Rekan-rekan,
Menyambut seloroh pak Aby, saya kira perusahaan-perusahaan besar di negara kita
juga masih menggunakan prinsip primitif "buru, tangkap" alias eksploitasi
SDA tanpa upaya pengelolaan yang sustainable.
Masalah pengawalan perairan, dengan kapal yang jumlahnya terbatas, kecepatan
jelajahnya terbatas. Sehingga soalnya hanya kucing-kucingan dengan petugas.
Asal tahu bocoran frekuensi radionya, mereka mudah sekali mengelabui petugas.
Ibarat pedagang kaki lima yang dapat bocoran jadwal patroli satpol PP. Jadi
bukan soal modal, tapi soal niat baik yang tidak ada.
Mengenai nasib nelayan, seperti usaha mikro. Ya begitulah. Atau bahkan seperti
PKL, kalau garis pantai sudah diisi budi-daya usaha menengah (aquaculture,
rumput laut) kalau gak ati-ati bisa "terusir" mereka. Ini memerlukan
kepedulian, agar masing-masing tidak hanya mengurusi "program" masing-masing.
Normatifnya tentu perlu perencanaan komprehensif, sinergis. Tapi kenyataannya
repot karena tiap rencana, program dari tiap pihak punya TOR dan schedule
masing-masing. Jadi yang praktis sajalah, yang penting "peduli" dan menghormati
daerah dan komunitas lokal, karena pada merekalah sebetulnya efetivitas tiap
program/kegiatan diuji.
Mengenai kekuatiran pencurian oleh tetangga, itu hanya membuktikan hukum
gravitasi. Ada medan magnet yang menarik, maka larilah ikan, kayu, buruh,
capital, intelektual, karya cipta, dst ke sana. Toh habis teriak maling
terbukti tidak ada action penyelamatan aset negeri. Kalau bicara konsep
center-periphery, tahulah kita yang mana pusat, yang mana hinterland
('terbelakang') nya.
Belakangan ini saya harus membaca beberapa buku bisnis & manajemen yang
ditulis ilmuwan Kawasan Asia Tenggara ini. Banyak dibahas strategi 'rejeki
nomplok' dengan membeli perusahaan-perusahaan di nusantara, terutama bidang
prasarana, bidang explotasi SDA, termasuk perikanan yang sedang kesulitan
cash-flow, lalu menjualnya lagi dengan harga berlipat.
Sementara pikiran kita tersita sengketa pilkada, konflik elit yang memprovokasi
massa, dan pembagian BLT yang selalu ricuh. Gitu saja kok repot........
Salam,
Risfan M.
--- On Fri, 6/13/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [plbpm] Re: Tradisi? Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, June 13, 2008, 9:52 PM
Pak Eka ysh,
Benar bahwa batas laut kita dengan Malaysia ada yang ‘hanya’ 11.5 mil (didepan
pulau Karimun).. atau sebaliknya dekat Port Klang batas laut pihak Malaysia
sendiri juga lumayan sempit..... tetapi dipihak kita keutara (barat
laut) selepas Rupat dan Bagansiapiapi. .....mulai dari LabuanBatu,
Tanjungbalai, Belawan, Pangkalanbrandan, Langsa terlebih LhokSeumawe. ......
batas laut kita itu sangat melebar mencapai 80mil bahkan lebih....... ..
Bahwa diperairan selat Malaka...... .... memang budaya adalah budaya.. atau
tradisi adalah tradisi..... ialah terdapat tradisi/ budaya menangkap ikan oleh
nelayan secara turun temurun.....
Namun karena nelayan tradisional kita (bercampurdengan pengusaha ikan UKM
bermodal) terus-menerus melanjutkan begitu saja budaya atau tradisi
‘buru dan tangkap’ masa lalu itu “tanpa penyesuaian”. ... seperti mulai
terdapat faktor overpopulasi. ... hingga jumlah nelayan meningkat... .... lalu
faktor modernisasi jaring sampai pernah dipakai ’pukat harimau’ yang lalu
dilarang itu ......belum lagi kalau dipakai pula model bahan peledak yang lalu
merusak ekologi laut........ sangat kurang terdapat ‘jeda penangkapan
ikan’ dan jeda ’rehabilitasi’ ....... tentu saja secara matematik populasi ikan
lama-lama kalah pertumbuhannya dengan peningkatan frekwensi
penangkapannya. ....
Belum lagi kata pak Abimanyu.... .walau tak lagi dipakai pukat harimau
...... tapi ikan-ikan kecil walau sempat lolos dari jaring...... tak urung
mereka menderita stress berat juga atau cedera .... bisa nggak doyan makan,
sakit lalu mati.......merasaka n terserempet jaring atau tertabrak ikan-ikan
besar dalam jumlah banyak yang berontak karena terjerat jaring...... .,
ekologinya terusak juga oleh jaring raksasa..... dsb....
Bahwa menurut anda jalan keluarnya adalah :
“.......meningkatkan kegiatan perikanan bagi nelayan pantai timur dengan
membantu menyediakan kapal-kapal bermotor ukuran besar sehingga mampu berlayar
lebih jauh dan lebih lama, dan lebih ke utara hingga ke barat......”
Saya sih setuju saja ....... itu artinya pemberian kredit kapal oleh lembaga
keuangan.... .. yang ia atau tidaknya tergantung kepada penilaian kelayakan
lembaga keuangan, karena pertimbangan mereka sering njlimet juga, mereka
pikirkan asuransi segala ......... lalu sebagai kapal besar konsumsi
solarnya juga sekarang semakin berat....... budaya ‘kapal layar’ dengan tenaga
gerak angin semakin kurang.... sehingga kalau semuanya serba
kapitalisitik begitu .... apakah nelayan kecil mampu menembus kelayakan
penilaian oleh lembaga keuangan .. saya nggak tahu........ .
Kalau soal “mengamankan wilayah perbatasan” untuk pelanggarannya. ...... saya
kira itu sih mungkin juga... tetapi barangkali sebatas “melaporkan kepada
TNI-AL”..... sebab kalau harus ‘duel’ dengan pelanggar batas sedang
sipelanggar kapalnya lebih besar dan bersenjata.. ... tentu nelayan kita
mikir dulu..... kecuali pelanggarnya sekedar sepasang muda-mudi atau ABG dengan
perahu kecil ..... mungkin mereka bisa tangani sendiri tanpa
TNI-AL.....
Kalau soal ‘perompakan’ saya ‘no comment’ deh ya.. hehe....
Tetapi saya kira pengembangan ‘budaya baru’ atau ‘budaya logis‘ pembangunan
berkelanjutan ...seperti ‘rumponisasi ‘.. apalagi orang Belawan sendiri
mengatakan “perlu mengembangkan 5000 titik rumpon” dan mereka
baru kembangkan “6/ enam titik rumpon seberat 20 ton” (whalahh) ......
maka itu menunjukkan bahwa masyarakat nelayan disana setidaknya paham dan sadar
juga bahwa budaya / budidaya perikanan berkelanjutan bukanlah sekedar
budaya perikanan “buru, kejardan tangkap saja”...... namun juga budaya
perikanan “jeda tangkap, rehabilitasi dan tentu saja......rumpon” .... Selain
kampanye “1 juta pohon”... saya kira perlu juga setidaknya ”kampanye nasional
tanam 100.000 rumpon” dilaut...... ..
Saya kira creativity untuk perluasan kesempatan kerja perlu terus dikembangkan
dan dipandang penting ...... demikian juga faktor2 pendukung sukses pembangunan
seperti KB, pemberantasan korupsi... dsb......
Selamat berakhir pekan dan salam,
aby
ekadj06 <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Recent Activity
1
New MembersVisit Your Group
Yahoo! Search
Start Searching
Find exactly
what you want.
All-Bran
10 Day Challenge
Join the club and
feel the benefits.
Health Groups
for people over 40
Join people who are
staying in shape.
.