Thanks atas dukungannya. Uraian anda memang benar adanya merupakan keprihatinan saya. Terus terang saya ingin mengajak kita semua (bukan hanya planner) untuk mencoba melihat realitas yang saya contohkan tersebut. Betul tidak tata ruang kota-kota kita disusun "hanya" dengan matematika SD semata? Mungkin jumlah 10an dokumen yang saya lihat belum bisa mewakili ratusan kota/kabupaten yang ada di Indonesia. Mohon pendapat dari anda-anda semua.
Ya benar.... Saya menggugat itu semua. Pendidikan Perencanaan Kota dan Wilayah di Indonesia akan masuk pada usia 50 tahun nanti tahun 2009. Puaskah kita dengan hasil yang sudah dicapai? Salam, Roos Akbar Research Group in Urban Planning and Design School of Architecture, Planning and Policy Development Institute of Technology Bandung email: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Salam kepada semua rekan ysh, > > Intermezzo...... > Saya ingin menanggapi sentilan Pak Roos ttg pertanyaan > di bawah: > > > Bisa ndak dengan kursus 2 hari seseorang mendapat > > sertifikasi sebagai > > planner? dst > > Saya menafsirkan pertanyaan itu sebagai apakah memang > pantas apabila seseorang mendapat sertifikasi sebagai > perencana setelah mengikuti kursus 2 hari, walaupun > orang tsb tidak memiliki latar belakang pendidikan > perencanaan sebelumnya..... > > He... he... he... he... Pak Roos, saya juga sudah lama > 'nggumun-nggumun' tentang hal ini. Bukannya ingin > mengeksklusifkan planner, karena toh sebenarnya > perencana tidak eksklusif. Tapi hati saya miris kalau > apa yang saya pelajari selama 5 tahun (he... he... > he.. sebenarnya bukan 5 tahun sih, tapi saya perlu 6,5 > tahun untuk menyelesaikan pendidikan saya di institusi > pendidikan yang pernah dipimpin Pak Roos), bisa > disetarakan dengan lulusan program studi lain yang > kemudian dengan pengalamannya bekerja di konsultan > atau praktek perencanaan lainnya (tanpa ada penilaian > apakah hasil dari praktek perencanaannya merupakan > suatu hasil perencanaan yang baik) kemudian bisa > mendapat sertifikasi perencana dengan ikut kursus 2 > atau 3 hari, he... he... he... Rasanya saya agak nggak > 'mudeng', he... he... he.. Saya yang berpikir salah, > atau sistem itu yang salah he... he... he.. kalo > sistem itu yang salah, mengapa hanya saya yang bingung > melihatnya he... he... he... Atau memang sedemikian > mudahnya pekerjaan perencanaan sehingga semua sarjana > dari berbagai disiplin ilmu bisa menjadi perencana > hanya dengan kursus singkat 2-3 hari, setelah dia > memiliki 'pengalaman' praktek perencanaan. > > Tapi kalau pekerjaan perencanaan sedemikian mudah, kok > nggak ada kota kita di Indonesia yang terrencana > dengan baik. Nah loh.... makin pusing lagi saya..... > > Tapi untungnya saya menemukan posting Pak Roos yang > memiliki kegelisahan yang sama. Jadi saya nggak > terlalu berpikir bahwa saya yang salah, karena > setidaknya sekarang ada dua orang yang bingung melihat > sistem itu, he... he... he... Apalagi salah satu orang > tsb cukup berbobot. > > Sekali lagi, saya tidak bermaksud untuk > mengeksklusifkan planner, tetapi sekedar > berpikir-pikir mana yang kurang benar. Saya atau > sistem itu? > > Mohon tanggapan dari rekan-rekan semua. > > Salam, > > Fadjar FHM > PWK Undip > > --- Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED] > <mailto:rakbar%40bdg.centrin.net.id>> wrote: > > > pak BTS ysh, > > Saya tambah "sedikit" ya..... > > Sama juga hanya untuk intermezo saja :-) > > > > Belakangan ini saya sering menyampaikan dalam setiap > > kesempatan bahwa > > pekerjaan penyusunan RTRW dan sebagainya itu tidak > > lebih dari > > menggunakan matematika anak SD :-( . > > Ya. Saya dimarahi oleh beberapa rekan planner karena > > saya > > menyampaikannya kadang dalam seminar dsb. Tapi itu > > dapat saya > > pertanggungjawabkan karena saya menemukannya dalam > > sekitar 10an dokumen > > penataan ruang (walaupun tidak sistematis). > > > > Contohnya begini: > > Kota A tahun 2000 luas lahan perumahan 100 HA, tahun > > 2005 luasnya 150 HA. > > Maka planner kemudian mengatakan bahwa dalam kurun > > waktu 5 tahun terjadi > > penambahan 50 HA, sehingga rata-rata pertahun > > penambahannya 10 HA. > > Berdasarkan standard, setiap HA itu sekian > > penduduknya, maka 5 tahun ke > > depan dihasilkannyalah luas perumahan dan jumlah > > penduduk kota tersebut > > (atau dengan proyeksi penduduk). Dengan merujuk pada > > standard "yang ada" > > maka dihasilkannyalah jumlah SD, SMP, rumah sakit > > dsb. > > > > Ya itulah hasilnya. > > Apa itu salah? Apa salah bahwa dalam kurun 5 tahun > > itu penambahan lahan > > perumahan sebesar 50 HA? > > Kalau anda-anda menjawab itu tidak salah, maka saya > > bertanya: Buat apa > > ada pendidikan Planologi 4 tahun? > > Bukankah cukup dengan matematika anak SD kita > > bisamenjawab semua itu? > > > > Silakan diteruskan karena pertanyaan saya bisa > > menjadi panjang seperti > > siapa itu planner? > > Bisa ndak dengan kursus 2 hari seseorang mendapat > > sertifikasi sebagai > > planner? dst > > > > Salam, > > Roos Akbar > > Research Group in Urban Planning and Design > > School of Architecture, Planning and Policy > > Development > > Institute of Technology Bandung > > email: [EMAIL PROTECTED] <mailto:rakbar%40pl.itb.ac.id>; > > [EMAIL PROTECTED] <mailto:rakbar%40bdg.centrin.net.id> > > > > > > > > Bambang Tata Samiadji wrote: > > > > > > DATA PENDUDUK > > > > > > Ysh rekan referensier. Intermezo saja. > > > > > > - Release Date: 7/1/2007 12:19 PM > > > > > > > __________________________________________________________ > Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's > Comedy with an Edge to see what's on, when. > http://tv.yahoo.com/collections/222 <http://tv.yahoo.com/collections/222> > > > ------------------------------------------------------------------------ > > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.14/884 - Release Date: 7/2/2007 3:35 > PM >

