"amirsyahya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Misal, gol.IId, TKPKN sebelum renumerasi KL Rp1,5jt. Setelah > Renumerasi ada 3 kemungkinan grade (kalo gak salah: 7=2,3jt ; 8=2,6jt > dan 9=2,8jt). Bila diberikan grade bawah (7=2,3jt) maka ada kenaikan > TKPKN Rp800ribu rupiah. Hal ini terlepas (belum memperhitungkan > performance atau standar penilaian job grade) dari apa yang banyak > ditakutkan oleh banyak pegawai, yaitu subjektifitas. > > Yang paling dikorbankan dengan adanya renumerasi baru ini (bila sudah > diterapkan) adalah pegawai tugas belajar khususnya D4 STAN, mengapa? > Karena D4 STAN tidak mendapatkan tunjangan belajar, penelitian, uang > buku, dsb. sebagaimana yang diperoleh beasiswa S1/S2 internal DJPBN. > > Berikut penjelasannya dari seorang teman saya (pegawai tugas belajar > DJPBN golongan IId) telah mengadakan kalkulasi seandainya renumerasi > jadi diterapkan: > > Gaji sebelum tugas belajar: > -Gaji: Gaji bersih+Tunjangan Umum+Uang Makan (kurang lebih)= > 1,4jt + 0,18jt + 0,22jt = Rp1,8jt > Gaji setelah tugas belajar (Tanpa tunjangan umum dan uang makan) > =1,4jt > > TKPKN Before Renumerasi:Rp1,510jt > TKPKN After Renumerasi > (Asumsi grade bawah gol.IId X 50%)=50%XRp2,3jt = Rp1,15Jt > ------------------------------------------------------------- > Berkurang =Rp395ribu > > Total Revenue: > -Sebelum tugas belajar: 1,8jt + 1,51jt = Rp3,31jt > -Setelah tugas belajar: 1,4jt + 1,15jt = Rp2,15jt > ------------------------------------------------------- > Berkurang =Rp1,15jt > > Biaya utama pengeluaran Bila Tidak Kuliah (including istri & anak)= > -Kontrak Rumah > -Belanja sehari2 > -Susu anak > -Listrik, PAM, pulsa HP > -Biaya lain2 (misal: tak terduga, dokter, Imunisasi, dsb) > > Biaya utama setelah kuliah: > -Kontrak Rumah > -Belanja sehari2 > -Susu anak > -Listrik, PAM, pulsa HP > -Biaya lain2 (misal: tak terduga, dokter, Imunisasi, dsb) > -Biaya2 Kuliah (buku2, foto copy, paper, internet, komputer dsb.) > (Bayangkan saja: Untuk membajak sebuah buku terbitan luar negeri / > fotocopy:) bisa menghabiskan Rp100.000,- Kalo beli harga sebuah > buku antara Rp200rb Rp1,5jt. Thanx alot to penemu mesin > fotocopy:) dan setiap materi kuliah (per semester minimal 6 mata > kuliah) menggunakan referensi 2 hingga 4 buku.) > > Kesimpulan: > Selama tugas belajar, banyak pengeluaran ekstra dan butuh dana lebih > banyak dibandingkan sewaktu bekerja/tidak kuliah. > Jadi, tidak ada dasarnya bila ada orang lain/pejabat yang berkata > (kurang lebih): "Enak ya disekolahin, sudah gratis, gaji TC dapat > full lagi!!! > > Pertanyaan: > -Apa ada yang perduli dengan nasib pegawai tugas belajar??? > -Apa yang harus dilakukan? > > Usulan: > -Kalo memang diperlakukan renumerasi sesuai grade, maka untuk tugas > belajar diusulkan agar diberi grade yang tertinggi, sehingga saat > dipotong 50% tidak akan banyak berkurang dan tidak terlalu mengurangi > kesejahteraan pegawai tugas belajar. Misal: bila tugas belajar > gol.IId dapat grade tinggi (9), TKPKN Rp2,8jt maka yang diterima 50% > nya yaitu= Rp1,4jt jadi gak terlalu membuat shock pegawai tugas > belajar. Bandingkan bila diberi grade bawah atau tengah!!!! > > -Setelah tugas belajar, para pegawai diberikan grade yang bawah lagi > untuk kemudian diberikan penilaian kembali secara periodik sehubungan > dengan prestasi kerjanya. > > -Kalau perlu, pegawai tugas belajar membuat surat pernyataan > bermaterai yang isinya bersedia menerima grade bawah saat sudah tidak > dalam tugas belajar (lulus or DO). > > Masalahnya, APA ADA YANG PERDULI???? > > mengingat kembali beberapa postingan yang lalu tentang ceramah2 > pejabat2 DJPBN bahwa (kurang lebih) "TIDAK ADA PEGAWAI YANG AKAN > DIRUGIKAN" maka kondisi yang saya ceritakan di atas adalah FAKTA > bahwa MEMANG ADA PEGAWAI YANG DIRUGIKAN. > > Pertanyaan akhirnya adalah: > OMONGAN or CERAMAH SIAPA LAGI YANG BISA PARA BAWAHAN PERCAYAI??? > > Apa perlu: SELAMATKAN DIRI ANDA MASING2!!! > Tambah bingung??? > > NB: > -Secara teori: Tes masuk D4 harus bersaing dengan seluruh lulusan D3 > dari Departemen Keuangan seluruh Indonesia. > > -Secara teori: Tes masuk S1 internal DJPBN harus bersaing dengan > seluruh lulusan D3 lingkup DJPBN seluruh Indonesia. > > -Please jangan ada comment bersabar dan bersyukur:) Think > Comprehensively!!! > > Mengapa ada diskriminasi??? > But the way: Siapa lagi or apa ada yang perduli??? >
ESN: hehehehe... bang Amir yang nyelekit, sudah diuraikan secara panjang lebar oleh teman2 yg lain, it's not always about the money, coba abang Amir bayangkan kami yang di papua ini untuk pulang ke pulau jawa harus merogoh kocek kurang sebesar 4 juta minimal untuk pulang, jadi kalo dipikir2 4 bulan potongan TC jika tugas belajar, jadi kita kerja 4 bulan hanya untuk pulang mungkin paling lama seminggu :) di jawa, itu juga mungkin udah menambah sendiri jatah cuti alias bolos tapi kalo kita tugas belajar, kita bisa pulang setiap minggu coy :) (kalo kita mau) dengan anggaran yang jauh lebih murah dan kuantitas lebih sering, belum lagi biaya hidup di papua yang muahaaal dibandingkan dengan biaya hidup dan kemudahan2 di jawa... jauh bang!!! :) o iya kalo kita sekolah sendiri, kita juga harus membayar biaya pendidikan (dengan waktu yg sama) plus Penyetaraan ijasah (kalo lulus, kalo ga lulus tunggu tahun depan dan ujian lagi) dulu sebelum bisa diakui di Depkeu, nah bisa bayangkan kita sudah menghemat waktu (bisa tahunan lho...) yang lebih banyak dengan Tugas Belajar dibandingkan Ijin Belajar Sendiri hanya untuk dapat TC penuh :) kalo yang abang amir permasalahan kenapa TC Tugas Belajar lebih sedikit dibanding TC bekerja, sederhana aja bang karena "RESIKO DAN TANGGUNGJAWAB TUGAS BELAJAR LEBIH KECIL DARI BEKERJA" kan Gaji kita tidak dipotong :) dan memang intinya remunerasi ini kan memperlakukan diskriminasi (dalam arti baik, bukan Pinter Goblok Penghasilan Sama), kalo kita tugas belajar kita dapet libur semester lah, libur puasa, dan segala macam, emang kalo kita kerja dapet fasilitas2 semacam itu??dan jam kerja kan ga sama dengan jam belajar ...hehehe (jujur aja saya rasa juga tidak adil kalau yang Tugas Belajar mendapat TC 100 %) oke, dan yang terakhir, ada kalo 1000 PEJABAT TIDAK PEDULI dan 2 PEJABAT PEDULI menurut abang Amir masih ada PEJABAT yang peduli ga?? dan kalau ada 10.000 PEJABAT TIDAK MIKIRIN NASIB PELAKSANA dan ada 1 PEJABAT MEMPERJUANGKAN NASIB PELAKSANA, menurut bang amir masih ada PEJABAT yang peduli ga?? kalo menurut saya jawabannya, MASIH ADA!!!! ga selalu "what u see is what u get" bang, di dalam satu komunitas/organisasi/sistem pasti ada 'the good guys and the bad guys'(dan biasanya jagoannya pasti lebih sedikit dari penjahat hehehe...), lha kalo bang amir jadi pemimpin (ga usah jauh2 kepala kantor aja) apa bang amir bisa jamin semua bawahan bang amir beres, sehat, ga nakal, ga bandel???dan jika bandel apa bang amir bisa langsung menetralisirnya??? hehehe....we're all just human bang, tapi daripada nanti dikira ceramah...mending disudahi aja deh nih postingan makan lalap pake pare mohon maap kalo rada gimaneee... Salam Damai dari Serui ESN
