. 
   
  Kembali ke cerita Pangkalan Bun.. 
  pada kesempatan ikut KALSTAR itu saya lihat, 
  ada satu orang turis naik dari Pangkalan Bun..
  saya agak heran, kenapa ada turis di pangkalan Bun..
  apakah ada juga yang menarik di Pangkalan Bun?
  atau dia hanya merupakan Pen Pal dari seorang yang berdomisili di Pangkalan 
Bun. 
   
  yang saya dengar, banyak batu kecubung di kota itu.. 
  namun setelah saya wora wiri ngalur ngidul di kalimantan
  barulah saya tau, bahwa pusta batu kecubung sebetulnya ada di KETAPANG. 
  yang di Pangkalan Bun itu pun datang dari KETAPANG (koreksi kalau saya 
salah). 
   
  Mas Irsyad. 
  satu hal yang ingin saya sampaikan .. 
  ini juga boleh buat temen temen yang lain.. 
  Mumpung masih muda.. 
  Mumpung anak masih kecil kecil.. 
  Gunakan kesempatan itu untuk BERKELANA.. 
  Ber kelana ke seantero NUSANTARA sangat mengasyikan..
  kita bisa tau adat istiadat di kampung sana.. di kampung sini.. 
   
  Cuma jangan lupa.. 
  beli tanah di home base kita..
  banyak temen yang keenakan berkelana, tau tau lupa beli tanah  
  jangan lupa, supaya nanti kalau sudah mau pensiun.. 
  diatas tanah itu sudah ada rumah yang kita tuju..
   
  bagus sekali tulisan nya mas Irsyad.. 
  terimakasih karena membuat saya teringat kembali ke masa muda.. 
  wassalam 
    
   
     
     
mi_84213 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Ketika saya memperoleh kabar dimutasi ke KPPN Pangkalan Bun, tanggapan
saya biasa saja. Soalnya sudah pernah mengalami penempatan pertama di
luar Jawa. Cuma masalahnya saya nggak tahu Pangkalan Bun itu di mana?
Setelah browsing di internet akhirnya dapet juga info tentang
Pangkalan Bun. Ternyata Pangkalan Bun adalah ibu kota Kabupaten
Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sebelumnya saya kira Pangkalan
Bun itu ada di Sumatra, karena ketika kabar mutasi sudah santer, saya
berharap kalau kena mutasi ya ke Sumatra. Tapi Allah SWT berkendak
lain, sehingga saya terdampar di Kalimantan Tengah. Saya asli Jawa
Tengah, lulus prodip ditempatkan pertama kali di Sulawesi Tengah
(Palu). Kayaknya dapetnya yang tengah2 terus. Memang kalau ditengah
kesannya enak. Inget kuliah, kalau absen kita pas di tengah tentu
dapat giliran pertengahan juga. Nggak bakalan giliran pertama.

Oke, kembali ke Pangkalan Bun. Ada apa di Pangkalan Bun? Pakai apa
kita Pangkalan Bun? Kota macam apakah pangkalan Bun? dan sederet
pertanyaan akan muncul ketika informasi belum kita dapatkan. Awalnya
saya hanya dapatkan info kalau ke Pangkalan Bun Bisa langsung lewat
Semarang. Karena letaknya di peta memang di atas Semarang serong
dikit. Bisa naik kapal atau pesawat. Kalau naik pesawat harga tiket
lumayan mahal. Sekitar 700 ribu. Maskapai ada dua satu Deraya Air
Service (DAS) sering diplesetkan Danger Air Service yang ini muatnya
30 org. Satu lagi KAL Star, muat 50 org. Psw masih pake baling2. Untuk
kapal laut ada banyak cuma waktu itu saya nggak kepikiran nail kapal.

Setelah dipikir2, ditimbang2, akhirnya nggak jadi berangkat lewat
semarang. Lewat Jakarta saja transit Palangka Raya. Walaupun ini masih
buta juga infonya. Soalnya setelah sampai Palangka Raya mau naik apa
ke Pangkalan Bun juga nggak tahu. AKhirnya saya putuskan berangkat
hari Rabu tgl 20 Sept 2006 setelah dapet temen yg sama2 mutasi ke
Pangkalan Bun. Tapi temen yg sati ini nggak lama di P Bun, karena
sudah berhasil pindah ke Biro Humas depkeu. Sampai di Palangka Raya
kami mapir dulu ke kanwil. Di sini kami dapet info untuk ke Pangkalan
Bun bisa naik Bus. Jalan lumayan bagus. Ada beberapa yang rusak. Tapi
secara umum perjalanan lancar, soalnya bisa tidur pulas. Sampai di
Pangkalan Bun Jam 3. lama perjalanan10 jam.

Setelah sekian lama di Pangkalan Bun, informasi soal transportasi
makin lengkap. Ada beberapa alternatif rute untuk ke Pangkalan Bun.

Kalau via Jakarta transit Palangka raya, ada Batavia dan Sriwijaya
yang tiap hari ada jadwalnya. Trus Palangka-Pangkalan Bun Bisa naik
Bus. Ada beberapa armada, PO Yesoe AC dan non AC ukuran Bus standar
spt di Jawa. Ada PO Candi Agung, tapi yg ini nggak ada AC nya,
Kemudian PO Logos, sekarang sudah ada AC nya. Lama Perjalanan rata2 10
jam. Kecuali kalau ada musibah jalan rusak parah atau jembatan putus,
bisa 24 jam. Terpakasa Nginap di hutan. Nggak ada warung. Jadi
perbekalan harus ada.
Kalau via Semarang ada dua alternatif Lewat udara atau laut. Yang
lewat udara sudah saya ceritakan di depan. Cuma masih ketinggalan satu
lagi. Bisa juga ikutan pesawat TNI AU. Tapi yg ini jadwalnya sebulan
dua kali. Pekan Pertama dan ketiga. Kalau yang ini bisa naik dari
Halim, atau Adi Sucipto Yogya atau Adi Sumamarmo Solo. Untuk jelasnya
kalao mau naik ini kontak dulu Pangkalan TNI AU. Ongkosnya lebih
murah. Cuma tempat duduknya tdk senyaman maskapai swasta. Duduk
berhadap2 an kayak angkot. Tapi jangan kawatir ada sabuk pengamannya.
Kalau dari Halim-Pangkalan bun atau sebaliknya ongkos 610 ribu. Tapi
kalau lewat kru pesawat bisa lebih murah lagi. Kemarin ketika ngajak
istri ke P Bun ongkos per org 400 ribu saja. 

Kalau lewat laut ada beberapa alternatif. Ada kapal Pelni dan kapal
swasta. Kapal pelni ada dua; Binaiya dan Egon. Untuk Binaiya lama
perjalanan 20 jam, untuk Egon (kapal cepat) bisa 16-18 jam tergantung
maunya Nahkoda. Untuk kenyamanan, ya seperti itulah kualitas Pelni.
Kapal Swasta ada dua armada. KM Dharma Kencana dan KM Senopati. Tapi
untuk yg terakhir sudah dicabut ijinnya karena ada yang tenggelam
beberapa waktu yg lalu. Jenis kapalnya RoRo, ukuran lebih kecil,
jalannya juga lebih lambat sekitar 24-27 jam. Kalau ombak lagi besar
sebaiknya jangan naik yang ini. Bisa Mabok...

Bisa juga lewat Surabaya dengan kapal yang sama seperti halnya dari
Semarang. Untuk tarif tergantung kelas, antara 100 rb sampai 400 an ribu.

demikian, sekedar informasi. Barangkali ada yang mau main. ATau suatu
saat nanti di pindah ke sini bisa bermanfaat.







Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke