Halo pak Abimanyu, pak Rofiq , Pak Onnos dan milisters ysh,
   
  Kalau saya bilang saya lumayan hobi juga dgn ikan....tapi  maksud saya saya 
mau bilang bahwa baru sekitar 2002 lalu saya mengenal agak dekat pada 
‘perikanan  darat’ dengan tinggal setahun disatu desa miskin di Parung, dimana 
sejak itu mulai bisa membedakan mana mujair mana gurami dari semula bingung 
membedakannya....hehe... dan sejak itu saya lumayan sedikit  mengenal kehidupan 
kemiskinan peternak kecil ikan darat dalam sedikit aspeknya.... serta sedikit 
tentang budidaya ikan darat... lumayan untuk sekedar bekal bergaul dengan 
sekelompok kecil masyarakat ikan seperti lele, patin, mas dan cacing dibak-bak 
dipojok belakang halaman rumah saya...  hehe...
  Karenanya mohon dimaklumin saya kalau saya nanti justru akan malah banyak 
nanya keanda semua.....
   
  Pertama untuk pak Onnos, saya kira kalaupun terdapat kesulitan mengubah pola 
kehidupan nelayan tangkap yang kerjanya dilaut lepas (tradisional atau modern) 
untuk menjadi nelayan petani atau ‘pembudidaya’ (re: pak Abimanyu)……. 
  Pertama itu saya kira wajar …. dan saya kira itu tidak akan menjadi suatu 
halangan yang akan membuat pengubahan atau ‘pengubahan’  itu menjadi tidak 
mungkin……apalagi  inipun juga suatu proyek “jangka panjang” yang memang tidak 
bisa “instant”…..
   
  Masyarakat tradisional, masyarakat pedesaan atau masyarakat agraris  bukannya 
tak senang perubahan………
  Dalam pengamatan saya…. sepertinya “perubahan apapun”….. asalkan benar 
terbukti membawa hasil dan perubahan positif yang signifikan … khususnya bila 
caranya tidak rumit2 amat dan cukup praktis…. barulah mereka beramai-ramai akan 
ikut ‘perubahan’ itu….. 
  Jadi sikap umum mereka sepertinya cenderung untuk menjadi “penonton” dulu 
untuk berbagai introduksi upaya-upaya ‘perubahan’….. kalau gagal jelas mereka 
tak mau ikut… tapi kalau mereka lihat itu “berhasil” … tanpa ampun mereka akan 
berbondong-bondong mengikuti ’perubahan’ itu……
   
  Kedua untuk pak Onnos, juga untuk pak Rofiq……, saya benar tertarik dengan 
pandangan pak Abimanyu tentang  etika ‘membudidaya’ tak hanya dipesisir tetapi 
juga dilaut…….. khususnya menyangkut ‘budidaya penanaman rumpon’ …….  Yang 
tentunya akan ideal kalau ia dapat dilakukan secara besar-besaran (re: diselat 
Malaka Malaysia konkrit  menanam 7000 rumpon, diselat yang sama Indonesia 
idealnya 5000 rumpon)…. Bukan sekedar maaf… “proyek-proyek mini” .. apalagi kok 
dalam rangka untuk agar “segera dapat dipanen” .... hehe..
  Kedua pula…. “tenggang waktu” masa panen serta “masa rehabilitasi tumbuh” 
untuk kembali menuju kekondisi “siap panen”… proyek rumpon ditengah laut…. saya 
kira akan menjadi model “pelestarian budidaya laut” yang berkelanjutan…….
   
  Beralih ke pak Rofiq…. Berhubung saya baru sebatas pengamat komunitas ikan 
didarat maupun proyek mini  belakang rumah ……dan kalaupun di Morotai  atau 
Tidore baru sebatas mengelilingi pulau saja....  saya ingin tanya beneran  ke 
bapak tentang proyek di Pelabuhan Ratu itu……  
  Pertama… jarak 50 mil itu maksudnya  lurus ketengah laut atau  50mil dari 
Pelabuhanratu tetapi  agak dekat-dekat pantai kawasan lain……
  Kedua…. Untuk biar agak jelas membayangkannya… mohon dijelaskan ada berapa 
banyak rumpun menyangkut areal sekitar berapa luas… waktu itu biayanya sekitar 
berapa…. lalu menyangkut kedalaman berapa meter … karena bukankah Laut Selatan 
itu sangat dalam…. Dan kenapa harus ditungguin…. Apakah rumpon bisa bergeser 
atau takut diambil alih oleh orang lain?........
   
  Terakhir menyangkut pengembangan rumpon …. Saya pikir perlu dikembangkan 
berbagai model desain  rumpon beserta berbagai macam variasi bahan bakunya….. 
seperti pertama…  apakah kapal-kapal nelayan asing yang disita itu perlu 
diseret keperairan dangkal tertentu dan ditenggelamkan sebagai rumpon……..
  Lalu masyarakat teknik industri atau teknik sipil  dan arsitektur bersama 
para ahli perikanan  mungkin dapat merancang desain-desain rumpon yang ideal 
itu bagaimana…. baik dari bahan besi beton atau mungkin plus kerangka-kerangka 
cor beton dan ditenggelamkan….. dsb…. Dan bukan asalkan  sekedar barang bekas 
saja  seperti becak … bajaj… dsb…. Yang pasti hasilnya tidak akan sebaik bila 
rumpon itu sendiri dirancang permodelannya yang ideal…… karena namanya juga 
“rumah tinggal” bagi ikan…….  
   
  Tentang sosialisasinya sebagai gerakan massal…….bukan tidak mungkin .. 
sosialisasinya secara tepat dan meluas akan mampu menarik minat amat luas dari 
masyarakat……. bahkan masyarakat diperkotaan sekalipun……  untuk agar “proyek 
rumpon nasional”  ini dapat menjadi ”gerakan nasional” tak ubahnya “gerakan 
tanam sejuta pohon”….…….. sehingga kalau diteve kita sering melihat selebritis 
atau organisasi tertentu  bereforia membagi sedekah keorang-orang pinggir jalan 
atau keyayasan yatim piatu ..bukan tak mungkin suatu saat akan muncul gerakan 
sosial termasuk proyek CSR (Company Sosial Responsilbility) dari perusahaan2 
besar seperti Astra, Citibank dsb. untuk mendiversifikasi  program2 
konvensionalnya seperti ”beasiswa” atau “bagi2 sembako”  menjadi mode baru 
“menyumbangkan rumpon”  untuk ditenggelamkan diberbagai perairan kita……. Dimana 
bila itu diliput dimedia secara visual……. Terlebih bila dapat dipertunjukkan 
perkembangannya dalam visualisasi bawah laut seperti sejak rumpon
 ditanam … lalu beberapa waktu kemudian tumbuh floranya … lalu ikan bisa 
berhabitat disana secara ‘makmur’….. 
   
  Sementara demikian dan salam,
  aby


Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Bapak/Ibu ysh, 
Ikut nimbrung urun rembug tentang pelihara ikan, walaupun saya bukan ahli 
perikanan, tetapi kebetulan pernah kecemplung di DKP selama 7,5 tahun. 
Menurut apa yang saya lihat dilapangan dan baca sana sini, sepertinya akan 
sulit mengubah pola kehidupan nelayan tangkap yang kerjanya dilaut lepas 
(tradisional atau modern) untuk menjadi nelayan petani atau pembudidaya yang 
kerjanya menunggu panen ikan dari tambak atau rumpon.
Mungkin secara ekonomi kita dapat menghitung sulitnya jadi nelayan tangkap, 
apalagi dengan melejitnya harga BBM saat ini, bila dibandingkan nelayan 
petani/pembudidaya yang tidak perlu melaut dengan kapal/perahunya. Namun, pola 
hidup yang biasa mengarungi laut dan bebas bergerak, mungkin kalau disuruh diam 
berhenti nungguin tambak/rumpon dan harus sabar akan jenuh ? Atau keahlian 
mereka perlu diubah ? Mungkin keahlian melaut perlu dipupuk terus karena ada 
unsur keberanian disitu yang kita sebut bangsa bahari !
Hal ini mungkin menarik untuk didalami oleh para antropolog & psikolog sosial, 
hasilnya dapat dipakai oleh para ekonom dll untuk memberdayakan masyarakat 
pesisir/nelayan.
Wassalam,
Onnos




 
    
---------------------------------
  To: [email protected]
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Fri, 13 Jun 2008 00:11:17 -0700
Subject: Re: [referensi] Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia

          Pak Aby dan pak Abi,
Saya pernah memasang rumpon di selatan pelabuhan ratu (50 mil) pada tahun 2002 
dengan harapan para nelayan bisa memperoleh penghasilan lebih banyak, mereka 
tidak perlu memburu, cukup nongkrong disana memancing di sekitar rumpon. Karena 
rumpon harus dijaga jadi nelayan bergantian memancing. Penghasilan memang 
meningkat tetapi tidak sebanding dengan biaya membuat rumpon dan bahan bakar. 
Ternyata para nelayan yang biasanya berangkat pagi pulang sore tidak betah 
tinggal di sekitar rumpon, mereka hanya mau memancing selama beberapa jam saja, 
padahal perkiraan kita mereka akan memancing selama kurang lebih dua hari 
supaya dapat ikan yang banyak. Perjalanan ke rumpon cukup jauh sekitar 5 jam.
Saya juga pernah menawarkan agar sepanjang perbatasan ita dengan negara 
tetangga dipasang rumpon saja, agar nelayan kita tidak ada yang melampaui batas 
negara sehingga tidak seperti kejadian ditangkap polisi malaysia dan australia. 
Batas rumpon ini juga supaya setiap saat ada nelayan kita yang menjaga 
perbatasan sehingga issue ikan kita dicolong bisa hilang.
  
   
Salam
Aunur Rofiq   

  ----- Original Message ----
From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 12, 2008 6:51:08 AM
Subject: Re: [referensi] Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia

Pak Hengky ysh,

Kaget juga disebut-sebut, pasti ada maksud.
Tapi betul sekali, kalau sebagai pemilik laut nusantara, kita perlu mengubah 
cara hidup sebagai "pemburu" (pengeksploitasi, pemermiskin) menjadi sebagai 
"pembudi daya" (penghasil, pemelihara, pengembang-biak, produsen, pemerkaya). 
Itu juga yang saya sampaikan kerekan di perikanan tangkap waktu beliau baru 
mulai menjabat. 

Pemburu asing mencuri kekayaan kita untuk kepentingan sendiri tanpa peduli 
kembali tidaknya ekosistem kita. Pemburu di negeri sendiri sangat tidak beradab 
apabila pikirannya cuma memperkaya generasinya sendiri (demi meningkatkna 
pertumbuhan ekonomi kelautan sebagai pengganti ekonomi daratan yang sudah habis 
dimakan, dijarah atau dijual) dengan tidak menyisakan harapan/kelangsungan 
hidup sumber daya alam sendiri bagi generasi penerusnya.

Walaupun menggunakan jaring "ramah lingkungan" yang jarang-jarang sehingga ikan 
kecil lolos tidak ikut terperangkap, ikan tetap bisa stress lho. akibatnya 
menurut ahlinya bisa ga mau makan, minum, sakit hingga mati, apalagi berkembnag 
biak. Perlu waktu jeda untuk "recovery" antar waktu "berburu" ikan. artinya, 
sebagai "pemburu"pun kalau ditanah-air milik sendiri kita harus memberi 
kesempatan untuk flora-fauna kita kembali berkembang sampai tingkat berlebih 
sehingga ada yang layak diburu. Artinya, konsep berburu ditanah-air sendiri 
harus berubah menjadi "pembudi daya" dalam arti yang luas. Artinya juga, tata 
ruang laut kita juga harus jelas, mana waktu-ruang (tempat dan batas periode 
pemanfaatan hasil) setiap jenis "kekayaan" (pinjaman Allah) spesies maupun 
mineral dll kita yang boleh dimanfaatkan hingga tingkat tertentu dan mana yang 
pada waktu-ruang tersebut ditahan dulu penggunaannya. dsb, dst.

Mengenai rumpon, sekitar 5-10 th lalu saya pernah membaca (saya lupa bukunya) 
hasil studi di Asia Timur/Asia Tenggara yang menunjukkan bahwa dinegara-negara 
tetangga telah demikian banyak pembuatan rumpon/sarang buatan untuk habitat 
ikan di perairan pesisir mereka. Dan di Indonesia waktu itu cuma 1 (SATU) yang 
tercantum dipeta dan tulisannya, yaitu tempat pembuangan beca di Utara DKI 
Jakarta.....Betapa menjedihkan bahwa anugerah laut dan ikan yang kita miliki 
ternyata ikut terabaikan/termarginalkan (seperti nasib nelayan, manusia yang 
hidup daripadanya).  Padahal sepertiga protein dunia dapat diperoleh dari hasil 
laut tersebut.

yah, sekian dulu obrolan warung kopi ini.....

Ongkowijoyo


  On Thu, Jun 12, 2008 at 9:11 AM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
    Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
   
  Pak Risfan, pak Abimanyu, mas Djarot, mas Dwi, mas Adjie, Cak Andrie, mbak 
Mardiyah, mas Piliang, pak Onnos dan milisters serta moderators semuanya ysh, 
  Yuk sekarang pada main belajar pelihara  ikan....hehe..... kalau saya sih 
sudah lumayan hobi berat juga diikan...hehe..
   
  Sekarang ini bukan hanya TKI kita saja yang tertarik datang ke 
Malaysia....ikan-ikan  kitapun sudah pada  mulai ikutan juga lho........ 
  Sejumlah nelayan di Belawan mulai menjual kapalnya menyusul tekanan ekonomi 
yang kuat akhir-akhir ini..... 
  Kondisi nelayan yang terpuruk semakin menjadi pascakenaikan harga BBM. Mereka 
juga mengkhawatirkan mulai masuknya ikan impor dari Malaysia ke Belawan........
  Anto (48), seorang anak buah kapal yang ditemui Kompas, Rabu (11/6) di Gudang 
Arang, Belawan I, mengatakan, kapal biasa dijual Rp 8 juta. "Itu contohnya. 
Kapal itu mau dijual," tunjuk Anto ke sebuah kapal kayu berwarna hijau yang 
bersandar di kawasan Gudang Arang........
  Ketua Sarikat Masyarakat Pesisir Medan Syafruddin (40) yang ditemui di Gudang 
Arang, Belawan I, mengatakan, sekitar lima nelayan di kawasan Belawan I sudah 
menawarkan kapalnya......... 
  Problem utamanya karena ekonomi yang semakin terpuruk, entah terlilit utang 
atau semakin tidak bisa bergerak pascakenaikan harga BBM.......
  Jika tidak sangat terdesak, nelayan tak akan menjual alat produksinya..... 
Mereka juga harus berpikir ulang ketika berganti kerja di darat. "Biasanya lalu 
menjadi ABK saja," kata Syafruddin yang pernah menjadi eksportir ikan itu....
  Menurut Syafruddin, kenaikan harga bahan bakar minyak hanya satu faktor yang 
membuat nelayan Belawan semakin terpuruk......... 
  Masalah utama nelayan adalah semakin berkurangnya ikan di kawasan perairan 
Selat Malaka di Wilayah Indonesia karena rusaknya rumpon atau tempat berkembang 
biak ikan........
  Andak Ruslan (58), nelayan warga Belawan I, mengatakan, nelayan di Belawan I 
sudah membuat enam titik rumpon seberat masing-masing 20 ton di kawasan 
Langkat. "Namun, idealnya di Pantai Timur dibuat sedikitnya 5.000 rumpon baru," 
kata Andak.......
  Rumpon, kata Andak, akan menghemat bahan bakar minyak sampai 50 persen. 
Selama ini nelayan perlu melaut sejauh 80 mil hingga perbatasan Malaysia untuk 
mendapat ikan. Dengan rumpon, tak perlu jauh-jauh melaut dan area yang dituju 
sudah jelas.........
  Ini yang sudah dilakukan Malaysia yang membangun 7.000 titik rumpon di Selat 
Malaka. "Maka, ikan-ikan Indonesia pergi ke sana," tutur Andak..... 
  Ikan gembung dan selayar yang banyak di Malaysia kini bahkan sudah masuk ke 
Indonesia..........
   
  Maaf kalau salah, dalam pengamatan saya....sepertinya budaya eksploitasi 
agraris kita... baik kehutanan, peternakan atau perikanan kita tidak dimulai 
dari budaya "menanam pakan dan atau menyiapkan habitatnya" lebih dulu .. tetapi 
langsung dimulai dengan budaya semacam  kejar, buru dan babat.....
  Padahal budidaya menyiapkan pakan dan habitat (baik untuk manusia, hewan atau 
tanaman) itu sangat menarik lho......
  Akh... mudah-mudahan habis ini Malaysia tak lalu  menanam rumput hijau 
dipantainya  .....saya khawatir nanti sapi-sapi kita pada dengar..... dan dari 
Dumai atau Bagan Siapi-api mereka nanti  pada berenang nyeberang kesana.... 
hehe... maaf bercanda....
   
  Salam,
  aby
   
  (bahan dari WSI/ Kompas)
   










  
  







  
---------------------------------
  Enrich your blog with Windows Live Writer. Windows Live Writer   

                           

       

Kirim email ke