Pak Risman dan Pak Djarot ysh. Sambil menunggu orang-orang yang bapak
'himbau', saya coba komentar bagian terakhir tulisan bapak mengenai 3
mazhab utama yang dulu
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2506>   pernah bapak
sampaikan. Dalam perkembangan per-kangouw-an dewasa ini, ternyata sudah
banyak berdiri padepokan2 silat baru yang mengajarkan aneka jurus
kembangan baru. Malah jurus-jurus asli vernakular sudah mulai menghilang
di padepokan tuo; sehingga saya terkadang mulai merasa asing ketika
berkunjung kemarin. Jadi sebenarnya ini hukum alam juga: bila
jurus-jurus dipengaruhi oleh 'pengalaman para guru'nya, dan juga
perkembangan alam sekitar yang menuntut manusia untuk beradaptasi. Kita
yang berada di sekitar puncak menara emas sedang menunggu waktu sedikit
lagi di 2010 ini: apakah ada upaya re-... Bila tidak, pola perkembangan
mazhab akan semakin meluas menjadi 70 firqoh berikut varian-variannya.

Pengkutuban pemikiran (mazhab) saya kira tidak bisa dihindarkan di 2010
ini. Sebenarnya ada satu lagi potensial mazhab dari Bandung yang
bercitra teknokratik, namun dari dulu tidak pernah matang, karena
variannya terlalu majemuk. Yang agak menonjol sebenarnya pada aspek
controlling, seperti yang sedang kita nikmati diskusinya sekarang ini.
Namun butuh waktu sedikit lagi untuk benar-benar matang, dan punya
beberapa pendukung setia. Tapi memang cukup berat, karena bersifat
'konstruktif'.

Poros Salemba-Darmaga sebenarnya bermain dalam issue lingkungan dan
kelautan, dan potensial juga atau pernah menjadi mazhab. Namun issuenya
kurang sexy di tahun 2010 ini, atau hingga 5 tahun mendatang. Jadi
memang heavy 2010 hingga beberapa tahun ke depan akan berkutat pada
constructing dan controlling. Sungguh bagaimana kita melihat 2010 ini,
sebagaimana bapak perkirakan, akan sangat menarik sebagaimana Mao Tse
Tung mengatakan: biarkan seratus bunga mekar, biarkan seratus pikiran
berlaga.

Sementara demikian dulu pak, pengamatan saya yang naif. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Risman, saya baru tahu dari Pak Deden rabu kemarin bahwa cara
berpikir yang struktural-hirarkis dengan model-model kota ideal yang
diambil dari khasanah "barat" (bukan menegasikan barat ya) jika
diterapkan di habitat kehidupan kita adalah "memaksakan" cara pikir
tertentu pada situasi lokal yang penuh keunikan. Saya melihatnya semacam
"kolonialisasi baru" dan itu menurut Pak Deden berbau Chicago dan Los
Angeles dengan landasan "mean-end" approach. Jika kita ingin
mengembangkan nasionalisme kita dalam bidang intelektual (planning) dan
"bangga suka desa" atau "kampung" (dengan menu tempenya) menjadi sumber
teori bagi perencanaan ruang-ruang kota kita, tampaknya hirarki yang
idealistis konon memang harus ditinggalkan, minimal dikaji secara kritis
se kritis-kritisnya. Hasilnya mungkin adalah modifikasi, persenyawaan
atau percampuran pemikiran lokal dan yang lain, maka jadilah
posmodernisme dalam perencanaan ruang kota. Jika kita tetap keukeuh
dengan
> imajinasi struktural-hirarkis seperti Eyang saya ABY yang terhormat,
tampaknya kita terjebak pada "planning for the sake of
planning".....Apakah begitu, nyuwun sewu Eyang ABY....
>
> Seminar kemarin menginspirasi bahwa kampung dan desa menjadi sumber
teori perencanaan ruang kota....jika dulu kita disebut "bangsa tempe"
adalah berkonotasi rendah-lemah, maka sekarang harus dimaknai secara
baru....tempe atau krupuk harus menjadi kebanggaan kita....meskipun
tidak soliter dari gagasan-gagasan orang lain....
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
> --- On Fri, 1/29/10, R Maris par...@... wrote:
>
> From: R Maris par...@...
> Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
> To: [email protected]
> Date: Friday, January 29, 2010, 11:31 AM
>
> Pak Mod, Pak Aby, Pak Djarot, teman-teman, Yah begitulah Pak Aby, kini
sakkenanya saja ngopi dan nginep, sepanjang asam urat mengizinkan, harap
maklum. Sangat ingin meninjau lagi konsepsi Pak Aby tentang membangun
hirarki kota-kota Nusantara. Mulai Kota Kecil Pusat Layan Desa, sampai
ke Metropolis dan Megapolis itu, dan bagaimana yang dua terakhir ini
perlu didistribusikan secara pintar ke tiap pulau; mulai dengan Makasar,
target berpenduduk lima juta bukan? Sungguh perlu satu badan independen
pemerhati, peneliti, dan pengawal pembangunan kota berencana --- say,
metropolis Banda Aceh, Medan, Pakanbaru, Palembang, Pontianak, Ketapang,
Pangkalan Bun, Banjarmasin, Balikpapan, Tanjung Redeb, Manado-Bitung,
Makasar, Bari (di Buru), Masohi, Â Ambon, Fakfak, Jayapura, Merauke,
Kupang, Waingapu, Mataram, Banyuwangi, Probolinggo, Pekalongan, Tegal,
Banten, Merak-Cilegon. Kemudian megapolis Jakarta-Bandung,
Cirebon-Cilacap, Semar-Joglo, dan Suramadu-Jombang-
> Kediri, masing-masing berapa, 25 juta penduduk pemukim? Jadi seratus
juta di Jawa nan sesak sudah dapat kita sediakan ruang urban yang
relatif baik dan rapi, tidak ekstensif lapar lahan. Kita tanya
kawan-kawan di DitJen Taru, apa versi terbaru 'National Urbanization
Policy'? Tentu untuk gambaran program 5 - 10 tahun sudah ada PP No 26 Th
2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; yang barangkali lebih
lancar geraknya jika bisa diterangkan melalui kebijakan perkotaan
nasional dari setiap Presiden+Kabinet yang sedang berkuasa. Termasuk
alokasi anggaran technical assistance, fora, serta insentif/disinsenti f
konstruksi kota-kota. Apa kata DPD? Pak Aby dan Pak Mod, kali ini
terdorong semangat saya oleh karena melihat begitu berjubel-jubelnya
uang negeri ini: semua software di atas barangkali tak akan memakan
biaya lebih dari 10 mobil menteri dan10 rumah anggota DPR. Kemudian
program kabinetnya coy! Bertangkaikan jembatan Selat Malaka, jembatan
Selat
> Sunda, jaringan Nasional jalan, energi dan infrastruktur lainnya,
peningkatan pelayanan pelabuhan, revitalisasi industri manufaktur,
pendidikan, kesehatan, wah, rasanya physical planner itu akan dipisuhi
masyarakat jika tak membantu menjawab: DI MANA dan KAPAN? Dan tentu
saja, sebaiknya dijawab SEPULUH TAHUN sebelum upacara ground breaking!
Terima kasih kepada Pak Djarot mengingatkan kita akan Perancis, negeri
termaju di Eropa pada masanya itu, saking majunya di tahun 1789 saja
semua raja dan bangsawan di guillotine, menjadi Republik dengan perlu
bersusah payah melalui fase Napoleon dan Kekaisaran segala. Sungguh
dipujiken jika Pak Darwis bisa bercerita di sini tentang peran keilmuan
Perancis bagi Asia Tenggara, Indonesia khususnya --- ingat saya terakhir
Denys Lombard dengan bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya. Hallo Pak Dadang
DJPR, ingat studi orang Perancis tentang Dayak di tengah Kalimantan itu,
saya berikan situ karena saya tak bisa berbahasa
> Perancis? Pak Mod dan Pak Djarot, berbagai cara pandangan hidup cq
filsafat yang dibawa oleh semua pendatang ke arkipelago yang begini
terbuka, sejak Mongol/Proto Melayu, Vietnam/Deutero Melayu, India,
China, Arab, Barat, dll pastilah berinteraksi dengan manusia Nusantara
yang sudah ada sejak dua setengah juta tahun itu, Jawa phitecantropus
erectus dan orang Flores atau keturunannya. Saya duga ada tiga macam
godokan yang terjadi: gado-gado, bawang, dan hidangan (Padang).
Gado-gado budaya umumnya di semua pesisir; berlapis-lapis kulit bawang
umumnya tercipta di pedalaman yang jika dikupas satu persatu menyisakan
keheningan buddhistik barangkali, atau pemujaan nenek-moyang dan
animistik. Yang hidangan itu, Pak Mod, salah satu contohnya Minangkabau,
semua pikiran yang datang jadi piring lauk-pauk tersendiri, tetap
terpisah dan jelas, boleh dimakan boleh tidak: asal nasinya tetap saja
matriarchy, adat mamak-kemenakan, adat Datuk Katumanggungan dan Datuk
> Perpatih Nan Sebatang; Adityawarman boleh datang boleh pergi, tak
setapak lahan atau sebuah dangau yang dapat diakunya sebagai hak milik.
Maka bicara-bicara mazhab dalam Indonesian School of Planning, tidakkah
sekurangnya akan terdapat tiga buah, berlandaskan tata serapan gelombang
alam pikiran dunia itu?
> Wassalam,Risman Maris       Â
> On Jan 23, 2010, at 8:01 AM, hengky abiyoso wrote:
>
> Halo pak Risman ysh,
> Trims atas sapaan hangatnya …. Sudah agak lama gak jumpa ya?
….. saya sebenarnya ingin banyak men-stigma-in  bapak dan
ingin banyak mendengar  stigma-an dari  bapak lho…. Tapi
bgmn kalau caranya sambil  kita kopi darat dan nginep lagi di
cipanas spt waktu itu?….. atau barangkali cukup sore2 saja gitu
 kita stigma2an  berdua dikantornya mas Panpan sambil godain pak
Eka kalau kebetulan beliau pas lewat?...... .salam,
> aby
>
> --- On Fri, 1/22/10, R Maris par...@indo. net.id> wrote:
>
>
> From: R Maris par...@indo. net.id>
> Subject: [referensi] Tantangan 2010
> To: [email protected]
> Date: Friday, January 22, 2010, 1:00 AM
>
> STOP PRESS! STOP PRESS! BREAKING NEWS ........ !!!!
>
>
> Kepala Negara, Bapak SBY, berapat komunikasi di Bogor dengan segenap
pimpinan lembaga tertinggi negara yaitu DPR, MPR, MA, KY, MK, BPK. Dalam
konferensi pers Kamis sore 21 Januari 2010 seusai rapat tersebut Bapak
SBY menyatakan, telah dibahas dan disepakati untuk sepanjang 5 tahun ke
depan semua lembaga negara sangat memperhatikan 13 poin masalah/issues
beserta ancang-ancang pokok penyelesaiannya ......Â
>
> From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi]
Tantangan 2010 Date: January 22, 2010 8:45:32 PM GMT+07:00 To:
refere...@yahoogrou ps.com Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com
> Sahabats,
>
> Teman saya Darwis Khudori yang bekerja di Perancis menulis bahwa eropa
dan amerika berakar pada pohon yang sama, sedangkan nusantara memiliki
akar yang berbeda. Tampaknya kiat mesti jernih memandang persoalan
filsafat barat dan timur ini. India dan Cina punya akar pohon yang
berbeda pula. Saya tidak tahu apakah ilmuwan filsafat (maksudnya sarjana
filsafat) dan jurusan filsafat juga tertarik meneliti "filsafat
vernakular" ini ???Â
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Thu, 1/21/10, R Maris par...@... wrote:


Kirim email ke