Pak Aby dan rekans, Saya sih setuju dengan ungkapan pak Aby ....pada prinsipnya pemerintah harus......Karena biasanya swasta yang disalahkan. Padahal 'rakus' itu kan persepsi. Itupun tidak berarti melanggar peraturan. Yang masalah adalah kenapa diberi ijin. Sudah jelas peruntukannya 'hijau' kok diijinkan dibangun 'kuning atau merah', tapi kalau ijin sudah dikantongi, maka apa salah si swasta? Lha kalau kemudian dibahas pemerintahnya lemah atau kalah karena (satu dan lain alasan, takanan atasan dst.). Ya, ini yang perlu dibahas, melalui bahasan kebijakan publik, peningkatan kualitas manajemen pelayanan, proses advokasi dst. Dengan demikian diskusi tidak terus-terusan bicara normatif, lalu ...swasta selalu disebut serakah dan dijadikan kambing hitam penyimpangan tata ruang. Sementara tujuan penataan ruang a.l. disebut untuk mengundang investor. Kan ambivalen namanya. Saya setuju dengan pak Aby, bahwa kota (eh dari pantai geser ke kota ini?) selalu butuh peran usaha mikro. Tapi pemerintah kota dalam perencanaannya kelihatannya kok belum. Contoh ekstremnya, di kawasan perkantoran yang relatif paling elit, sekitar Sidirman atau Kuningan. Pada karyawan berdasi dan wangi, kalau makan siang ya di kaki lima, karena mampunya ya itu. Ada salah asumsi, yang menganggap kalau berkantor disitu, berdasi gajinya mesti cukup makan di restoran tiap hari. Mengenai 'ruang' untuk usaha mikro, informal, PKL apakah memang ada ya dalam RTRW formal? Kalau memang ada, bagaimana ya memperkirakan kebutuhan ruangnya, karena sektor informal ini kan ada pasang-surut dan ganti berganti jenis usahanya, seiring situasi dan peluang. Salam, Risfan Munir
--- On Sat, 6/14/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [plbpm] Re: Garis Pantai Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date: Saturday, June 14, 2008, 9:02 AM Halo pak Risfan ysh, trims atas tanggapannya. .....sudah balik ke jkt?........ . Saya sih tidak paham tentang kebijakan pengkaplingan garis pantai ...... tetapi sebagaimana pengembangan sistem kota bahkan kota metropolitan sekalipun... .. saya kira pada prinsipnya pemerintah harus selalu wajib mengkonservasikan ruang bagi sikecil dan atau simiskin ..... dan sekali-sekali tak boleh swasta dengan segala cara semacam model Artalyta begitu lalu pihak swasta dibiarkan mendikte para otoritas keruangan kita dan menjadikannya silau..... lalu semua ruang-ruang strategis nasional kita itu baik dimetropolitan, megapolitan atau dipantai-pantai yang indah negeri ini habis dikuasai swasta...... ...... Peran sikecil baik dalam perekonomian kota besar .....maupun dalam pariwisata pantai yang indah ---tempat dimana para industrialis properti menjadi sangat rakus ingin menguasai ruang strategis--- cukuplah besar....... Anda tak mungkin dapat membayangkan kehidupan kota besar dan pariwisata pantai tanpa kehadiran sikecil..... ...Ruang atau kapling bagi sikecil adalah wajib hukumnya ......terlebih simiskin masih mayoritas dinegeri ini....... Tak boleh terjadi mayoritas sikecil selalu tersisih oleh sekelompok minoritas developers penguasa ruang dengan hanya pola pikir komersialisme. ...... Dikota sikecil hanya berada dikawasan kumuh atau tinggal jauh diluar kota dan tiap hari harus berangkat kekota dengan duduk diatap kereta karena kemiskinan .....atau nelayan dipantai yang indah sekali lagi mereka tersisih... tinggal jauh dari pesisir dan hanya mendapat sedikit ruang sempit digaris pantai sekedar tempat melintas dari rumah ketempat perahu ditambat.... ....lalu nelayan sekali lagi menjadi 'orang asing' dipesisir yang indah yang dikuasai swasta rakus komersial ............ . salam, aby Risfan M <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Rekan-rekan, Menyambut seloroh pak Aby, saya kira perusahaan-perusaha an besar di negara kita juga masih menggunakan prinsip primitif "buru, tangkap" alias eksploitasi SDA tanpa upaya pengelolaan yang sustainable. Masalah pengawalan perairan, dengan kapal yang jumlahnya terbatas, kecepatan jelajahnya terbatas. Sehingga soalnya hanya kucing-kucingan dengan petugas. Asal tahu bocoran frekuensi radionya, mereka mudah sekali mengelabui petugas. Ibarat pedagang kaki lima yang dapat bocoran jadwal patroli satpol PP. Jadi bukan soal modal, tapi soal niat baik yang tidak ada. Mengenai nasib nelayan, seperti usaha mikro. Ya begitulah. Atau bahkan seperti PKL, kalau garis pantai sudah diisi budi-daya usaha menengah (aquaculture, rumput laut) kalau gak ati-ati bisa "terusir" mereka. Ini memerlukan kepedulian, agar masing-masing tidak hanya mengurusi "program" masing-masing. Normatifnya tentu perlu perencanaan komprehensif, sinergis. Tapi kenyataannya repot karena tiap rencana, program dari tiap pihak punya TOR dan schedule masing-masing. Jadi yang praktis sajalah, yang penting "peduli" dan menghormati daerah dan komunitas lokal, karena pada merekalah sebetulnya efetivitas tiap program/kegiatan diuji. Mengenai kekuatiran pencurian oleh tetangga, itu hanya membuktikan hukum gravitasi. Ada medan magnet yang menarik, maka larilah ikan, kayu, buruh, capital, intelektual, karya cipta, dst ke sana. Toh habis teriak maling terbukti tidak ada action penyelamatan aset negeri. Kalau bicara konsep center-periphery, tahulah kita yang mana pusat, yang mana hinterland ('terbelakang' ) nya. Belakangan ini saya harus membaca beberapa buku bisnis & manajemen yang ditulis ilmuwan Kawasan Asia Tenggara ini. Banyak dibahas strategi 'rejeki nomplok' dengan membeli perusahaan-perusaha an di nusantara, terutama bidang prasarana, bidang explotasi SDA, termasuk perikanan yang sedang kesulitan cash-flow, lalu menjualnya lagi dengan harga berlipat. Sementara pikiran kita tersita sengketa pilkada, konflik elit yang memprovokasi massa, dan pembagian BLT yang selalu ricuh. Gitu saja kok repot........ Salam, Risfan M. --- On Fri, 6/13/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [plbpm] Re: Tradisi? Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia To: [EMAIL PROTECTED] ups.com, [EMAIL PROTECTED] com Date: Friday, June 13, 2008, 9:52 PM Pak Eka ysh, Benar bahwa batas laut kita dengan Malaysia ada yang ‘hanya’ 11.5 mil (didepan pulau Karimun).. atau sebaliknya dekat Port Klang batas laut pihak Malaysia sendiri juga lumayan sempit..... tetapi dipihak kita keutara (barat laut) selepas Rupat dan Bagansiapiapi. .....mulai dari LabuanBatu, Tanjungbalai, Belawan, Pangkalanbrandan, Langsa terlebih LhokSeumawe. ...... batas laut kita itu sangat melebar mencapai 80mil bahkan lebih....... .. Bahwa diperairan selat Malaka...... .... memang budaya adalah budaya.. atau tradisi adalah tradisi..... ialah terdapat tradisi/ budaya menangkap ikan oleh nelayan secara turun temurun..... Namun karena nelayan tradisional kita (bercampurdengan pengusaha ikan UKM bermodal) terus-menerus melanjutkan begitu saja budaya atau tradisi ‘buru dan tangkap’ masa lalu itu “tanpa penyesuaian”. ... seperti mulai terdapat faktor overpopulasi. ... hingga jumlah nelayan meningkat... .... lalu faktor modernisasi jaring sampai pernah dipakai ’pukat harimau’ yang lalu dilarang itu ......belum lagi kalau dipakai pula model bahan peledak yang lalu merusak ekologi laut........ sangat kurang terdapat ‘jeda penangkapan ikan’ dan jeda ’rehabilitasi’ ....... tentu saja secara matematik populasi ikan lama-lama kalah pertumbuhannya dengan peningkatan frekwensi penangkapannya. .... Belum lagi kata pak Abimanyu.... .walau tak lagi dipakai pukat harimau ...... tapi ikan-ikan kecil walau sempat lolos dari jaring...... tak urung mereka menderita stress berat juga atau cedera .... bisa nggak doyan makan, sakit lalu mati.......merasaka n terserempet jaring atau tertabrak ikan-ikan besar dalam jumlah banyak yang berontak karena terjerat jaring...... ., ekologinya terusak juga oleh jaring raksasa..... dsb.... Bahwa menurut anda jalan keluarnya adalah : “.......meningkatkan kegiatan perikanan bagi nelayan pantai timur dengan membantu menyediakan kapal-kapal bermotor ukuran besar sehingga mampu berlayar lebih jauh dan lebih lama, dan lebih ke utara hingga ke barat......” Saya sih setuju saja ....... itu artinya pemberian kredit kapal oleh lembaga keuangan.... .. yang ia atau tidaknya tergantung kepada penilaian kelayakan lembaga keuangan, karena pertimbangan mereka sering njlimet juga, mereka pikirkan asuransi segala ......... lalu sebagai kapal besar konsumsi solarnya juga sekarang semakin berat....... budaya ‘kapal layar’ dengan tenaga gerak angin semakin kurang.... sehingga kalau semuanya serba kapitalisitik begitu .... apakah nelayan kecil mampu menembus kelayakan penilaian oleh lembaga keuangan .. saya nggak tahu........ . Kalau soal “mengamankan wilayah perbatasan” untuk pelanggarannya. ...... saya kira itu sih mungkin juga... tetapi barangkali sebatas “melaporkan kepada TNI-AL”..... sebab kalau harus ‘duel’ dengan pelanggar batas sedang sipelanggar kapalnya lebih besar dan bersenjata.. ... tentu nelayan kita mikir dulu..... kecuali pelanggarnya sekedar sepasang muda-mudi atau ABG dengan perahu kecil ..... mungkin mereka bisa tangani sendiri tanpa TNI-AL..... Kalau soal ‘perompakan’ saya ‘no comment’ deh ya.. hehe.... Tetapi saya kira pengembangan ‘budaya baru’ atau ‘budaya logis‘ pembangunan berkelanjutan ...seperti ‘rumponisasi ‘.. apalagi orang Belawan sendiri mengatakan “perlu mengembangkan 5000 titik rumpon” dan mereka baru kembangkan “6/ enam titik rumpon seberat 20 ton” (whalahh) ...... maka itu menunjukkan bahwa masyarakat nelayan disana setidaknya paham dan sadar juga bahwa budaya / budidaya perikanan berkelanjutan bukanlah sekedar budaya perikanan “buru, kejardan tangkap saja”...... namun juga budaya perikanan “jeda tangkap, rehabilitasi dan tentu saja......rumpon” .... Selain kampanye “1 juta pohon”... saya kira perlu juga setidaknya ”kampanye nasional tanam 100.000 rumpon” dilaut...... .. Saya kira creativity untuk perluasan kesempatan kerja perlu terus dikembangkan dan dipandang penting ...... demikian juga faktor2 pendukung sukses pembangunan seperti KB, pemberantasan korupsi... dsb...... Selamat berakhir pekan dan salam, aby ekadj06 <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Recent Activity 1 New MembersVisit Your Group Yahoo! Search Start Searching Find exactly what you want. All-Bran 10 Day Challenge Join the club and feel the benefits. Health Groups for people over 40 Join people who are staying in shape. .

