Adimas Dr. Djarot dan Pak Risman ysh,
++++:  Pak Risman, saya baru tahu dari Pak Deden rabu kemarin bahwa cara 
berpikir yang struktural-hirarkis dengan model-model kota ideal yang diambil 
dari khasanah "barat" (bukan menegasikan barat ya)  jika diterapkan di habitat 
kehidupan kita adalah "memaksakan" cara pikir tertentu pada situasi lokal yang 
penuh keunikan. 
>>>>: saya nggak tahu dan gak jelas konteks seminar/ ceramah anda dkk bersama 
>>>>Dr. Deden itu apakah  ttg arsitektur kota,  sosial ekonomi kota, budaya 
>>>>kota  atau ttg apanya kota dan atau apanya desa ……… saya terkejut bhw  
>>>>“barat”ternyata  dianggap sbg elemen asing yg (aplg bila dipaksakan) bisa 
>>>>merusak habitat kehidupan kita dan merusak situasi lokal kita yg penuh 
>>>>keunikan……. Pdhal kalau tdk salah …. Yg namanya sistem perpipaan saja 
>>>>dimana memungkinkan kita mengalirkan air  bersih kedlm rumah dan 
>>>>mengalirkan  air kotor keluar rumah dgn rapih, kering dan bersih adlh jg  
>>>>asalnya  ya dari ‘barat’2 sana juga…... dimana kalau tidak barangkali yg 
>>>>namanya para putri2 atau raja2 Majapahit atau Srivijaya  atau  Mataram atau 
>>>>para pembesar Belanda dan istri2nya dulu kalau pada mau pup hrs pakai 
>>>>pispot dan menyimpan hasilnya dulu dlm kamar dan baru pd malam  harinya dlm 
>>>>gelap para abdi dalem mengendap2 lalu membuangnya dikali (atau
 pdhal pake model kolam ikan mas dn mujair serta tangkringan diatasnya bukankah 
kearifan lokal yg oke juga ya?) …….  Begitu juga listrik….. kenapa kita kok 
memaksakan memakainya ya?….. pdhal bukankah  teknologi minyak kelapa kita dan 
uceng jg bisa  menjadi alat penerang dimalam hari yg sustainable?...... juga 
kenapa harus kompor gas pdhal ada tungku kayu bakar dan arang?...... komputer, 
mobil, televisi, HP, kamera, VCD…. Apakah juga harus?.. padahal dulu pangeran 
Diponegoro, Pangeran Puger  atau Teuku Umar jg tak memerlukan barang2 spt  itu 
khan ya?………. 
 
++++: Saya melihatnya semacam "kolonialisasi baru" dan itu menurut Pak Deden 
berbau Chicago dan Los Angeles dengan landasan "mean-end" approach.
>>>>>: Iya iya saya baru mulai menyadari hal itu sekarang……. Saya pikir kalau 
>>>>>ada yg bilang bhw awal mula penemuan mesin  itu adanya di Glasgow dan 
>>>>>Birmingham dan revolusi industri dimulai dari sana …….saya kira itu adlh 
>>>>>pembohongan sejarah …… krn yg benar awal mula  adanya perkembangan kota 
>>>>>dari semula desa yg dipicu oleh revolusi industri itu awalnya ya di 
>>>>>Chicago dan LA itu……. Lalu baru dari sanalah  menular ke Glasgow dan 
>>>>>Birmingham dll.  :-))…….
 
++++:  Jika kita ingin mengembangkan nasionalisme kita dalam bidang intelektual 
(planning) dan "bangga suka desa" atau "kampung" (dengan menu tempenya) menjadi 
sumber teori bagi perencanaan ruang-ruang kota kita, tampaknya hirarki yang 
idealistis konon memang harus ditinggalkan, minimal dikaji secara kritis se 
kritis-kritisnya. Hasilnya mungkin adalah modifikasi, persenyawaan atau 
percampuran pemikiran lokal dan yang lain, maka jadilah posmodernisme dalam 
perencanaan ruang kota. 
>>>>: iya sih salahnya saya adlh saya terlampau berpikir kebarat2an……. Sehingga 
>>>>saya bingung memisahkan pengertian antara  “perencanaan nasional” dan  
>>>>“mengembangkan nasionalisme dibidang perencanaan”  yg seharusnya berawal 
>>>>dari “bangga suka desa”……atau “bangga suka kampung dan tempenya”…… 
>>>>sekaligus saya bingung memisahkan antara  “perencanaan sosekbudhankam  
>>>>ruang secara nasional” dan  “perencanaan bud saja dari ruang secara 
>>>>nasional”…….. tapi sebenarnya kalau kita semua mau ikut pemikiran “bangga 
>>>>suka desa’ atau “bangga suka kampung” itu sebenarnya caranya sih mudah 
>>>>saja………. Semua kota kita janganlah  lagi pake hirarkhi .. tapi agar semua 
>>>>kembali kebudaya desa saja…… semua apa2 saja yg berbau mesin dan listrik 
>>>>kita singkirkan krn itu adalah budaya kota, budaya revolusi industri…… 
>>>>jangan lagi ada mobil, bandara dan pesawat terbang krn semuanya telah 
>>>>diubah menjadi desa…. Dan mereka2
 yg datang dari Jepang,  Eropa atau Amerika sana agar mengakhiri penerbangannya 
di Singapura…. Lalu menyeberang ke Batam dan dari Batam barulah dgn kapal layar 
datang ke Sunda Kelapa/ Batavia … dan kalau mau ke Yogya misalnya agar memakai 
caranya Daendels… ialah memakai kereta kuda atau delman juga boleh, toh 
jalannya sekarang sudah licin tidak susah spt waktu masa awal Daendels dulu…… 
dan ketika sampai di Yogya makanan kearifan lokal telah siap menanti ……gudeg 
dan tempe dari biji lamtorogung (krn kalau berani sajikan tempe dari  kedele 
siap2 saja  kalo nanti ditanya oleh pak Risfan, kedelenya dari mana?) 
hehe…….salam, aby 

--- On Thu, 1/28/10, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:


From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: [email protected]
Date: Thursday, January 28, 2010, 8:56 PM


  







Pak Risman, saya baru tahu dari Pak Deden rabu kemarin bahwa cara berpikir yang 
struktural-hirarkis dengan model-model kota ideal yang diambil dari khasanah 
"barat" (bukan menegasikan barat ya) jika diterapkan di habitat kehidupan kita 
adalah "memaksakan" cara pikir tertentu pada situasi lokal yang penuh keunikan. 
Saya melihatnya semacam "kolonialisasi baru" dan itu menurut Pak Deden berbau 
Chicago dan Los Angeles dengan landasan "mean-end" approach. Jika kita ingin 
mengembangkan nasionalisme kita dalam bidang intelektual (planning) dan "bangga 
suka desa" atau "kampung" (dengan menu tempenya) menjadi sumber teori bagi 
perencanaan ruang-ruang kota kita, tampaknya hirarki yang idealistis konon 
memang harus ditinggalkan, minimal dikaji secara kritis se kritis-kritisnya. 
Hasilnya mungkin adalah modifikasi, persenyawaan atau percampuran pemikiran 
lokal dan yang lain, maka jadilah posmodernisme dalam perencanaan ruang kota. 
Jika kita tetap keukeuh dengan
 imajinasi struktural-hirarkis seperti Eyang saya ABY yang terhormat, tampaknya 
kita terjebak pada "planning for the sake of planning"... ..Apakah begitu, 
nyuwun sewu Eyang ABY....

Seminar kemarin menginspirasi bahwa kampung dan desa menjadi sumber teori 
perencanaan ruang kota....jika dulu kita disebut "bangsa tempe" adalah 
berkonotasi rendah-lemah, maka sekarang harus dimaknai secara baru....tempe 
atau krupuk harus menjadi kebanggaan kita....meskipun tidak soliter dari 
gagasan-gagasan orang lain....

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Fri, 1/29/10, R Maris <par...@indo. net.id> wrote:


From: R Maris <par...@indo. net.id>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, January 29, 2010, 11:31 AM


  

Pak Mod, Pak Aby, Pak Djarot, teman-teman,
Yah begitulah Pak Aby, kini sakkenanya saja ngopi dan nginep, sepanjang asam 
urat mengizinkan, harap maklum.
Sangat ingin meninjau lagi konsepsi Pak Aby tentang membangun hirarki kota-kota 
Nusantara. Mulai Kota Kecil Pusat Layan Desa, sampai ke Metropolis dan 
Megapolis itu, dan bagaimana yang dua terakhir ini perlu didistribusikan secara 
pintar ke tiap pulau; mulai dengan Makasar, target berpenduduk lima juta bukan? 
Sungguh perlu satu badan independen pemerhati, peneliti, dan pengawal 
pembangunan kota berencana --- say, metropolis Banda Aceh, Medan, Pakanbaru, 
Palembang, Pontianak, Ketapang, Pangkalan Bun, Banjarmasin, Balikpapan, Tanjung 
Redeb, Manado-Bitung, Makasar, Bari (di Buru), Masohi,  Ambon, Fakfak, 
Jayapura, Merauke, Kupang, Waingapu, Mataram, Banyuwangi, Probolinggo, 
Pekalongan, Tegal, Banten, Merak-Cilegon. Kemudian megapolis Jakarta-Bandung, 
Cirebon-Cilacap, Semar-Joglo, dan Suramadu-Jombang- Kediri, masing-masing 
berapa, 25 juta penduduk pemukim? Jadi seratus juta di Jawa nan sesak sudah 
dapat kita sediakan ruang urban yang relatif baik dan rapi,
 tidak ekstensif lapar lahan. Kita tanya kawan-kawan di DitJen Taru, apa versi 
terbaru 'National Urbanization Policy'? Tentu untuk gambaran program 5 - 10 
tahun sudah ada PP No 26 Th 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 
yang barangkali lebih lancar geraknya jika bisa diterangkan melalui kebijakan 
perkotaan nasional dari setiap Presiden+Kabinet yang sedang berkuasa. Termasuk 
alokasi anggaran technical assistance, fora, serta insentif/disinsenti f 
konstruksi kota-kota. Apa kata DPD?
Pak Aby dan Pak Mod, kali ini terdorong semangat saya oleh karena melihat 
begitu berjubel-jubelnya uang negeri ini: semua software di atas barangkali tak 
akan memakan biaya lebih dari 10 mobil menteri dan10 rumah anggota DPR. 
Kemudian program kabinetnya coy! Bertangkaikan jembatan Selat Malaka, jembatan 
Selat Sunda, jaringan Nasional jalan, energi dan infrastruktur lainnya, 
peningkatan pelayanan pelabuhan, revitalisasi industri manufaktur, pendidikan, 
kesehatan, wah, rasanya physical planner itu akan dipisuhi masyarakat jika tak 
membantu menjawab: DI MANA dan KAPAN? Dan tentu saja, sebaiknya dijawab SEPULUH 
TAHUN sebelum upacara ground breaking!
Terima kasih kepada Pak Djarot mengingatkan kita akan Perancis, negeri termaju 
di Eropa pada masanya itu, saking majunya di tahun 1789 saja semua raja dan 
bangsawan di guillotine, menjadi Republik dengan perlu bersusah payah melalui 
fase Napoleon dan Kekaisaran segala. Sungguh dipujiken jika Pak Darwis bisa 
bercerita di sini tentang peran keilmuan Perancis bagi Asia Tenggara, Indonesia 
khususnya --- ingat saya terakhir Denys Lombard dengan bukunya Nusa Jawa: 
Silang Budaya. Hallo Pak Dadang DJPR, ingat studi orang Perancis tentang Dayak 
di tengah Kalimantan itu, saya berikan situ karena saya tak bisa berbahasa 
Perancis?
Pak Mod dan Pak Djarot, berbagai cara pandangan hidup cq filsafat yang dibawa 
oleh semua pendatang ke arkipelago yang begini terbuka, sejak Mongol/Proto 
Melayu, Vietnam/Deutero Melayu, India, China, Arab, Barat, dll pastilah 
berinteraksi dengan manusia Nusantara yang sudah ada sejak dua setengah juta 
tahun itu, Jawa phitecantropus erectus dan orang Flores atau keturunannya. Saya 
duga ada tiga macam godokan yang terjadi: gado-gado, bawang, dan hidangan 
(Padang). Gado-gado budaya umumnya di semua pesisir; berlapis-lapis kulit 
bawang umumnya tercipta di pedalaman yang jika dikupas satu persatu menyisakan 
keheningan buddhistik barangkali, atau pemujaan nenek-moyang dan animistik. 
Yang hidangan itu, Pak Mod, salah satu contohnya Minangkabau, semua pikiran 
yang datang jadi piring lauk-pauk tersendiri, tetap terpisah dan jelas, boleh 
dimakan boleh tidak: asal nasinya tetap saja matriarchy, adat mamak-kemenakan, 
adat Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan
 Sebatang; Adityawarman boleh datang boleh pergi, tak setapak lahan atau sebuah 
dangau yang dapat diakunya sebagai hak milik.
Maka bicara-bicara mazhab dalam Indonesian School of Planning, tidakkah 
sekurangnya akan terdapat tiga buah, berlandaskan tata serapan gelombang alam 
pikiran dunia itu?


Wassalam,
Risman Maris   
     




On Jan 23, 2010, at 8:01 AM, hengky abiyoso wrote:


  






Halo pak Risman ysh, 
Trims atas sapaan hangatnya …. Sudah agak lama gak jumpa ya? ….. saya 
sebenarnya ingin banyak men-stigma-in  bapak dan ingin banyak mendengar  
stigma-an dari  bapak lho…. Tapi bgmn kalau caranya sambil  kita kopi darat dan 
nginep lagi di cipanas spt waktu itu?….. atau barangkali cukup sore2 saja gitu  
kita stigma2an  berdua dikantornya mas Panpan sambil godain pak Eka kalau 
kebetulan beliau pas lewat?...... .salam, 
aby

--- On Fri, 1/22/10, R Maris <par...@indo. net.id> wrote:


From: R Maris <par...@indo. net.id>
Subject: [referensi] Tantangan 2010
To: [email protected]
Date: Friday, January 22, 2010, 1:00 AM


  


STOP PRESS! STOP PRESS! BREAKING NEWS ........ !!!!


Kepala Negara, Bapak SBY, berapat komunikasi di Bogor dengan segenap pimpinan 
lembaga tertinggi negara yaitu DPR, MPR, MA, KY, MK, BPK. Dalam konferensi pers 
Kamis sore 21 Januari 2010 seusai rapat tersebut Bapak SBY menyatakan, telah 
dibahas dan disepakati untuk sepanjang 5 tahun ke depan semua lembaga negara 
sangat memperhatikan 13 poin masalah/issues beserta ancang-ancang pokok 
penyelesaiannya ......
 





From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
Date: January 22, 2010 8:45:32 PM GMT+07:00
To: refere...@yahoogrou ps.com
Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com


Sahabats,

Teman saya Darwis Khudori yang bekerja di Perancis menulis bahwa eropa dan 
amerika berakar pada pohon yang sama, sedangkan nusantara memiliki akar yang 
berbeda. Tampaknya kiat mesti jernih memandang persoalan filsafat barat dan 
timur ini. India dan Cina punya akar pohon yang berbeda pula. Saya tidak tahu 
apakah ilmuwan filsafat (maksudnya sarjana filsafat) dan jurusan filsafat juga 
tertarik meneliti "filsafat vernakular" ini ??? 

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 1/21/10, R Maris <[email protected]> wrote:

............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... 
......... .........
............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... .










      

Kirim email ke