Pak Risfan ysh, saya sudah intip sebentar The Prince yang ditunjuk Pak
Risman. Mengenai 'realita' sebenarnya adalah bentuk penulisan
etnografis, dengan penafsiran ybs dari sudut pandangan dan pengalaman
politiknya; sekaligus mengawali penelaahan sistem politik modern yang
sudah berkembang sedemikian rupa hingga saat ini. Juga menarik bila kita
telaah 'sistem pemerintahan kota', yang kemudian oleh lawan-lawannya
dikembangkan sebagai suatu bentuk 'seni pengaturan' (to govern) yang
dipimpin oleh seorang 'governor'. Dan sejak itu sudah mulai ada
pelencengan penafsiran sesudahnya. Tapi saya memang harus membaca secara
utuh teks aslinya untuk bersetuju dengan Foucault.

Mengenai 'mitos' (myths) memang dibangun secara tradisi, dan selain itu
juga ada 'symbol' dan 'ritual'. Sistem kekuasaan sangat kaya dengan
mitos, simbol, dan ritual. Dan kalau mau sampai kepada skema vernakular
kemasyarakatan sebagaimana didambakan Mbak Nita dkk, maka sebenarnya
tinggal mengupas satu demi satu mitos, simbol, dan ritual itu. Jadi
kupas kulit tampak isi.

Kisah Mataram Baru melalui Ki Pamanahan yang minum es degan juga
merupakan tipikal vernakular masyarakat 'Jawa Lama', ketika sistem
kekuasaan tidak lagi harus melalui 'jalur pertalian darah', yang selama
ini diyakini merupakan 'tonggak tuo' bagi inti kekuasaan. Fenomena ini
sangat tipikal Indonesia, seharusnya ada peneliti yang mau mengungkap
hal ini sebagai warisan kelas dunia.

Sementara demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan Rekans ysh,
> Â
> Saya baca risalah Machiaveli itu waktu mahasiswa dulu. Seingat saya
dia menulis berdasarkan "realita" (fenomena?) membangun dan memelihara
"kekuasaan".
> Dengan keawaman saya dalam bidang politik kayaknya tulisan M lebih
realistis. Kalau dikritik tidak etis, barangkali "realita kekuasaan" itu
yang tidak etik, bukan penulisnya. Bahwa realita itu disampaikan ke raja
yang dipilihnya, itu mungkin yang dikritik.
> Â
> Sepertinya di dunia politik banyak "mitos" yang ditanamkan, bukan
"realita". Akibatnya banyak kebohongan, kemunafikan. Kalau masyarakat
tidak mau tertipu oleh "pemimpin" sebaiknya tahu realita/fenomena.
> Â
> Contoh mitos, "Hanibal itu raja kuat, memakmurkan bangsanya; SAYANG
DIA KEJAM", Kenyataannya kata Machiavelli, "Awalnya Hanibal membangun
kekuasaan dengan KERAS, karena itu kepemimpinannya sangat efektif dan
KUAT. Dengan itulah dia bisa memakmurkan bangsanya."
> Â
> Mungkin masyarakat sekarang juga perlu belajar realita, bukan mitos
dan retorika visi, misi. Kalau calon pemimpin kuat, kaya raya, mau
menggratiskan semua pelayanan. Mestinya ditanyakan "uangnya dari mana",
pekerjaan asalnya apa?. (Jangan harap bersih 100%, nanti tertipu).
Bandingkan saja di antara mereka.
> Â
> Salam,
> Risfan Munir
>
> --- On Thu, 1/21/10, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> Referensiers ysh,
> Ada satu buku yang sedang saya cari-cari, yaitu "Il Principe" (The
Prince, Sang Raja), karya Niccolo di Bernardo dei Machiavelli 
(1469-1527). Sebuah buku yang sangat terkenal sepanjang masa, pernah
dilarang oleh Paus Clement VIII, dan menimbulkan salah penafsiran
berabad-abad; juga memunculkan stigma: 'Makiavelist', pencinta
kedigjayaan, menghalalkan segala cara untuk memelihara kekuasaan, dlsb.
> Namun Foucault L4 (lu lagi lu lagi), menjelaskan bahwa ada 'kesalahan
persepsi' berabad-abad tentang maksud Machiavelli, sebagaimana disebut
dalam tulisannya "Governmentality" (terjemahan tidak sempurna dan tidak
lengkap tersedia di milis Kebudayaan). Saya menangkap dari Foucault
bahwa Il Principe merupakan tulisan fenomenologi tentang seorang
'Prince' yang dikarakterisasi satu prinsip ('princ'iple) dalam posisi
'princ'ipal- nya dengan eksternalitas dan transendental, untuk
mengukuhkan 'princ'ipality- nya. Jadi sebenarnya pada era itu (awal abad
16) sudah ada 'gerakan reformasi dan dekonstruksi' di daratan Eropah,
yang kemudian dikenali sebagai Renaissance Age (era pencerahan, raushan
fikr, aufklarung). Selain Machiavelli terdapat beberapa penulis lain
yang meng-kawal-i era tersebut, namun memang hanya tulisan Machiavelli
yang diserang habis-habisan selama berabad-abad. Terdapat berbaris-baris
penentangnya, seperti Ambrozio Politi, Innocent Gentiller,
> de La Perriere, Th Elyott, P Paruta, dll, ini di era abad 16 saja.
Namun baru dua abad kemudian ada pendapat yang berbeda disampaikan oleh
JJ Rousseau yang berbicara tentang 'ruang kedaulatan'; serta dua abad
kemudian hal ini diperjelas lagi oleh seorang Foucault.
> Kurang lebih penafsiran Foucault: analisis tentang The Prince sudah
diwarnai berabad-abad dengan konsep 'the art of government' (padahal
Machiavelli hanya berbicara tentang 'fenomenologi' , ini tafsiran saya
atas tafsiran Foucault); dan aspek 'mentality' dapat dipisah dari
ruang 'soverignity' .
> Demikian. Salam.
> -ekadj
>



Kirim email ke