pak Ono, pak Aunur Rofiq dan mailister ysh,

Mungkin saya pernah singgung tentang nelayan Indonesia (dan yang dimasukkan
dalam kategori nelayan) yang amat sangat beragam di mailist ini atau di
tempat lain. Juga jenis pantai atau pesisir (daratan maupun lautnya)
beragam. Tentu sukar disamakan antara nelayan laut Selatan Pulau Jawa yang
semula petani atau pendatang dari daerah lain dengan gelombang lautnya yang
sangat besar dengan di daerah lain. Demikian juga jenis rumpon yang sesuai
ekosistem setempat tidak selalu sesuai dengan ekosistem yang lain. Bagi
nelayan bagan di pantai utara Jawa hinggga kedaerah semacam, atau jermal di
Sumatera, tinggal malam hari untuk mendapatkan ikan sejenis teri dll lebih
disukai daripada melaut. Berbeda juga antara pembudi-daya tritib, nelayan
harian, 2 - 3 mingguan di laut, atau nelayan samodera yang bulanan.

Demikian juga konsep budi daya juga tidak sesederhana memelihara ikan di
kolam atau ditambak (yang bahkan nerusak mangrove karena picuan secara top
down tahun 1980-an). Konsep budi daya dapat juga termasuk mengatur
waktu-ruang penangkapan ikan nelayan samudera atau nelayan besar. Artinya
tidak sekadar memburu pertumbuhan ekonomi yang lupa diri namun berbasis
pemberian peluang recovery per waktu-ruang ketersediaan dan masa pembesaran
ikan di laut. Bukan target produksi dan nilai ekonomi ukurannya tetapi
keberlanjutannya.

Di AS, organisasi perikanan laut Pasifik/pantai Barat setempat juga sudah
memahami bagaimana menjaga kelestarian "habitat" ikan, bahkan hingga yang
bertelurnya jauh ke daratan. Masalah peracunan air sungai, dampak
pembangunan Dam, polusi minyak di laut, hingga pemanasan global merupakan
bagian dari kepentingan, kepedulian dan keterlibatan mereka.

Di Bali-Lombok, Arsitek Jerman (sudah almarhum) pernah membuat struktur di
dalam air yang dia sebut "arsitektur laut" yang berfungsi sebagai
tempat pencakokan dan pengembangan terumbu karang setelah bencana pemutihan
karang, yang berfungsi sekaligus sebagai rumpon di perairan dangkal
setempat, masih bertahan hingga sekarang. Artinya, pengertian rumpon dapat
beragam pula, termasuk kapal yang tenggelam hingga bagian dari bangunan atau
perairan pulau buatan di tengah laut. Tentu ini berbeda dengan pendekatan
konservasi yang hanya melihat perkembangan alami.

Tentang membangun di wilayah perbatasan, saya kira tidak semudah itu. Laut
di perbatasan tidak semua dangkal dan layak sebagai lingkungan buatan.
Pulau-pulau mikro dan mini setempat juga tidak semua layak huni dan layak
layar, sehingga selain marinir yang memang ditugasi untuk menjaga setempat,
mungkin dibeberapa lokasi tertentu sukar dimukimi tanpa subsidi pemerintah
secara penuh untuk keberlangsungan kehidupan mereka. Itu pula yang membuat
saya resah kalau ada penggusuran masyarakat laut "demi" taman laut
nasional", untuk dipindah kedarat atau pulau yang semakin terpencil tanpa
merasa bertanggung jawab untuk membiayai kerugian ekologis dan
antropologis masyarakat laut tersebut (termasuk memindahkan permukiman
masyarakat Bugis ke pulau Sebira nun jauh di ujung Utara DKI Jakarta
(mungkin lebih dari 20 mil laut) demi kawasan wisata dan konservasi biota
laut, tanpa perhatian dan perlindungan ketika mereka mengalami masalah di
laut lepas. Pembangunan Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan
Malaysia saja seperti pembangunan jalan antara wilayah Metropolitan
(Malaysia) dengan perdesaan (Indonesia). Tentu saja masyarakat perbatasan
akan lebih happy kalau mencari hidup ditetangga dekatnya daripada saudara
yang sekali kunjungan perlu beberapa hari perjalanan melalui gelombang
tinggi atau rimba belantara.

Tentu cerita ini agak didramatisasi agar ada sedikit sentuhan ke hati
(sedikit) planner (semoga) yang tahunya cuma beberapa mil laut dari pulau
Jawa plus kota-kota besar di dunia saja, plus aliran dollar ke
kantongnya.......(biar dream jadi nightmare....hi hi hi)

salam,

Abimanyu

On 6/13/08, Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Bapak/Ibu ysh,
> Ikut nimbrung urun rembug tentang pelihara ikan, walaupun saya bukan ahli
> perikanan, tetapi kebetulan pernah kecemplung di DKP selama 7,5 tahun.
> Menurut apa yang saya lihat dilapangan dan baca sana sini, sepertinya akan
> sulit mengubah pola kehidupan nelayan tangkap yang kerjanya dilaut lepas
> (tradisional atau modern) untuk menjadi nelayan petani atau pembudidaya yang
> kerjanya menunggu panen ikan dari tambak atau rumpon.
> Mungkin secara ekonomi kita dapat menghitung sulitnya jadi nelayan tangkap,
> apalagi dengan melejitnya harga BBM saat ini, bila dibandingkan nelayan
> petani/pembudidaya yang tidak perlu melaut dengan kapal/perahunya. Namun,
> pola hidup yang biasa mengarungi laut dan bebas bergerak, mungkin kalau
> disuruh diam berhenti nungguin tambak/rumpon dan harus sabar akan jenuh ?
> Atau keahlian mereka perlu diubah ? Mungkin keahlian melaut perlu dipupuk
> terus karena ada unsur keberanian disitu yang kita sebut bangsa bahari !
> Hal ini mungkin menarik untuk didalami oleh para antropolog & psikolog
> sosial, hasilnya dapat dipakai oleh para ekonom dll untuk memberdayakan
> masyarakat pesisir/nelayan.
> Wassalam,
> Onnos
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> To: [email protected]
> From: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Fri, 13 Jun 2008 00:11:17 -0700
> Subject: Re: [referensi] Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
>
>   Pak Aby dan pak Abi,
> Saya pernah memasang rumpon di selatan pelabuhan ratu (50 mil) pada tahun
> 2002 dengan harapan para nelayan bisa memperoleh penghasilan lebih banyak,
> mereka tidak perlu memburu, cukup nongkrong disana memancing di sekitar
> rumpon. Karena rumpon harus dijaga jadi nelayan bergantian memancing.
> Penghasilan memang meningkat tetapi tidak sebanding dengan biaya membuat
> rumpon dan bahan bakar. Ternyata para nelayan yang biasanya berangkat pagi
> pulang sore tidak betah tinggal di sekitar rumpon, mereka hanya mau
> memancing selama beberapa jam saja, padahal perkiraan kita mereka akan
> memancing selama kurang lebih dua hari supaya dapat ikan yang banyak.
> Perjalanan ke rumpon cukup jauh sekitar 5 jam.
> Saya juga pernah menawarkan agar sepanjang perbatasan ita dengan negara
> tetangga dipasang rumpon saja, agar nelayan kita tidak ada yang melampaui
> batas negara sehingga tidak seperti kejadian ditangkap polisi malaysia dan
> australia. Batas rumpon ini juga supaya setiap saat ada nelayan kita yang
> menjaga perbatasan sehingga issue ikan kita dicolong bisa hilang.
>
> Salam
> Aunur Rofiq
>
> ----- Original Message ----
> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, June 12, 2008 6:51:08 AM
> Subject: Re: [referensi] Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
>
> Pak Hengky ysh,
>
> Kaget juga disebut-sebut, pasti ada maksud.
> Tapi betul sekali, kalau sebagai pemilik laut nusantara, kita perlu
> mengubah cara hidup sebagai "pemburu" (pengeksploitasi, pemermiskin) menjadi
> sebagai "pembudi daya" (penghasil, pemelihara, pengembang-biak, produsen,
> pemerkaya). Itu juga yang saya sampaikan kerekan di perikanan tangkap waktu
> beliau baru mulai menjabat.
>
> Pemburu asing mencuri kekayaan kita untuk kepentingan sendiri tanpa peduli
> kembali tidaknya ekosistem kita. Pemburu di negeri sendiri sangat tidak
> beradab apabila pikirannya cuma memperkaya generasinya sendiri (demi
> meningkatkna pertumbuhan ekonomi kelautan sebagai pengganti ekonomi daratan
> yang sudah habis dimakan, dijarah atau dijual) dengan tidak menyisakan
> harapan/kelangsungan hidup sumber daya alam sendiri bagi generasi
> penerusnya.
>
> Walaupun menggunakan jaring "ramah lingkungan" yang jarang-jarang sehingga
> ikan kecil lolos tidak ikut terperangkap, ikan tetap bisa stress lho.
> akibatnya menurut ahlinya bisa ga mau makan, minum, sakit hingga mati,
> apalagi berkembnag biak. Perlu waktu jeda untuk "recovery" antar waktu
> "berburu" ikan. artinya, sebagai "pemburu"pun kalau ditanah-air milik
> sendiri kita harus memberi kesempatan untuk flora-fauna kita kembali
> berkembang sampai tingkat berlebih sehingga ada yang layak diburu. Artinya,
> konsep berburu ditanah-air sendiri harus berubah menjadi "pembudi daya"
> dalam arti yang luas. Artinya juga, tata ruang laut kita juga harus jelas,
> mana waktu-ruang (tempat dan batas periode pemanfaatan hasil) setiap jenis
> "kekayaan" (pinjaman Allah) spesies maupun mineral dll kita yang boleh
> dimanfaatkan hingga tingkat tertentu dan mana yang pada waktu-ruang tersebut
> ditahan dulu penggunaannya. dsb, dst.
>
> Mengenai rumpon, sekitar 5-10 th lalu saya pernah membaca (saya lupa
> bukunya) hasil studi di Asia Timur/Asia Tenggara yang menunjukkan bahwa
> dinegara-negara tetangga telah demikian banyak pembuatan rumpon/sarang
> buatan untuk habitat ikan di perairan pesisir mereka. Dan di Indonesia waktu
> itu cuma 1 (SATU) yang tercantum dipeta dan tulisannya, yaitu tempat
> pembuangan beca di Utara DKI Jakarta.....Betapa menjedihkan bahwa anugerah
> laut dan ikan yang kita miliki ternyata ikut terabaikan/termarginalkan
> (seperti nasib nelayan, manusia yang hidup daripadanya).  Padahal sepertiga
> protein dunia dapat diperoleh dari hasil laut tersebut.
>
> yah, sekian dulu obrolan warung kopi ini.....
>
> Ongkowijoyo
>
>
> On Thu, Jun 12, 2008 at 9:11 AM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
>
>  *Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia*
>
> Pak Risfan, pak Abimanyu, mas Djarot, mas Dwi, mas Adjie, Cak Andrie, mbak
> Mardiyah, mas Piliang, pak Onnos dan milisters serta moderators semuanya
> ysh,
> Yuk sekarang pada main belajar pelihara  ikan....hehe..... kalau saya sih
> sudah lumayan hobi berat juga diikan...hehe..
>
> Sekarang ini bukan hanya TKI kita saja yang tertarik datang ke
> Malaysia....ikan-ikan  kitapun sudah pada  mulai ikutan juga lho........
> Sejumlah nelayan di Belawan mulai menjual kapalnya menyusul tekanan ekonomi
> yang kuat akhir-akhir ini.....
> Kondisi nelayan yang terpuruk semakin menjadi pascakenaikan harga BBM.
> Mereka juga mengkhawatirkan mulai masuknya ikan impor dari Malaysia ke
> Belawan........
> Anto (48), seorang anak buah kapal yang ditemui Kompas, Rabu (11/6) di
> Gudang Arang, Belawan I, mengatakan, kapal biasa dijual Rp 8 juta. "Itu
> contohnya. Kapal itu mau dijual," tunjuk Anto ke sebuah kapal kayu berwarna
> hijau yang bersandar di kawasan Gudang Arang........
> Ketua Sarikat Masyarakat Pesisir Medan Syafruddin (40) yang ditemui di
> Gudang Arang, Belawan I, mengatakan, sekitar lima nelayan di kawasan Belawan
> I sudah menawarkan kapalnya.........
> Problem utamanya karena ekonomi yang semakin terpuruk, entah terlilit utang
> atau semakin tidak bisa bergerak pascakenaikan harga BBM.......
> Jika tidak sangat terdesak, nelayan tak akan menjual alat produksinya.....
> Mereka juga harus berpikir ulang ketika berganti kerja di darat. "Biasanya
> lalu menjadi ABK saja," kata Syafruddin yang pernah menjadi eksportir ikan
> itu....
> Menurut Syafruddin, kenaikan harga bahan bakar minyak hanya satu faktor
> yang membuat nelayan Belawan semakin terpuruk.........
> Masalah utama nelayan adalah semakin berkurangnya ikan di kawasan perairan
> Selat Malaka di Wilayah Indonesia karena rusaknya rumpon atau tempat
> berkembang biak ikan........
> Andak Ruslan (58), nelayan warga Belawan I, mengatakan, nelayan di Belawan
> I sudah membuat enam titik rumpon seberat masing-masing 20 ton di kawasan
> Langkat. "Namun, idealnya di Pantai Timur dibuat sedikitnya 5.000 rumpon
> baru," kata Andak.......
> Rumpon, kata Andak, akan menghemat bahan bakar minyak sampai 50 persen.
> Selama ini nelayan perlu melaut sejauh 80 mil hingga perbatasan Malaysia
> untuk mendapat ikan. Dengan rumpon, tak perlu jauh-jauh melaut dan area yang
> dituju sudah jelas.........
> Ini yang sudah dilakukan Malaysia yang membangun 7.000 titik rumpon di
> Selat Malaka. "Maka, ikan-ikan Indonesia pergi ke sana," tutur Andak.....
> Ikan gembung dan selayar yang banyak di Malaysia kini bahkan sudah masuk ke
> Indonesia..........
>
> Maaf kalau salah, dalam pengamatan saya....sepertinya budaya eksploitasi
> agraris kita... baik kehutanan, peternakan atau perikanan kita tidak dimulai
> dari budaya "menanam pakan dan atau menyiapkan habitatnya" lebih dulu ..
> tetapi langsung dimulai dengan budaya semacam  kejar, buru dan babat.....
> Padahal budidaya menyiapkan pakan dan habitat (baik untuk manusia, hewan
> atau tanaman) itu sangat menarik lho......
> Akh... mudah-mudahan habis ini Malaysia tak lalu  menanam rumput hijau
> dipantainya  .....saya khawatir nanti sapi-sapi kita pada dengar..... dan
> dari Dumai atau Bagan Siapi-api mereka nanti  pada berenang nyeberang
> kesana.... hehe... maaf bercanda....
>
> Salam,
> aby
> **
> *(bahan dari WSI/ Kompas)*
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> Enrich your blog with Windows Live Writer. Windows Live 
> Writer<http://get.live.com/writer/overview>
>
> 
>

Kirim email ke