Pak Aby ysh,
Mungkin ada sedikit tambahan informasi bagi yang belum biasa tentang rumpon
atau buatan yang saya singgung sebelum ini.

Rumpon yang dibuat di Bali (juga di Lombok Barat) memiliki berbagai bentuk
struktur yang dibuat dari jaring besi (wire-mesh) yang ditenggelamkan di
perairan yang tidak terlalu dalam. Struktur tersebut juga dialiri untuk
menempel di struktur jaring-besi tersebut. Dari sisa-sisa terumbu karang
yang rusak akibat pemutihan (akibat red tide) dikumpulkan potongan-potongan
terumbu karang yang masih hidup dan  diikatkan  kebeberapa  titik distruktur
tersebut. Ternyata dalam waktu kurang dari 2 tahun terumbu karang cangkokan
tersebut telah menyatu dengan struktur tersebut bahkan cukup subur dan
menarik pertumbuhan anemon dan gerombolan ikan pelagis (dasar laut) untuk
tinggal dihabitat baru tersebut. Terumbu karang juga hanya hidup di
kedalaman tertentu dengan tingkat kejernihan dan komposisi air tertentu
pula, tidak disembarang tempat (ekoregionnya tertentu).

Disisi lain terumbu karang tumbuh sangat lambat, satu tahun dapat hanya
tumbuh kurang dari satu cm, Padahal perusakan karena perdagangan komersial
perharinya (demi kenaikan "pendapatan" masyarakat pesisir/nelayan yang
tergiur dan peningkatan keuntungan ekonomi pengusaha jangka pendek) demikian
merajalela. Bayangkan betapa pertimbangan peningkatan angka kenaikan ekonomi
dan lapangan kerja baru jangka pendek tersebut dapat memberi dampak
kesengsaraan the real nelayan generasi mendatang.

Mengenai rumpon, tidak selalu berupa kapal karam,  becak  atau  jaring
besi,  maupun  daun kelapa,  jajaran  bambu, atau  struktur biotil lainnya,
juga berbahan beton dalam berbagai wujudnya, termasuk beton ringan yang
dapat terapung. Terdapat pula pemikiran untuk membuat rumpon beton ringan
berbentuk keramba terapung dengan lubang-lubang kecil untuk spesies tertentu
masuk dan diharapkan setelah besar terjebak di dalamnya dan tinggal dipanen.
Namun banyak pula rumpon buatan dari beton mulai dikembangkan yang tidak
berhasil "ditumbuhi" terumbu karang atau menjadi habitat ikan karena
kesalahan pilihan lokasi, arus dan berbagai aspek ekosistem yang tidak
dicermati lebih dahulu. Kegagalan dapat juga terjadi karena kelompok
nelayan  yang  dilibatkan  bukan  tipe yang memiliki antroporegion serupa
dengan ekoregion  tipe  budi daya  yang  dikembangkan. Jadi, pengembangan
ipteks tersebut tidak dapat main tembak jangka pendek. Justru harus
merupakan pendekatan yang cermat dan berkelanjutan......pembangunan bangsa
jangka panjang dalam semua sektor terkait secara multi /inter/trans-disiplin
....

Mohon maaf kalau terlalu sukar dicerna bagi para ekonom yang lebih tertarik
kepada "oportunity cost" jangka pendek....atau yang lebih suka dengan cepat
meng-copy pendapat orang/"cerita sukses" negara lain....

salam,
Abimanyu




2008/6/13 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Halo pak Abimanyu, pak Rofiq , Pak Onnos dan milisters ysh,
>
> Kalau saya bilang saya lumayan hobi juga dgn ikan....tapi  maksud saya saya
> mau bilang bahwa baru sekitar 2002 lalu saya mengenal agak dekat pada
> 'perikanan  darat' dengan tinggal setahun disatu desa miskin di Parung,
> dimana sejak itu mulai bisa membedakan mana mujair mana gurami dari semula
> bingung membedakannya....hehe... dan sejak itu saya lumayan sedikit  mengenal
> kehidupan kemiskinan peternak kecil ikan darat dalam sedikit aspeknya....
> serta sedikit tentang budidaya ikan darat... lumayan untuk sekedar bekal
> bergaul dengan sekelompok kecil masyarakat ikan seperti lele, patin, mas dan
> cacing dibak-bak dipojok belakang halaman rumah saya...  hehe...
> Karenanya mohon dimaklumin saya kalau saya nanti justru akan malah banyak
> nanya keanda semua.....
>
> Pertama untuk pak Onnos, saya kira kalaupun terdapat kesulitan mengubah
> pola kehidupan nelayan tangkap yang kerjanya dilaut lepas (tradisional atau
> modern) untuk menjadi nelayan petani atau 'pembudidaya' (re: pak
> Abimanyu)…….
> Pertama itu saya kira wajar …. dan saya kira itu tidak akan menjadi suatu
> halangan yang akan membuat pengubahan atau 'pengubahan'  itu menjadi tidak
> mungkin……apalagi  inipun juga suatu proyek "jangka panjang" yang memang
> tidak bisa "instant"…..
>
> Masyarakat tradisional, masyarakat pedesaan atau masyarakat agraris  bukannya
> tak senang perubahan………
> Dalam pengamatan saya…. sepertinya "perubahan apapun"….. asalkan benar
> terbukti membawa hasil dan perubahan positif yang signifikan … khususnya
> bila caranya tidak rumit2 amat dan cukup praktis…. barulah mereka
> beramai-ramai akan ikut 'perubahan' itu…..
> Jadi sikap umum mereka sepertinya cenderung untuk menjadi "penonton" dulu
> untuk berbagai introduksi upaya-upaya 'perubahan'….. kalau gagal jelas
> mereka tak mau ikut… tapi kalau mereka lihat itu "berhasil" … tanpa ampun
> mereka akan berbondong-bondong mengikuti 'perubahan' itu……
>
> Kedua untuk pak Onnos, juga untuk pak Rofiq……, saya benar tertarik dengan
> pandangan pak Abimanyu tentang  etika 'membudidaya' tak hanya dipesisir
> tetapi juga dilaut…….. khususnya menyangkut 'budidaya penanaman rumpon' …….
> Yang tentunya akan ideal kalau ia dapat dilakukan secara besar-besaran (re:
> diselat Malaka Malaysia konkrit  menanam 7000 rumpon, diselat yang sama
> Indonesia idealnya 5000 rumpon)…. Bukan sekedar maaf… "proyek-proyek mini"
> .. apalagi kok dalam rangka untuk agar "segera dapat dipanen" .... hehe..
> Kedua pula…. "tenggang waktu" masa panen serta "masa rehabilitasi tumbuh"
> untuk kembali menuju kekondisi "siap panen"… proyek rumpon ditengah laut….
> saya kira akan menjadi model "pelestarian budidaya laut" yang
> berkelanjutan…….
>
> Beralih ke pak Rofiq…. Berhubung saya baru sebatas pengamat komunitas ikan
> didarat maupun proyek mini  belakang rumah ……dan kalaupun di Morotai  atau
> Tidore baru sebatas mengelilingi pulau saja....  saya ingin tanya beneran
>  ke bapak tentang proyek di Pelabuhan Ratu itu……
> Pertama… jarak 50 mil itu maksudnya  lurus ketengah laut atau  50mil dari
> Pelabuhanratu tetapi  agak dekat-dekat pantai kawasan lain……
> Kedua…. Untuk biar agak jelas membayangkannya… mohon dijelaskan ada berapa
> banyak rumpun menyangkut areal sekitar berapa luas… waktu itu biayanya
> sekitar berapa…. lalu menyangkut kedalaman berapa meter … karena bukankah
> Laut Selatan itu sangat dalam…. Dan kenapa harus ditungguin…. Apakah rumpon
> bisa bergeser atau takut diambil alih oleh orang lain?........
>
> Terakhir menyangkut pengembangan rumpon …. Saya pikir perlu dikembangkan
> berbagai model desain  rumpon beserta berbagai macam variasi bahan
> bakunya….. seperti pertama…  apakah kapal-kapal nelayan asing yang disita
> itu perlu diseret keperairan dangkal tertentu dan ditenggelamkan sebagai
> rumpon……..
> Lalu masyarakat teknik industri atau teknik sipil  dan arsitektur bersama
> para ahli perikanan  mungkin dapat merancang desain-desain rumpon yang
> ideal itu bagaimana…. baik dari bahan besi beton atau mungkin plus
> kerangka-kerangka cor beton dan ditenggelamkan….. dsb…. Dan bukan asalkan
>  sekedar barang bekas saja  seperti becak … bajaj… dsb…. Yang pasti
> hasilnya tidak akan sebaik bila rumpon itu sendiri dirancang permodelannya
> yang ideal…… karena namanya juga "rumah tinggal" bagi ikan…….
>
> Tentang sosialisasinya sebagai gerakan massal…….bukan tidak mungkin ..
> sosialisasinya secara tepat dan meluas akan mampu menarik minat amat luas
> dari masyarakat……. bahkan masyarakat diperkotaan sekalipun……  untuk agar
> "proyek rumpon nasional"  ini dapat menjadi "gerakan nasional" tak ubahnya
> "gerakan tanam sejuta pohon"….…….. sehingga kalau diteve kita sering melihat
> selebritis atau organisasi tertentu  bereforia membagi sedekah
> keorang-orang pinggir jalan atau keyayasan yatim piatu ..bukan tak mungkin
> suatu saat akan muncul gerakan sosial termasuk proyek CSR (Company Sosial
> Responsilbility) dari perusahaan2 besar seperti Astra, Citibank dsb. untuk
> mendiversifikasi  program2 konvensionalnya seperti "beasiswa" atau "bagi2
> sembako"  menjadi mode baru "menyumbangkan rumpon"  untuk ditenggelamkan
> diberbagai perairan kita……. Dimana bila itu diliput dimedia secara visual…….
> Terlebih bila dapat dipertunjukkan perkembangannya dalam visualisasi bawah
> laut seperti sejak rumpon ditanam … lalu beberapa waktu kemudian tumbuh
> floranya … lalu ikan bisa berhabitat disana secara 'makmur'…..
>
> Sementara demikian dan salam,
> aby
>
>
> *Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  Bapak/Ibu ysh,
> Ikut nimbrung urun rembug tentang pelihara ikan, walaupun saya bukan ahli
> perikanan, tetapi kebetulan pernah kecemplung di DKP selama 7,5 tahun.
> Menurut apa yang saya lihat dilapangan dan baca sana sini, sepertinya akan
> sulit mengubah pola kehidupan nelayan tangkap yang kerjanya dilaut lepas
> (tradisional atau modern) untuk menjadi nelayan petani atau pembudidaya yang
> kerjanya menunggu panen ikan dari tambak atau rumpon.
> Mungkin secara ekonomi kita dapat menghitung sulitnya jadi nelayan tangkap,
> apalagi dengan melejitnya harga BBM saat ini, bila dibandingkan nelayan
> petani/pembudidaya yang tidak perlu melaut dengan kapal/perahunya. Namun,
> pola hidup yang biasa mengarungi laut dan bebas bergerak, mungkin kalau
> disuruh diam berhenti nungguin tambak/rumpon dan harus sabar akan jenuh ?
> Atau keahlian mereka perlu diubah ? Mungkin keahlian melaut perlu dipupuk
> terus karena ada unsur keberanian disitu yang kita sebut bangsa bahari !
> Hal ini mungkin menarik untuk didalami oleh para antropolog & psikolog
> sosial, hasilnya dapat dipakai oleh para ekonom dll untuk memberdayakan
> masyarakat pesisir/nelayan.
> Wassalam,
> Onnos
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> To: [email protected]
> From: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Fri, 13 Jun 2008 00:11:17 -0700
> Subject: Re: [referensi] Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
>
>   Pak Aby dan pak Abi,
> Saya pernah memasang rumpon di selatan pelabuhan ratu (50 mil) pada tahun
> 2002 dengan harapan para nelayan bisa memperoleh penghasilan lebih banyak,
> mereka tidak perlu memburu, cukup nongkrong disana memancing di sekitar
> rumpon. Karena rumpon harus dijaga jadi nelayan bergantian memancing.
> Penghasilan memang meningkat tetapi tidak sebanding dengan biaya membuat
> rumpon dan bahan bakar. Ternyata para nelayan yang biasanya berangkat pagi
> pulang sore tidak betah tinggal di sekitar rumpon, mereka hanya mau
> memancing selama beberapa jam saja, padahal perkiraan kita mereka akan
> memancing selama kurang lebih dua hari supaya dapat ikan yang banyak.
> Perjalanan ke rumpon cukup jauh sekitar 5 jam.
> Saya juga pernah menawarkan agar sepanjang perbatasan ita dengan negara
> tetangga dipasang rumpon saja, agar nelayan kita tidak ada yang melampaui
> batas negara sehingga tidak seperti kejadian ditangkap polisi malaysia dan
> australia. Batas rumpon ini juga supaya setiap saat ada nelayan kita yang
> menjaga perbatasan sehingga issue ikan kita dicolong bisa hilang.
>
> Salam
> Aunur Rofiq
>
> ----- Original Message ----
> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, June 12, 2008 6:51:08 AM
> Subject: Re: [referensi] Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
>
> Pak Hengky ysh,
>
> Kaget juga disebut-sebut, pasti ada maksud.
> Tapi betul sekali, kalau sebagai pemilik laut nusantara, kita perlu
> mengubah cara hidup sebagai "pemburu" (pengeksploitasi, pemermiskin) menjadi
> sebagai "pembudi daya" (penghasil, pemelihara, pengembang-biak, produsen,
> pemerkaya). Itu juga yang saya sampaikan kerekan di perikanan tangkap waktu
> beliau baru mulai menjabat.
>
> Pemburu asing mencuri kekayaan kita untuk kepentingan sendiri tanpa peduli
> kembali tidaknya ekosistem kita. Pemburu di negeri sendiri sangat tidak
> beradab apabila pikirannya cuma memperkaya generasinya sendiri (demi
> meningkatkna pertumbuhan ekonomi kelautan sebagai pengganti ekonomi daratan
> yang sudah habis dimakan, dijarah atau dijual) dengan tidak menyisakan
> harapan/kelangsungan hidup sumber daya alam sendiri bagi generasi
> penerusnya.
>
> Walaupun menggunakan jaring "ramah lingkungan" yang jarang-jarang sehingga
> ikan kecil lolos tidak ikut terperangkap, ikan tetap bisa stress lho.
> akibatnya menurut ahlinya bisa ga mau makan, minum, sakit hingga mati,
> apalagi berkembnag biak. Perlu waktu jeda untuk "recovery" antar waktu
> "berburu" ikan. artinya, sebagai "pemburu"pun kalau ditanah-air milik
> sendiri kita harus memberi kesempatan untuk flora-fauna kita kembali
> berkembang sampai tingkat berlebih sehingga ada yang layak diburu. Artinya,
> konsep berburu ditanah-air sendiri harus berubah menjadi "pembudi daya"
> dalam arti yang luas. Artinya juga, tata ruang laut kita juga harus jelas,
> mana waktu-ruang (tempat dan batas periode pemanfaatan hasil) setiap jenis
> "kekayaan" (pinjaman Allah) spesies maupun mineral dll kita yang boleh
> dimanfaatkan hingga tingkat tertentu dan mana yang pada waktu-ruang tersebut
> ditahan dulu penggunaannya. dsb, dst.
>
> Mengenai rumpon, sekitar 5-10 th lalu saya pernah membaca (saya lupa
> bukunya) hasil studi di Asia Timur/Asia Tenggara yang menunjukkan bahwa
> dinegara-negara tetangga telah demikian banyak pembuatan rumpon/sarang
> buatan untuk habitat ikan di perairan pesisir mereka. Dan di Indonesia waktu
> itu cuma 1 (SATU) yang tercantum dipeta dan tulisannya, yaitu tempat
> pembuangan beca di Utara DKI Jakarta.....Betapa menjedihkan bahwa anugerah
> laut dan ikan yang kita miliki ternyata ikut terabaikan/termarginalkan
> (seperti nasib nelayan, manusia yang hidup daripadanya).  Padahal sepertiga
> protein dunia dapat diperoleh dari hasil laut tersebut.
>
> yah, sekian dulu obrolan warung kopi ini.....
>
> Ongkowijoyo
>
>
> On Thu, Jun 12, 2008 at 9:11 AM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
>
>  *Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia*
>
> Pak Risfan, pak Abimanyu, mas Djarot, mas Dwi, mas Adjie, Cak Andrie, mbak
> Mardiyah, mas Piliang, pak Onnos dan milisters serta moderators semuanya
> ysh,
> Yuk sekarang pada main belajar pelihara  ikan....hehe..... kalau saya sih
> sudah lumayan hobi berat juga diikan...hehe..
>
> Sekarang ini bukan hanya TKI kita saja yang tertarik datang ke
> Malaysia....ikan-ikan  kitapun sudah pada  mulai ikutan juga lho........
> Sejumlah nelayan di Belawan mulai menjual kapalnya menyusul tekanan ekonomi
> yang kuat akhir-akhir ini.....
> Kondisi nelayan yang terpuruk semakin menjadi pascakenaikan harga BBM.
> Mereka juga mengkhawatirkan mulai masuknya ikan impor dari Malaysia ke
> Belawan........
> Anto (48), seorang anak buah kapal yang ditemui Kompas, Rabu (11/6) di
> Gudang Arang, Belawan I, mengatakan, kapal biasa dijual Rp 8 juta. "Itu
> contohnya. Kapal itu mau dijual," tunjuk Anto ke sebuah kapal kayu berwarna
> hijau yang bersandar di kawasan Gudang Arang........
> Ketua Sarikat Masyarakat Pesisir Medan Syafruddin (40) yang ditemui di
> Gudang Arang, Belawan I, mengatakan, sekitar lima nelayan di kawasan Belawan
> I sudah menawarkan kapalnya.........
> Problem utamanya karena ekonomi yang semakin terpuruk, entah terlilit utang
> atau semakin tidak bisa bergerak pascakenaikan harga BBM.......
> Jika tidak sangat terdesak, nelayan tak akan menjual alat produksinya.....
> Mereka juga harus berpikir ulang ketika berganti kerja di darat. "Biasanya
> lalu menjadi ABK saja," kata Syafruddin yang pernah menjadi eksportir ikan
> itu....
> Menurut Syafruddin, kenaikan harga bahan bakar minyak hanya satu faktor
> yang membuat nelayan Belawan semakin terpuruk.........
> Masalah utama nelayan adalah semakin berkurangnya ikan di kawasan perairan
> Selat Malaka di Wilayah Indonesia karena rusaknya rumpon atau tempat
> berkembang biak ikan........
> Andak Ruslan (58), nelayan warga Belawan I, mengatakan, nelayan di Belawan
> I sudah membuat enam titik rumpon seberat masing-masing 20 ton di kawasan
> Langkat. "Namun, idealnya di Pantai Timur dibuat sedikitnya 5.000 rumpon
> baru," kata Andak.......
> Rumpon, kata Andak, akan menghemat bahan bakar minyak sampai 50 persen.
> Selama ini nelayan perlu melaut sejauh 80 mil hingga perbatasan Malaysia
> untuk mendapat ikan. Dengan rumpon, tak perlu jauh-jauh melaut dan area yang
> dituju sudah jelas.........
> Ini yang sudah dilakukan Malaysia yang membangun 7.000 titik rumpon di
> Selat Malaka. "Maka, ikan-ikan Indonesia pergi ke sana," tutur Andak.....
> Ikan gembung dan selayar yang banyak di Malaysia kini bahkan sudah masuk ke
> Indonesia..........
>
> Maaf kalau salah, dalam pengamatan saya....sepertinya budaya eksploitasi
> agraris kita... baik kehutanan, peternakan atau perikanan kita tidak dimulai
> dari budaya "menanam pakan dan atau menyiapkan habitatnya" lebih dulu ..
> tetapi langsung dimulai dengan budaya semacam  kejar, buru dan babat.....
> Padahal budidaya menyiapkan pakan dan habitat (baik untuk manusia, hewan
> atau tanaman) itu sangat menarik lho......
> Akh... mudah-mudahan habis ini Malaysia tak lalu  menanam rumput hijau
> dipantainya  .....saya khawatir nanti sapi-sapi kita pada dengar..... dan
> dari Dumai atau Bagan Siapi-api mereka nanti  pada berenang nyeberang
> kesana.... hehe... maaf bercanda....
>
> Salam,
> aby
> **
> *(bahan dari WSI/ Kompas)*
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> Enrich your blog with Windows Live Writer. Windows Live 
> Writer<http://get.live.com/writer/overview>
>
>
>  
>

Kirim email ke