Pak Aby dan pak Abi,
Saya pernah memasang rumpon di selatan pelabuhan ratu (50 mil) pada tahun 2002 
dengan harapan para nelayan bisa memperoleh penghasilan lebih banyak, mereka 
tidak perlu memburu, cukup nongkrong disana memancing di sekitar rumpon. Karena 
rumpon harus dijaga jadi nelayan bergantian memancing. Penghasilan memang 
meningkat tetapi tidak sebanding dengan biaya membuat rumpon dan bahan bakar. 
Ternyata para nelayan yang biasanya berangkat pagi pulang sore tidak betah 
tinggal di sekitar rumpon, mereka hanya mau memancing selama beberapa jam saja, 
padahal perkiraan kita mereka akan memancing selama kurang lebih dua hari 
supaya dapat ikan yang banyak. Perjalanan ke rumpon cukup jauh sekitar 5 jam.
Saya juga pernah menawarkan agar sepanjang perbatasan ita dengan negara 
tetangga dipasang rumpon saja, agar nelayan kita tidak ada yang melampaui batas 
negara sehingga tidak seperti kejadian ditangkap polisi malaysia dan australia. 
Batas rumpon ini juga supaya setiap saat ada nelayan kita yang menjaga 
perbatasan sehingga issue ikan kita dicolong bisa hilang.
 Salam
Aunur Rofiq



----- Original Message ----
From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 12, 2008 6:51:08 AM
Subject: Re: [referensi] Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia

Pak Hengky ysh,

Kaget juga disebut-sebut, pasti ada maksud.
Tapi betul sekali, kalau sebagai pemilik laut nusantara, kita perlu mengubah 
cara hidup sebagai "pemburu" (pengeksploitasi, pemermiskin) menjadi sebagai 
"pembudi daya" (penghasil, pemelihara, pengembang-biak, produsen, pemerkaya). 
Itu juga yang saya sampaikan kerekan di perikanan tangkap waktu beliau baru 
mulai menjabat. 

Pemburu asing mencuri kekayaan kita untuk kepentingan sendiri tanpa peduli 
kembali tidaknya ekosistem kita. Pemburu di negeri sendiri sangat tidak beradab 
apabila pikirannya cuma memperkaya generasinya sendiri (demi meningkatkna 
pertumbuhan ekonomi kelautan sebagai pengganti ekonomi daratan yang sudah habis 
dimakan, dijarah atau dijual) dengan tidak menyisakan harapan/kelangsungan 
hidup sumber daya alam sendiri bagi generasi penerusnya.

Walaupun menggunakan jaring "ramah lingkungan" yang jarang-jarang sehingga ikan 
kecil lolos tidak ikut terperangkap, ikan tetap bisa stress lho. akibatnya 
menurut ahlinya bisa ga mau makan, minum, sakit hingga mati, apalagi berkembnag 
biak. Perlu waktu jeda untuk "recovery" antar waktu "berburu" ikan. artinya, 
sebagai "pemburu"pun kalau ditanah-air milik sendiri kita harus memberi 
kesempatan untuk flora-fauna kita kembali berkembang sampai tingkat berlebih 
sehingga ada yang layak diburu. Artinya, konsep berburu ditanah-air sendiri 
harus berubah menjadi "pembudi daya" dalam arti yang luas. Artinya juga, tata 
ruang laut kita juga harus jelas, mana waktu-ruang (tempat dan batas periode 
pemanfaatan hasil) setiap jenis "kekayaan" (pinjaman Allah) spesies maupun 
mineral dll kita yang boleh dimanfaatkan hingga tingkat tertentu dan mana yang 
pada waktu-ruang tersebut ditahan dulu penggunaannya. dsb, dst.

Mengenai rumpon, sekitar 5-10 th lalu saya pernah membaca (saya lupa bukunya) 
hasil studi di Asia Timur/Asia Tenggara yang menunjukkan bahwa dinegara-negara 
tetangga telah demikian banyak pembuatan rumpon/sarang buatan untuk habitat 
ikan di perairan pesisir mereka. Dan di Indonesia waktu itu cuma 1 (SATU) yang 
tercantum dipeta dan tulisannya, yaitu tempat pembuangan beca di Utara DKI 
Jakarta.....Betapa menjedihkan bahwa anugerah laut dan ikan yang kita miliki 
ternyata ikut terabaikan/termarginalkan (seperti nasib nelayan, manusia yang 
hidup daripadanya).  Padahal sepertiga protein dunia dapat diperoleh dari hasil 
laut tersebut.

yah, sekian dulu obrolan warung kopi ini.....

Ongkowijoyo



On Thu, Jun 12, 2008 at 9:11 AM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
 
Pak Risfan, pak Abimanyu, mas Djarot, mas Dwi, mas Adjie, Cak Andrie, mbak 
Mardiyah, mas Piliang, pak Onnos dan milisters serta moderators semuanya ysh, 
Yuk sekarang pada main belajar pelihara  ikan....hehe..... kalau saya sih sudah 
lumayan hobi berat juga diikan...hehe..
 
Sekarang ini bukan hanya TKI kita saja yang tertarik datang ke 
Malaysia....ikan-ikan  kitapun sudah pada  mulai ikutan juga lho........ 
Sejumlah nelayan di Belawan mulai menjual kapalnya menyusul tekanan ekonomi 
yang kuat akhir-akhir ini..... 
Kondisi nelayan yang terpuruk semakin menjadi pascakenaikan harga BBM. Mereka 
juga mengkhawatirkan mulai masuknya ikan impor dari Malaysia ke Belawan........
Anto (48), seorang anak buah kapal yang ditemui Kompas, Rabu (11/6) di Gudang 
Arang, Belawan I, mengatakan, kapal biasa dijual Rp 8 juta. "Itu contohnya. 
Kapal itu mau dijual," tunjuk Anto ke sebuah kapal kayu berwarna hijau yang 
bersandar di kawasan Gudang Arang........
Ketua Sarikat Masyarakat Pesisir Medan Syafruddin (40) yang ditemui di Gudang 
Arang, Belawan I, mengatakan, sekitar lima nelayan di kawasan Belawan I sudah 
menawarkan kapalnya......... 
Problem utamanya karena ekonomi yang semakin terpuruk, entah terlilit utang 
atau semakin tidak bisa bergerak pascakenaikan harga BBM.......
Jika tidak sangat terdesak, nelayan tak akan menjual alat produksinya..... 
Mereka juga harus berpikir ulang ketika berganti kerja di darat. "Biasanya lalu 
menjadi ABK saja," kata Syafruddin yang pernah menjadi eksportir ikan itu....
Menurut Syafruddin, kenaikan harga bahan bakar minyak hanya satu faktor yang 
membuat nelayan Belawan semakin terpuruk......... 
Masalah utama nelayan adalah semakin berkurangnya ikan di kawasan perairan 
Selat Malaka di Wilayah Indonesia karena rusaknya rumpon atau tempat berkembang 
biak ikan........
Andak Ruslan (58), nelayan warga Belawan I, mengatakan, nelayan di Belawan I 
sudah membuat enam titik rumpon seberat masing-masing 20 ton di kawasan 
Langkat. "Namun, idealnya di Pantai Timur dibuat sedikitnya 5.000 rumpon baru," 
kata Andak.......
Rumpon, kata Andak, akan menghemat bahan bakar minyak sampai 50 persen. Selama 
ini nelayan perlu melaut sejauh 80 mil hingga perbatasan Malaysia untuk 
mendapat ikan. Dengan rumpon, tak perlu jauh-jauh melaut dan area yang dituju 
sudah jelas.........
Ini yang sudah dilakukan Malaysia yang membangun 7.000 titik rumpon di Selat 
Malaka. "Maka, ikan-ikan Indonesia pergi ke sana," tutur Andak..... 
Ikan gembung dan selayar yang banyak di Malaysia kini bahkan sudah masuk ke 
Indonesia..........
 
Maaf kalau salah, dalam pengamatan saya....sepertinya budaya eksploitasi 
agraris kita... baik kehutanan, peternakan atau perikanan kita tidak dimulai 
dari budaya "menanam pakan dan atau menyiapkan habitatnya" lebih dulu .. tetapi 
langsung dimulai dengan budaya semacam  kejar, buru dan babat.....
Padahal budidaya menyiapkan pakan dan habitat (baik untuk manusia, hewan atau 
tanaman) itu sangat menarik lho......
Akh... mudah-mudahan habis ini Malaysia tak lalu  menanam rumput hijau 
dipantainya  .....saya khawatir nanti sapi-sapi kita pada dengar..... dan dari 
Dumai atau Bagan Siapi-api mereka nanti  pada berenang nyeberang kesana.... 
hehe... maaf bercanda....
 
Salam,
aby
 
(bahan dari WSI/ Kompas)
 
 


      

Kirim email ke