Pak Risman, saya baru tahu dari Pak Deden rabu kemarin bahwa cara berpikir yang 
struktural-hirarkis dengan model-model kota ideal yang diambil dari khasanah 
"barat" (bukan menegasikan barat ya) jika diterapkan di habitat kehidupan kita 
adalah "memaksakan" cara pikir tertentu pada situasi lokal yang penuh keunikan. 
Saya melihatnya semacam "kolonialisasi baru" dan itu menurut Pak Deden berbau 
Chicago dan Los Angeles dengan landasan "mean-end" approach. Jika kita ingin 
mengembangkan nasionalisme kita dalam bidang intelektual (planning) dan "bangga 
suka desa" atau "kampung" (dengan menu tempenya) menjadi sumber teori bagi 
perencanaan ruang-ruang kota kita, tampaknya hirarki yang idealistis konon 
memang harus ditinggalkan, minimal dikaji secara kritis se kritis-kritisnya. 
Hasilnya mungkin adalah modifikasi, persenyawaan atau percampuran pemikiran 
lokal dan yang lain, maka jadilah posmodernisme dalam perencanaan ruang kota. 
Jika kita tetap keukeuh dengan
 imajinasi struktural-hirarkis seperti Eyang saya ABY yang terhormat, tampaknya 
kita terjebak pada "planning for the sake of planning".....Apakah begitu, 
nyuwun sewu Eyang ABY....

Seminar kemarin menginspirasi bahwa kampung dan desa menjadi sumber teori 
perencanaan ruang kota....jika dulu kita disebut "bangsa tempe" adalah 
berkonotasi rendah-lemah, maka sekarang harus dimaknai secara baru....tempe 
atau krupuk harus menjadi kebanggaan kita....meskipun tidak soliter dari 
gagasan-gagasan orang lain....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 1/29/10, R Maris <[email protected]> wrote:

From: R Maris <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: [email protected]
Date: Friday, January 29, 2010, 11:31 AM







 



  


    
      
      
      Pak Mod, Pak Aby, Pak Djarot, teman-teman,        Yah begitulah Pak Aby, 
kini sakkenanya saja ngopi dan nginep, sepanjang asam urat mengizinkan, harap 
maklum.    Sangat ingin meninjau lagi konsepsi Pak Aby tentang membangun 
hirarki kota-kota Nusantara. Mulai Kota Kecil Pusat Layan Desa, sampai ke 
Metropolis dan Megapolis itu, dan bagaimana yang dua terakhir ini perlu 
didistribusikan secara pintar ke tiap pulau; mulai dengan Makasar, target 
berpenduduk lima juta bukan? Sungguh perlu satu badan independen pemerhati, 
peneliti, dan pengawal pembangunan kota berencana --- say, metropolis Banda 
Aceh, Medan, Pakanbaru, Palembang, Pontianak, Ketapang, Pangkalan Bun, 
Banjarmasin, Balikpapan, Tanjung Redeb, Manado-Bitung, Makasar, Bari (di Buru), 
Masohi,  Ambon, Fakfak, Jayapura, Merauke, Kupang, Waingapu, Mataram, 
Banyuwangi, Probolinggo, Pekalongan, Tegal, Banten, Merak-Cilegon. Kemudian 
megapolis Jakarta-Bandung, Cirebon-Cilacap, Semar-Joglo, dan Suramadu-Jombang-
 Kediri, masing-masing berapa, 25 juta penduduk pemukim? Jadi seratus juta di 
Jawa nan sesak sudah dapat kita sediakan ruang urban yang relatif baik dan 
rapi, tidak ekstensif lapar lahan. Kita tanya kawan-kawan di DitJen Taru, apa 
versi terbaru 'National Urbanization Policy'? Tentu untuk gambaran program 5 - 
10 tahun sudah ada PP No 26 Th 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 
Nasional; yang barangkali lebih lancar geraknya jika bisa diterangkan melalui 
kebijakan perkotaan nasional dari setiap Presiden+Kabinet yang sedang berkuasa. 
Termasuk alokasi anggaran technical assistance, fora, serta insentif/disinsenti 
f konstruksi kota-kota. Apa kata DPD?        Pak Aby dan Pak Mod, kali ini 
terdorong semangat saya oleh karena melihat begitu berjubel-jubelnya uang 
negeri ini: semua software di atas barangkali tak akan memakan biaya lebih dari 
10 mobil menteri dan10 rumah anggota DPR. Kemudian program kabinetnya coy! 
Bertangkaikan jembatan Selat Malaka, jembatan Selat
 Sunda, jaringan Nasional jalan, energi dan infrastruktur lainnya, peningkatan 
pelayanan pelabuhan, revitalisasi industri manufaktur, pendidikan, kesehatan, 
wah, rasanya physical planner itu akan dipisuhi masyarakat jika tak membantu 
menjawab: DI MANA dan KAPAN? Dan tentu saja, sebaiknya dijawab SEPULUH TAHUN 
sebelum upacara ground breaking! Terima kasih kepada Pak Djarot mengingatkan 
kita akan Perancis, negeri termaju di Eropa pada masanya itu, saking majunya di 
tahun 1789 saja semua raja dan bangsawan di guillotine, menjadi Republik dengan 
perlu bersusah payah melalui fase Napoleon dan Kekaisaran segala. Sungguh 
dipujiken jika Pak Darwis bisa bercerita di sini tentang peran keilmuan 
Perancis bagi Asia Tenggara, Indonesia khususnya --- ingat saya terakhir Denys 
Lombard dengan bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya. Hallo Pak Dadang DJPR, ingat 
studi orang Perancis tentang Dayak di tengah Kalimantan itu, saya berikan situ 
karena saya tak bisa berbahasa
 Perancis?      Pak Mod dan Pak Djarot, berbagai cara pandangan hidup cq 
filsafat yang dibawa oleh semua pendatang ke arkipelago yang begini terbuka, 
sejak Mongol/Proto Melayu, Vietnam/Deutero Melayu, India, China, Arab, Barat, 
dll pastilah berinteraksi dengan manusia Nusantara yang sudah ada sejak dua 
setengah juta tahun itu, Jawa phitecantropus erectus dan orang Flores atau 
keturunannya. Saya duga ada tiga macam godokan yang terjadi: gado-gado, bawang, 
dan hidangan (Padang). Gado-gado budaya umumnya di semua pesisir; 
berlapis-lapis kulit bawang umumnya tercipta di pedalaman yang jika dikupas 
satu persatu menyisakan keheningan buddhistik barangkali, atau pemujaan 
nenek-moyang dan animistik. Yang hidangan itu, Pak Mod, salah satu contohnya 
Minangkabau, semua pikiran yang datang jadi piring lauk-pauk tersendiri, tetap 
terpisah dan jelas, boleh dimakan boleh tidak: asal nasinya tetap saja 
matriarchy, adat mamak-kemenakan, adat Datuk Katumanggungan dan Datuk
 Perpatih Nan Sebatang; Adityawarman boleh datang boleh pergi, tak setapak 
lahan atau sebuah dangau yang dapat diakunya sebagai hak milik.      Maka 
bicara-bicara mazhab dalam Indonesian School of Planning, tidakkah sekurangnya 
akan terdapat tiga buah, berlandaskan tata serapan gelombang alam pikiran dunia 
itu?
Wassalam,Risman Maris                           
On Jan 23, 2010, at 8:01 AM, hengky abiyoso wrote:





 



    Halo pak Risman ysh, 
Trims atas sapaan hangatnya …. Sudah agak lama gak jumpa ya? ….. saya 
sebenarnya ingin banyak men-stigma-in  bapak dan ingin banyak mendengar  
stigma-an dari  bapak lho…. Tapi bgmn kalau caranya sambil  kita kopi darat dan 
nginep lagi di cipanas spt waktu itu?….. atau barangkali cukup sore2 saja gitu  
kita stigma2an  berdua dikantornya mas Panpan sambil godain pak Eka kalau 
kebetulan beliau pas lewat?...... .salam, 
aby

--- On Fri, 1/22/10, R Maris <par...@indo. net.id> wrote:


From: R Maris <par...@indo. net.id>
Subject: [referensi] Tantangan 2010
To: [email protected]
Date: Friday, January 22, 2010, 1:00 AM


  


STOP PRESS! STOP PRESS! BREAKING NEWS ........ !!!!


Kepala Negara, Bapak SBY, berapat komunikasi di Bogor dengan segenap pimpinan 
lembaga tertinggi negara yaitu DPR, MPR, MA, KY, MK, BPK. Dalam konferensi pers 
Kamis sore 21 Januari 2010 seusai rapat tersebut Bapak SBY menyatakan, telah 
dibahas dan disepakati untuk sepanjang 5 tahun ke depan semua lembaga negara 
sangat memperhatikan 13 poin masalah/issues beserta ancang-ancang pokok 
penyelesaiannya ...... 

From:   Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>    Subject:        Re: [referensi] 
Tantangan 2010  Date:   January 22, 2010 8:45:32 PM GMT+07:00   To:     
refere...@yahoogrou ps.com      Reply-To:       refere...@yahoogrou ps.com
Sahabats,

Teman saya Darwis Khudori yang bekerja di Perancis menulis bahwa eropa dan 
amerika berakar pada pohon yang sama, sedangkan nusantara memiliki akar yang 
berbeda. Tampaknya kiat mesti jernih memandang persoalan filsafat barat dan 
timur ini. India dan Cina punya akar pohon yang berbeda pula. Saya tidak tahu 
apakah ilmuwan filsafat (maksudnya sarjana filsafat) dan jurusan filsafat juga 
tertarik meneliti "filsafat vernakular" ini ??? 

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 1/21/10, R Maris <[email protected]> wrote:
............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... 
......... ..................... ......... ......... ......... ......... 
......... ......... .


    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke