Dear All,

Sebetulnya tanpa debat atau olok-olok, sinis-sinisan, lucu-lucuan. 
Dari hari pertama belajar Regional Planning dulu (back 2 basic) 
sudah dibeberkan isyunya memang di negara sedang berkembang yang 
sudah kadung punya "pusat utama" sebelum sadar pembangunan, 
masalahnya memang kuatnya magnet gravitasi "kota utama" tersebut.
Kuatnya magnet ekonomi, keterpusatan pemerintahan, keterpusatan 
entertaintment, keterpusatan kesempatan bagi sektor informal, bagi 
pencari kerja baru, dst. Dan, snowballing daya tariknya.

Itu pula obsesi semua regional planner, geographer di dunia ini. 
Hampir semua negara sedang berkembang dengan ratusan rezim 
pemerintahannya. Selalu dalam dilema, menyejahterakan "populasi" 
yang bergerombol itu atau kepentingan "jangka panjang" penyebaran. 
Tapi karena anggaran selalu terbatas, ya prioritas daerah padat dulu 
yang dimenangkan. Yang secara politis juga kuat teriakannya.

Bisa dibilang planner dan geographer saja yang peduli dengan itu. 
Tapi negara sedang berkembang ini kan selalu punya persoalan ekonomi 
(makro) yang sepertinya tidak akan mengorbankan "target angka 
pertumbuhannya" demi penyebaran lokasi. Karena harus diakui 
juga "mahalnya" investasi di "wilayah baru", ICOR nya relatif 
tinggi. Yang bagi teman-teman finance yang mengejar BCR akan selalu 
dilematis dalam menjustify membangun prasarana di wilayah yang masih 
sepi. Jadi tantangannya bagaimana memperjuangkan pemerataan regional 
ini, dan bagaimana selalu menyadarkan pengambil keputusan.

DKI Jakarta juga tidak bisa dikritik terus, karena justru pemerintah 
nasional yang tak acuh, membiarkan DKI menghadapi masalah "kegagalan 
pemerataan" pembangunan nasional itu sendirian. Menghadapi 
membanjirnya lautan urbanisan yang kian melonjak saat krisis ekonomi 
terjadi. Apakah DKI perlu dipimpin oleh Gubernur yang setegas-
tegasnya, untuk mengahalau pendatang baru, biar tertib? Meningkatkan 
pembangunan infrastruktur agal optimal sebagai kota jasa? Atau 
sebaliknya. Cuek se cuek-cueknya, biarkan macet, biarkan banjir, 
biar tidak ekonomis, biar semua investor, orang pergi 
meninggalkannya. Biar pemerintah pusat memilih pindah sendiri.

Kemarin saya lihat ada buku 'world economic geography' (WB report) 
yang menunjukkan realita bahwa selama beberapa decade ini tidak ada 
perubahan significant dalam pola penyebaran geografis pembangunan 
tiap negara. Polanya masih timpang, terpolarisasi. Harapan ke 
depannya, setidaknya "lebih inclusive", pelayanan publik lebih 
terbuka untuk semua lapisan. 

Kesimpulannya, ya memperjuangkan terus penyebaran/pemerataan 
pembangunan antar wilayah (horizontal). Tapi jangan lupa bahwa pada 
pusat-pusat yang ada mesti lebih segera dibuka akses yang lebih rata 
antar lapisan (vertikal). Mungkin begitu?

Dan, kalau mau "berjuang betulan" ya mesti tahu juga bahwa dalam era 
ini "kampanye ide & advokasi" itu mesti dilakukan sebagai gerakan, 
melibatkan forum-forum, lobi-lobi dengan semua pihak. Gak bisa 
berjuang bikin UU, bikin PP terus otomatis semua bergerak. 
Harus pula jelas (clear) argumentasinya bagi semua pihak, bahwa 
pemerataan (yang hasilnya tampak jangka menengah dan panjang) itu 
lebih 'baik' daripada pertumbuhan jangka pendek, tapi menimbulkan 
masalah jangka panjang. Sementara umur setiap rezim pemerintahan 
nasional/daerah ya hanya lima tahunan.

Sampai disini harus diakui keterbatasan dari planner (kita-kita ini)
sebagai profesi teknis, mayoritas anggotanya juga birokrat dan 
rekanannya, yang tidak hobi berpolitik, untuk mau/mampu melakukan 
gerakan yang hampir tak ada bukti empiris suksesnya di muka bumi 
tersebut. Nyatanya keberhasilan pemerataan pembangunan, dan 
manfaatnya di negara sedang berkembang masih lebih berupa retorika.

(Untuk menggoda Mas Andri. Mungkin yang emosional seperti Anda itu 
sebagian adalah mereka yang pernah tinggal di Jakarta/Jawa 
terus "harus" tinggal di daerah luar Jawa. Tapi orang-orang di 
daerah itu biasa-biasa saja. Kalau melihat peta dunia, di USA juga 
ada Omaha, Greenland, tidak semua seperti New York)

Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah" 
<takdi...@...> wrote:
>
> ha ha ha.....lucu juga
> 
> abimanyu
> 
> 2008/12/19 Mohammad Andri Budiman <mand...@...>
> 
> >   --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>,
> > "Mohammad Andri Budiman"
> > <mandrib@> wrote:
> > > Mengapa tidak berpikir untuk meyakinkan para penguasa, artis-
artis
> > > sinetron, kaum berduit, dan berpengaruh di negeri ini untuk 
berhenti
> > > tinggal di Jakarta?
> > >
> > > Salam,
> > > Andri
> > >
> >
> > Mohon maaf. Saya salah. Tidak ada yang bisa memaksa mereka 
tinggal di
> > manapun. Itu hak azasi orang per orang.
> >
> > Lagi pula, siapa yang mau tinggal di daerah kalau sudah makmur? 
Di
> > daerah tidak ada "entertainment". (Orang daerah pun bingung
> > "entertainment" itu bahasa apa?).
> >
> > Di daerah kalau ada apa-apa susah dapat perhatian Pemerintah 
Pusat. Di
> > Sumbagut, misalnya, sudah pemadaman lampu bergilir bertahun-
tahun,
> > siapa yang peduli? (Di Jakarta cukup satu hari mati lampu untuk
> > membuat Bapak Wapres berkomentar dan cukup satu pemadaman di 
Stadion
> > Gelora Bung Karno untuk membuat Bapak Presiden menelepon Bapak 
Menteri
> > ESDM dan kemudian Bapak Dirut PLN pun terbirit-birit meninjau 
lokasi).
> >
> > Di daerah orangnya sirik-sirik. Wajar saja mereka sirik, sumber 
daya
> > alam ada di mereka, tapi uangnya ada di Jakarta. 75% uang 
nasional ada
> > di Jakarta? 60%? Angka tidak penting: ada gula ada semut, 
urbanisasi
> > ke Jakarta makin meningkat. (Mereka orang-orang daerah yang 
datang
> > (belakangan) ke Jakarta tidak tahu diri, siapa mereka itu, bikin
> > macet, usir saja, Bapak Gubernur!).
> >
> > Kalau tidak ada investasi masuk ke daerah, itu bukan salah 
Pemerintah
> > Pusat. Salah sendiri, rakyat daerah kok memilih Gubernur atau 
Bupati
> > yang tidak pandai menarik investor. (Jakarta lain. Investasi apa 
aja
> > bisa, balik balik modal juga gampang, wong investor pasti yakin
> > uangnya ada di situ. Bisnis tol dalam kota? Cuma ada dan hanya 
bisa di
> > Jakarta!)
> >
> > Problem Jakarta adalah Problem Nasional. Problem daerah? Kan 
sudah ada
> > desentralisasi? Urus diri sendiri dong. Mau nambah anggaran buat 
APBD?
> > Silakan berebut dengan daerah-daerah lain, kami sedang fokus 
untuk
> > proyek MRT di Jakarta.
> >
> > Mari tingkatkan Pemusatan Segala-galanya di Jakarta. Uang. 
Kekuasaan.
> > Hiburan. Utang -- upps, maaf, yang terakhir ini tentu harus tetap
> > ditanggung bersama-sama secara Nasional.
> >
> > Kami berhak. Mereka tidak. Ibukota RI tetap kami, Jakarta.
> >
> > Jadi, daerah-daerah Kasta Sudra, berhentilah kalian berteriak dan
> > bergolak!
> > Sing podo rukun.
> > Biar kami, Jakarta, yang "menikmati" macet harian dan banjir 
tahunan
> > ini..:-)
> >
> > Salam,
> > Andri
> >
> >  
> >
>


Kirim email ke