Dear All,

Eyang ABY yang buaik hati, saya hanya ingin menyampaikan the massage dari 
diskusi di FIB dengan Prof Deden, yang intinya adalah sudah saatnya kita berani 
mengangkat warisan budaya yang ada di tanah air sebagai harta yang berharga dan 
fit dengan budaya masyarakat kita yang masih belum sepenuhnya lepas dari 
berbagai ideal lama. Tentu bukan maksudnya menolak yang serba barat. Ide ini 
sebenarnya meneruskan gagasan Jauhari Sumintarja dalam bukunya tentang sejarah 
arsitektur, yang intinya kok kita selalu mengajarkan sesuatu mulai dari yang 
serba barat. Kenapa kok nggak mulai dari yang ada di tanah air sendiri. Tentu 
ide ini menjadi tidak sederhana ketika kita akan mengiyakan, misalnya belum 
tersedia bahan pengajaran sejarah arsitektur nusantara yang cukup untuk 
membekali mahasiswa supaya kritis terhadap arsitektur non-nusantara dan 
nusantara sendiri pada tahap pendidikan lebih lanjut. dst dst dst. Tradisi 
keilmuan yang kita terima memang dari barat, jadi mau
 tidak mau ya kita mempelajari bahan-bahan yang sudah tersedia.

Jika kita kaitkan dengan konsep "frame" dalam bukunya Pak Risfan, dengan 
mengajarkan "ilmu barat" sejak awal di kalangan mahasiswa semester pertama, 
maka itu berarti meletakan kacamata barat diwajah anak-anak kita. Ada dua 
kemungkinan ekstrim, mereka akan menggunakan secara taat asas kacamata itu 
untuk memahami fenomena lokal, maka jika lensanya biru ya akan kelihatan biru 
semua, padahal realitasnya bisa seperti pelangi aneka warna. Kemungkinan kedua, 
ketika mereka lulus entah mengapa sadar bahwa kacamatanya selama ini hanyalah 
salah satu kacamata yang ada, sementara masih banyak kacamata lain yang bisa 
digunakan. Bisa saja orang seperti ini membuang kacamata lama dan menggunakan 
kacamata baru. Kemungkinan ketiga tampaknya ada, yaitu orang yang bisa 
menggunakan kacamata barat sekaligus berganti-ganti dengan kacamata lokal untuk 
melihat realitas secara jernih; mengkombinasikan kacamata.

Saya kira penjelasan saya ini tidak perlu lebih diperpanjang, sebab kita bisa 
kritis terhadap kacamata kita dan bisa arif untuk menggunakannya dengan baik. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 1/31/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: [email protected]
Date: Sunday, January 31, 2010, 7:07 AM







 



  


    
      
      
      Adimas Dr. Djarot dan Pak Risman ysh,
++++:  Pak Risman, saya baru tahu dari Pak Deden rabu kemarin bahwa cara 
berpikir yang struktural-hirarkis dengan model-model kota ideal yang diambil 
dari khasanah "barat" (bukan menegasikan barat ya)  jika diterapkan di habitat 
kehidupan kita adalah "memaksakan" cara pikir tertentu pada situasi lokal yang 
penuh
 keunikan.  
>>>>: saya nggak tahu dan gak jelas konteks seminar/ ceramah anda dkk bersama 
>>>>Dr. Deden itu apakah  ttg arsitektur kota,  sosial ekonomi kota, budaya 
>>>>kota  atau ttg apanya kota dan atau apanya desa ……… saya terkejut bhw  
>>>>“barat”ternyata  dianggap sbg elemen asing yg (aplg bila dipaksakan) bisa 
>>>>merusak habitat kehidupan kita dan merusak situasi lokal kita yg penuh 
>>>>keunikan……. Pdhal kalau tdk salah …. Yg namanya sistem perpipaan saja 
>>>>dimana memungkinkan kita mengalirkan air  bersih
 kedlm rumah dan mengalirkan  air kotor keluar rumah dgn rapih, kering dan 
bersih adlh jg  asalnya  ya dari ‘barat’2 sana juga…... dimana kalau tidak 
barangkali yg namanya para putri2 atau raja2 Majapahit atau Srivijaya  atau  
Mataram atau para pembesar Belanda dan istri2nya dulu kalau pada mau pup hrs 
pakai pispot dan menyimpan hasilnya dulu dlm kamar dan baru pd malam  harinya 
dlm gelap para abdi dalem mengendap2 lalu membuangnya dikali (atau pdhal pake 
model kolam ikan mas dn mujair serta tangkringan diatasnya bukankah kearifan 
lokal yg oke juga ya?) …….  Begitu juga listrik….. kenapa kita kok memaksakan 
memakainya ya?….. pdhal
 bukankah  teknologi minyak kelapa kita dan uceng jg bisa  menjadi alat 
penerang dimalam hari yg sustainable? ...... juga kenapa harus kompor gas pdhal 
ada tungku kayu bakar dan arang?...... komputer, mobil, televisi, HP, kamera, 
VCD…. Apakah juga harus?.. padahal dulu pangeran Diponegoro, Pangeran Puger  
atau Teuku Umar jg tak memerlukan barang2 spt  itu khan ya?……….  
   
++++: Saya melihatnya semacam "kolonialisasi baru" dan itu menurut Pak Deden 
berbau Chicago dan Los Angeles dengan landasan "mean-end" approach. 
>>>>>: Iya iya saya baru mulai menyadari hal itu sekarang……. Saya pikir kalau 
>>>>>ada yg bilang bhw awal mula penemuan mesin  itu adanya di Glasgow dan 
>>>>>Birmingham dan revolusi industri dimulai dari sana …….saya kira itu adlh 
>>>>>pembohongan sejarah …… krn yg benar awal mula  adanya perkembangan kota 
>>>>>dari semula desa yg dipicu oleh revolusi industri itu awalnya ya di 
>>>>>Chicago dan LA itu……. Lalu baru dari sanalah  menular ke Glasgow dan 
>>>>>Birmingham dll.  :-))……. 
   
++++:  Jika kita ingin mengembangkan nasionalisme kita dalam bidang intelektual 
(planning) dan "bangga suka desa" atau "kampung" (dengan menu tempenya) menjadi 
sumber teori bagi perencanaan ruang-ruang kota kita, tampaknya hirarki yang 
idealistis konon memang harus ditinggalkan, minimal dikaji secara kritis se 
kritis-kritisnya. Hasilnya mungkin adalah modifikasi, persenyawaan atau 
percampuran pemikiran lokal dan yang lain, maka jadilah posmodernisme dalam 
perencanaan ruang kota.  
>>>>: iya sih salahnya saya adlh saya terlampau berpikir kebarat2an……. Sehingga 
>>>>saya bingung memisahkan pengertian antara  “perencanaan nasional” dan  
>>>>“mengembangkan nasionalisme dibidang perencanaan”  yg seharusnya berawal 
>>>>dari “bangga suka desa”……atau “bangga suka kampung dan tempenya”…… 
>>>>sekaligus saya bingung memisahkan antara  “perencanaan sosekbudhankam  
>>>>ruang secara nasional” dan  “perencanaan bud saja dari ruang
 secara nasional”…….. tapi sebenarnya kalau kita semua mau ikut pemikiran 
“bangga suka desa’ atau “bangga suka kampung” itu sebenarnya caranya sih mudah 
saja………. Semua kota kita janganlah  lagi pake hirarkhi .. tapi agar semua 
kembali kebudaya desa saja…… semua apa2 saja yg berbau mesin dan listrik kita 
singkirkan krn itu adalah budaya kota, budaya revolusi industri…… jangan lagi 
ada mobil, bandara dan pesawat terbang krn semuanya telah diubah menjadi desa…. 
Dan mereka2 yg datang dari Jepang,  Eropa atau Amerika sana agar mengakhiri 
penerbangannya di Singapura…. Lalu menyeberang ke Batam dan dari Batam barulah 
dgn kapal layar datang ke Sunda Kelapa/ Batavia … dan kalau mau ke Yogya 
misalnya agar memakai caranya Daendels… ialah memakai kereta kuda atau delman 
juga boleh, toh jalannya sekarang sudah licin tidak susah spt waktu masa
 awal Daendels dulu…… dan ketika sampai di Yogya makanan kearifan lokal telah 
siap menanti ……gudeg dan tempe dari biji lamtorogung (krn kalau berani sajikan 
tempe dari  kedele siap2 saja  kalo nanti ditanya oleh pak Risfan, kedelenya 
dari mana?) hehe…….salam, aby 

--- On Thu, 1/28/10, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, January 28, 2010, 8:56 PM


  





Pak Risman, saya baru tahu dari Pak Deden rabu kemarin bahwa cara berpikir yang 
struktural-hirarkis dengan model-model kota ideal yang diambil dari khasanah 
"barat" (bukan menegasikan barat ya) jika diterapkan di habitat kehidupan kita 
adalah "memaksakan" cara pikir tertentu pada situasi lokal yang penuh keunikan. 
Saya melihatnya semacam "kolonialisasi baru" dan itu menurut Pak Deden berbau 
Chicago dan Los Angeles dengan landasan "mean-end" approach. Jika kita ingin 
mengembangkan nasionalisme kita dalam bidang intelektual (planning) dan "bangga 
suka desa" atau "kampung" (dengan menu tempenya) menjadi sumber teori bagi 
perencanaan ruang-ruang kota kita, tampaknya hirarki yang idealistis konon 
memang harus ditinggalkan, minimal dikaji secara kritis se kritis-kritisnya. 
Hasilnya mungkin adalah modifikasi, persenyawaan atau percampuran pemikiran 
lokal dan yang lain, maka jadilah posmodernisme dalam perencanaan ruang kota. 
Jika kita tetap
 keukeuh dengan imajinasi struktural-hirarkis seperti Eyang saya ABY yang 
terhormat, tampaknya kita terjebak pada "planning for the sake of planning"... 
..Apakah begitu, nyuwun sewu Eyang ABY....

Seminar kemarin menginspirasi bahwa kampung dan desa menjadi sumber teori 
perencanaan ruang kota....jika dulu kita disebut "bangsa tempe" adalah 
berkonotasi rendah-lemah, maka sekarang harus dimaknai secara baru....tempe 
atau krupuk harus menjadi kebanggaan kita....meskipun tidak soliter dari 
gagasan-gagasan orang lain....

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Fri, 1/29/10, R Maris <par...@indo. net.id> wrote:


From: R Maris <par...@indo. net.id>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, January 29, 2010, 11:31 AM


  

Pak Mod, Pak Aby, Pak Djarot, teman-teman,
Yah begitulah Pak Aby, kini sakkenanya saja ngopi dan nginep, sepanjang asam 
urat mengizinkan, harap maklum.
Sangat ingin meninjau lagi konsepsi Pak Aby tentang membangun hirarki kota-kota 
Nusantara. Mulai Kota Kecil Pusat Layan Desa, sampai ke Metropolis dan 
Megapolis itu, dan bagaimana yang dua terakhir ini perlu didistribusikan secara 
pintar ke tiap pulau; mulai dengan Makasar, target berpenduduk lima juta bukan? 
Sungguh perlu satu badan independen pemerhati, peneliti, dan pengawal 
pembangunan kota berencana --- say, metropolis Banda Aceh, Medan, Pakanbaru, 
Palembang, Pontianak, Ketapang, Pangkalan Bun, Banjarmasin, Balikpapan, Tanjung 
Redeb, Manado-Bitung, Makasar, Bari (di Buru), Masohi,  Ambon, Fakfak, 
Jayapura, Merauke, Kupang, Waingapu, Mataram, Banyuwangi, Probolinggo, 
Pekalongan, Tegal, Banten, Merak-Cilegon. Kemudian megapolis Jakarta-Bandung, 
Cirebon-Cilacap, Semar-Joglo, dan Suramadu-Jombang- Kediri, masing-masing 
berapa, 25 juta penduduk pemukim? Jadi seratus juta di Jawa nan
 sesak sudah dapat kita sediakan ruang urban yang relatif baik dan rapi, tidak 
ekstensif lapar lahan. Kita tanya kawan-kawan di DitJen Taru, apa versi terbaru 
'National Urbanization Policy'? Tentu untuk gambaran program 5 - 10 tahun sudah 
ada PP No 26 Th 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; yang 
barangkali lebih lancar geraknya jika bisa diterangkan melalui kebijakan 
perkotaan nasional dari setiap Presiden+Kabinet yang sedang berkuasa. Termasuk 
alokasi anggaran technical assistance, fora, serta insentif/disinsenti f 
konstruksi kota-kota. Apa kata DPD?
Pak Aby dan Pak Mod, kali ini terdorong semangat saya oleh karena melihat 
begitu berjubel-jubelnya uang negeri ini: semua software di atas barangkali tak 
akan memakan biaya lebih dari 10 mobil menteri dan10 rumah anggota DPR. 
Kemudian program kabinetnya coy! Bertangkaikan jembatan Selat Malaka, jembatan 
Selat Sunda, jaringan Nasional jalan, energi dan infrastruktur lainnya, 
peningkatan pelayanan pelabuhan, revitalisasi industri manufaktur, pendidikan, 
kesehatan, wah, rasanya physical planner itu akan dipisuhi masyarakat jika tak 
membantu menjawab: DI MANA dan KAPAN? Dan tentu saja, sebaiknya dijawab SEPULUH 
TAHUN sebelum upacara ground breaking!
Terima kasih kepada Pak Djarot mengingatkan kita akan Perancis, negeri termaju 
di Eropa pada masanya itu, saking majunya di tahun 1789 saja semua raja dan 
bangsawan di guillotine, menjadi Republik dengan perlu bersusah payah melalui 
fase Napoleon dan Kekaisaran segala. Sungguh dipujiken jika Pak Darwis bisa 
bercerita di sini tentang peran keilmuan Perancis bagi Asia Tenggara, Indonesia 
khususnya --- ingat saya terakhir Denys Lombard dengan bukunya Nusa Jawa: 
Silang Budaya. Hallo Pak Dadang DJPR, ingat studi orang Perancis tentang Dayak 
di tengah Kalimantan itu, saya berikan situ karena saya tak bisa berbahasa 
Perancis?
Pak Mod dan Pak Djarot, berbagai cara pandangan hidup cq filsafat yang dibawa 
oleh semua pendatang ke arkipelago yang begini terbuka, sejak Mongol/Proto 
Melayu, Vietnam/Deutero Melayu, India, China, Arab, Barat, dll pastilah 
berinteraksi dengan manusia Nusantara yang sudah ada sejak dua setengah juta 
tahun itu, Jawa phitecantropus erectus dan orang Flores atau keturunannya. Saya 
duga ada tiga macam godokan yang terjadi: gado-gado, bawang, dan hidangan 
(Padang). Gado-gado budaya umumnya di semua pesisir; berlapis-lapis kulit 
bawang umumnya tercipta di pedalaman yang jika dikupas satu persatu menyisakan 
keheningan buddhistik barangkali, atau pemujaan nenek-moyang dan animistik. 
Yang hidangan itu, Pak Mod, salah satu contohnya Minangkabau, semua pikiran 
yang datang jadi piring lauk-pauk tersendiri, tetap terpisah dan jelas, boleh 
dimakan boleh tidak: asal nasinya tetap saja matriarchy,
 adat mamak-kemenakan, adat Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan 
Sebatang; Adityawarman boleh datang boleh pergi, tak setapak lahan atau sebuah 
dangau yang dapat diakunya sebagai hak milik.
Maka bicara-bicara mazhab dalam Indonesian School of Planning, tidakkah 
sekurangnya akan terdapat tiga buah, berlandaskan tata serapan gelombang alam 
pikiran dunia itu?


Wassalam,
Risman Maris   
     




On Jan 23, 2010, at 8:01 AM, hengky abiyoso wrote:


  






Halo pak Risman ysh, 
Trims atas sapaan hangatnya …. Sudah agak lama gak jumpa ya? ….. saya 
sebenarnya ingin banyak men-stigma-in  bapak dan ingin banyak mendengar  
stigma-an dari  bapak lho…. Tapi bgmn kalau caranya sambil  kita kopi darat dan 
nginep lagi di cipanas spt waktu itu?….. atau barangkali cukup sore2 saja gitu  
kita stigma2an  berdua dikantornya mas Panpan sambil godain pak Eka kalau 
kebetulan beliau pas lewat?...... .salam, 
aby

--- On Fri, 1/22/10, R Maris <par...@indo. net.id> wrote:


From: R Maris <par...@indo. net.id>
Subject: [referensi] Tantangan 2010
To: [email protected]
Date: Friday, January 22, 2010, 1:00 AM


  


STOP PRESS! STOP PRESS! BREAKING NEWS ........ !!!!


Kepala Negara, Bapak SBY, berapat komunikasi di Bogor dengan segenap pimpinan 
lembaga tertinggi negara yaitu DPR, MPR, MA, KY, MK, BPK. Dalam konferensi pers 
Kamis sore 21 Januari 2010 seusai rapat tersebut Bapak SBY menyatakan, telah 
dibahas dan disepakati untuk sepanjang 5 tahun ke depan semua lembaga negara 
sangat memperhatikan 13 poin masalah/issues beserta ancang-ancang pokok 
penyelesaiannya ......
 





From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
Date: January 22, 2010 8:45:32 PM GMT+07:00
To: refere...@yahoogrou ps.com
Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com


Sahabats,

Teman saya Darwis Khudori yang bekerja di Perancis menulis bahwa eropa dan 
amerika berakar pada pohon yang sama, sedangkan nusantara memiliki akar yang 
berbeda. Tampaknya kiat mesti jernih memandang persoalan filsafat barat dan 
timur ini. India dan Cina punya akar pohon yang berbeda pula. Saya tidak tahu 
apakah ilmuwan filsafat (maksudnya sarjana filsafat) dan jurusan filsafat juga 
tertarik meneliti "filsafat vernakular" ini ??? 

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi
 MWK]
http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 1/21/10, R Maris <[email protected]> wrote:

............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... 
......... .........
............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... .





      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke