milister ysh, tambahan:...yang biru mau diapakan.....?. jangan jangan dijadikan coklat (sampah) atau hitam (polusi minyak)
wasalam, Abimanyu 2008/6/14 Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>: > Pak Aby dan rekans, > > > > Saya sih setuju dengan ungkapan pak Aby ....pada prinsipnya pemerintah > harus......Karena biasanya swasta yang disalahkan. Padahal 'rakus' itu kan > persepsi. Itupun tidak berarti melanggar peraturan. Yang masalah adalah > kenapa diberi ijin. Sudah jelas peruntukannya 'hijau' kok diijinkan dibangun > 'kuning atau merah', tapi kalau ijin sudah dikantongi, maka apa salah si > swasta? > > > > Lha kalau kemudian dibahas pemerintahnya lemah atau kalah karena (satu dan > lain alasan, takanan atasan dst.). Ya, ini yang perlu dibahas, melalui > bahasan kebijakan publik, peningkatan kualitas manajemen pelayanan, proses > advokasi dst. Dengan demikian diskusi tidak terus-terusan bicara normatif, > lalu ...swasta selalu disebut serakah dan dijadikan kambing hitam > penyimpangan tata ruang. Sementara tujuan penataan ruang a.l. disebut untuk > mengundang investor. Kan ambivalen namanya. > > > > Saya setuju dengan pak Aby, bahwa kota (eh dari pantai geser ke kota ini?) > selalu butuh peran usaha mikro. Tapi pemerintah kota dalam perencanaannya > kelihatannya kok belum. Contoh ekstremnya, di kawasan perkantoran yang > relatif paling elit, sekitar Sidirman atau Kuningan. Pada karyawan berdasi > dan wangi, kalau makan siang ya di kaki lima, karena mampunya ya itu. Ada > salah asumsi, yang menganggap kalau berkantor disitu, berdasi gajinya mesti > cukup makan di restoran tiap hari. > > > > Mengenai 'ruang' untuk usaha mikro, informal, PKL apakah memang ada ya > dalam RTRW formal? Kalau memang ada, bagaimana ya memperkirakan kebutuhan > ruangnya, karena sektor informal ini kan ada pasang-surut dan ganti berganti > jenis usahanya, seiring situasi dan peluang. > > > > > > Salam, > > *Risfan Munir* > > > > > > > > > > --- On *Sat, 6/14/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [plbpm] Re: Garis Pantai Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon > Malaysia > To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED] > Date: Saturday, June 14, 2008, 9:02 AM > > Halo pak Risfan ysh, > trims atas tanggapannya. .....sudah balik ke jkt?........ . > Saya sih tidak paham tentang kebijakan pengkaplingan garis pantai ...... > tetapi sebagaimana pengembangan sistem kota bahkan kota metropolitan > sekalipun... .. saya kira pada prinsipnya pemerintah harus selalu wajib > mengkonservasikan ruang bagi sikecil dan atau simiskin ..... dan > sekali-sekali tak boleh swasta dengan segala cara semacam model Artalyta > begitu lalu pihak swasta dibiarkan mendikte para otoritas keruangan kita dan > menjadikannya silau..... lalu semua ruang-ruang strategis nasional kita itu > baik dimetropolitan, megapolitan atau dipantai-pantai yang indah negeri ini > habis dikuasai swasta...... ...... > Peran sikecil baik dalam perekonomian kota besar .....maupun dalam > pariwisata pantai yang indah ---tempat dimana para industrialis properti > menjadi sangat rakus ingin menguasai ruang strategis--- cukuplah > besar....... > Anda tak mungkin dapat membayangkan kehidupan kota besar dan pariwisata > pantai tanpa kehadiran sikecil..... ...Ruang atau kapling bagi sikecil > adalah wajib hukumnya ......terlebih simiskin masih mayoritas dinegeri > ini....... > Tak boleh terjadi mayoritas sikecil selalu tersisih oleh sekelompok > minoritas developers penguasa ruang dengan hanya pola pikir komersialisme. > ...... > Dikota sikecil hanya berada dikawasan kumuh atau tinggal jauh diluar kota > dan tiap hari harus berangkat kekota dengan duduk diatap kereta karena > kemiskinan .....atau nelayan dipantai yang indah sekali lagi mereka > tersisih... tinggal jauh dari pesisir dan hanya mendapat sedikit ruang > sempit digaris pantai sekedar tempat melintas dari rumah ketempat perahu > ditambat.... ....lalu nelayan sekali lagi menjadi 'orang asing' dipesisir > yang indah yang dikuasai swasta rakus komersial ............ . > > salam, > aby > > > *Risfan M <[EMAIL PROTECTED] com>* wrote: > > Rekan-rekan, > > Menyambut seloroh pak Aby, saya kira perusahaan-perusaha an besar di negara > kita juga masih menggunakan prinsip primitif "buru, tangkap" alias > eksploitasi SDA tanpa upaya pengelolaan yang sustainable. > > Masalah pengawalan perairan, dengan kapal yang jumlahnya terbatas, > kecepatan jelajahnya terbatas. Sehingga soalnya hanya kucing-kucingan dengan > petugas. Asal tahu bocoran frekuensi radionya, mereka mudah sekali > mengelabui petugas. Ibarat pedagang kaki lima yang dapat bocoran jadwal > patroli satpol PP. Jadi bukan soal modal, tapi soal niat baik yang tidak > ada. > > Mengenai nasib nelayan, seperti usaha mikro. Ya begitulah. Atau bahkan > seperti PKL, kalau garis pantai sudah diisi budi-daya usaha menengah > (aquaculture, rumput laut) kalau gak ati-ati bisa "terusir" mereka. Ini > memerlukan kepedulian, agar masing-masing tidak hanya mengurusi "program" > masing-masing. > > Normatifnya tentu perlu perencanaan komprehensif, sinergis. Tapi > kenyataannya repot karena tiap rencana, program dari tiap pihak punya TOR > dan schedule masing-masing. Jadi yang praktis sajalah, yang penting "peduli" > dan menghormati daerah dan komunitas lokal, karena pada merekalah sebetulnya > efetivitas tiap program/kegiatan diuji. > > Mengenai kekuatiran pencurian oleh tetangga, itu hanya membuktikan hukum > gravitasi. Ada medan magnet yang menarik, maka larilah ikan, kayu, buruh, > capital, intelektual, karya cipta, dst ke sana. Toh habis teriak maling > terbukti tidak ada action penyelamatan aset negeri. Kalau bicara konsep > center-periphery, tahulah kita yang mana pusat, yang mana hinterland > ('terbelakang' ) nya. > > Belakangan ini saya harus membaca beberapa buku bisnis & manajemen yang > ditulis ilmuwan Kawasan Asia Tenggara ini. Banyak dibahas strategi 'rejeki > nomplok' dengan membeli perusahaan-perusaha an di nusantara, terutama bidang > prasarana, bidang explotasi SDA, termasuk perikanan yang sedang kesulitan > cash-flow, lalu menjualnya lagi dengan harga berlipat. > > Sementara pikiran kita tersita sengketa pilkada, konflik elit yang > memprovokasi massa, dan pembagian BLT yang selalu ricuh. *Gitu saja kok > repot*........ > > Salam, > Risfan M. > > > > > --- On *Fri, 6/13/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>* wrote: > > From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: [plbpm] Re: Tradisi? Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com, [EMAIL PROTECTED] com > Date: Friday, June 13, 2008, 9:52 PM > > Pak Eka ysh, > > Benar bahwa batas laut kita dengan Malaysia ada yang 'hanya' 11.5 mil > (didepan pulau Karimun).. atau sebaliknya dekat Port Klang batas laut pihak > Malaysia sendiri juga lumayan sempit..... tetapi dipihak kita keutara > (barat laut) selepas Rupat dan Bagansiapiapi. .....mulai dari LabuanBatu, > Tanjungbalai, Belawan, Pangkalanbrandan, Langsa terlebih LhokSeumawe. ...... > batas laut kita itu sangat melebar mencapai 80mil bahkan lebih....... .. > > Bahwa diperairan selat Malaka...... .... memang budaya adalah budaya.. atau > tradisi adalah tradisi..... ialah terdapat tradisi/ budaya menangkap ikan > oleh nelayan secara turun temurun..... > Namun karena nelayan tradisional kita (bercampurdengan pengusaha ikan UKM > bermodal) terus-menerus melanjutkan begitu saja budaya atau tradisi > 'buru dan tangkap' masa lalu itu "tanpa penyesuaian". ... seperti mulai > terdapat faktor overpopulasi. ... hingga jumlah nelayan meningkat... .... > lalu faktor modernisasi jaring sampai pernah dipakai 'pukat harimau' yang > lalu dilarang itu ......belum lagi kalau dipakai pula model bahan peledak > yang lalu merusak ekologi laut........ sangat kurang terdapat 'jeda > penangkapan ikan' dan jeda 'rehabilitasi' ....... tentu saja secara > matematik populasi ikan lama-lama kalah pertumbuhannya dengan peningkatan > frekwensi penangkapannya. .... > Belum lagi kata pak Abimanyu.... .walau tak lagi dipakai pukat harimau > ...... tapi ikan-ikan kecil walau sempat lolos dari jaring...... tak urung > mereka menderita stress berat juga atau cedera .... bisa nggak doyan makan, > sakit lalu mati.......merasaka n terserempet jaring atau tertabrak ikan-ikan > besar dalam jumlah banyak yang berontak karena terjerat jaring...... ., > ekologinya terusak juga oleh jaring raksasa..... dsb.... > Bahwa menurut anda jalan keluarnya adalah : > *".......meningkatkan kegiatan perikanan bagi nelayan pantai timur dengan > membantu menyediakan kapal-kapal bermotor ukuran besar sehingga mampu > berlayar lebih jauh dan lebih lama, dan lebih ke utara hingga ke > barat......"* > > Saya sih setuju saja ....... itu artinya pemberian kredit kapal oleh > lembaga keuangan.... .. yang ia atau tidaknya tergantung kepada penilaian > kelayakan lembaga keuangan, karena pertimbangan mereka sering njlimet > juga, mereka pikirkan asuransi segala ......... lalu sebagai kapal besar > konsumsi solarnya juga sekarang semakin berat....... budaya 'kapal layar' > dengan tenaga gerak angin semakin kurang.... sehingga kalau semuanya > serba kapitalisitik begitu .... apakah nelayan kecil mampu menembus > kelayakan penilaian oleh lembaga keuangan .. saya nggak tahu........ . > > Kalau soal *"mengamankan wilayah perbatasan" *untuk pelanggarannya. ...... > saya kira itu sih mungkin juga... tetapi barangkali sebatas "melaporkan > kepada TNI-AL"..... sebab kalau harus 'duel' dengan pelanggar batas sedang > sipelanggar kapalnya lebih besar dan bersenjata.. ... tentu nelayan kita > mikir dulu..... kecuali pelanggarnya sekedar sepasang muda-mudi atau ABG > dengan perahu kecil ..... mungkin mereka bisa tangani sendiri tanpa > TNI-AL..... > Kalau soal '*perompakan*' saya 'no comment' deh ya.. hehe.... > > Tetapi saya kira pengembangan 'budaya baru' atau 'budaya logis' pembangunan > berkelanjutan ...seperti 'rumponisasi '.. apalagi orang Belawan sendiri > mengatakan "perlu mengembangkan 5000 titik rumpon" dan mereka baru > kembangkan > "6/ enam titik rumpon seberat 20 ton" (whalahh) ...... maka itu menunjukkan > bahwa masyarakat nelayan disana setidaknya paham dan sadar juga bahwa > budaya / budidaya perikanan berkelanjutan bukanlah sekedar budaya perikanan > "buru, kejardan tangkap saja"...... namun juga budaya perikanan "jeda > tangkap, rehabilitasi dan tentu saja......rumpon" .... Selain kampanye "1 > juta pohon"... saya kira perlu juga setidaknya "kampanye nasional tanam > 100.000 rumpon" dilaut...... .. > > Saya kira creativity untuk perluasan kesempatan kerja perlu terus > dikembangkan dan dipandang penting ...... demikian juga faktor2 pendukung > sukses pembangunan seperti KB, pemberantasan korupsi... dsb...... > > Selamat berakhir pekan dan salam, > aby** > > > *ekadj06 <[EMAIL PROTECTED] com>* wrote: > > > > > Recent Activity > > - 1 > New > Members<http://groups.yahoo.com/group/plbpm/members;_ylc=X3oDMTJnaGZncGM1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzIxOTMzMTM3BGdycHNwSWQDMTcwNTIzOTY2NgRzZWMDdnRsBHNsawN2bWJycwRzdGltZQMxMjEzNDI2MjM2> > > Visit Your Group > <http://groups.yahoo.com/group/plbpm;_ylc=X3oDMTJmcW5ramQ2BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzIxOTMzMTM3BGdycHNwSWQDMTcwNTIzOTY2NgRzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAzEyMTM0MjYyMzY-> > Yahoo! Search > Start > Searching<http://us.ard.yahoo.com/SIG=13o5pnl5u/M=493064.12016265.12445672.8674578/D=groups/S=1705239666:NC/Y=YAHOO/EXP=1213433436/L=/B=QTOvBdFJq2g-/J=1213426236379446/A=3858796/R=0/SIG=10pbnnlc1/*http://search.yahoo.com> > Find exactly > what you want. > All-Bran > 10 Day > Challenge<http://us.ard.yahoo.com/SIG=13ogj0mch/M=493064.12016283.12445687.8674578/D=groups/S=1705239666:NC/Y=YAHOO/EXP=1213433436/L=/B=QjOvBdFJq2g-/J=1213426236379446/A=5202323/R=0/SIG=11aijbghb/*http://new.groups.yahoo.com/allbrangroup> > Join the club and > feel the benefits. > Health Groups > for people over > 40<http://us.ard.yahoo.com/SIG=13oo9m5bo/M=493064.12662708.12980600.8674578/D=groups/S=1705239666:NC/Y=YAHOO/EXP=1213433436/L=/B=QzOvBdFJq2g-/J=1213426236379446/A=5349273/R=0/SIG=11nhsqmjq/*http://advision.webevents.yahoo.com/EverydayWellness/> > Join people who are > staying in shape. > . > > > > > > > >

