Kalau di profesi ekonomi dan bisnis, tentu juga akan mempelajari kasus-2
hukum yg berkaitan dengan sengketa bisnis.. misal kasus-2 anti-trust.. yg
paling monumental akhir-2 ini Microsoft vs. Netscape...
Aksi-2 merger dan akuisisi juga tidak lepas dari masalah hukum..
FYI, Departemen Kehakiman USA mempekerjakan ahli-2 ekonomi untuk mempelajari
anti-trust dan mengawasi merger dan akuisisi untuk menghindari terjadinya
monopoli dan cartel yg merugikan konsumen/perekonomian secara umum..

Ya.. memang intinya kasus-2 tsb kalau tidak dipelajari akan menjadi
mubazir..
semoga dari pembelajaran atas kasus-2 tsb terjadi perbaikan praksis.

Saya malah kepikiran.. apa sih yg memisahkan kita dengan masyarakat-2 yg
mampu menyelesaikan konflik tanpa bentrok?
Kalau ada arsitek/Planner Indonesia yg berpraktek di luar negeri, apakah
lantas jadi bentrok?
Sebaliknya, kalau planner dari luar negeri praktek di Indonesia, lantas
jamin bebas bentrok?


Salam,
-K-




2010/4/20 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Bagi saya, kasus merupakan titik penting untuk memperbaiki banyak hal.
> Kasus mengandung pengetahuan untuk memperkaya-memperbaiki ilmu dan praktek
> profesi kita. Bagi yang berperkara ya mereka akan terus ada dalam lingkaran
> itu, tetapi bagi kita yang tidak berperkara secara langsung, saya kira perlu
> menjadi lebih cerdas karena belajar dari perkara-perkara yang muncul.
>
> Jika kita perhatikan, kajian kasus-kasus sejauh saya tahu banyak dilakukan
> di kalangan ekonomi. Teman saya bahkan menggunakan studi kasus sebagai
> metoda belajar untuk mata kuliah tertentu. Orang ingin melakukan
> re-engineering perusahaannya ia belajar dari beberapa "kasus monumental"
> yang diduga cocok untuk dipelajari. Nah, apakah kita akan melewatkan begitu
> saja setiap kasus konflik yang terkait dengan tata ruang, dan di kemudian
> hari kita menumbuk perkara yang secara substansial sama berpikir mulai dari
> nol ??? Menurut teman saya, dia bahkan pernah membeli "kasus-kasus" otentik
> untuk mata kuliahnya itu dari "perusahaan" yang memang menuliskan dan
> menjualnya !!! Itu terjadi di fakultas ekonomi, misalnya kasus perusahaan
> Sony ketika menghadapi sesuatu ide pengembangan atau apalah, saya lupa.
>
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Wed, 4/21/10, Harya Setyaka <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Harya Setyaka <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] (Yurisprudensi?)Re: “Penyelesaian’ Bentrok Priok
> dan Aspek ‘Pelestarian Sejarah’….
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, April 21, 2010, 1:00 PM
>
>
>
>
> Menurut saya tidak akan terhindarkan. . bagaimanapun juga, masyarakat
> beradab akan mengutamakan jalur hukum dalam penyelesaian masalah..
>
> Bentrok tidak mencerminkan adab.
>
> Ketika ada sengketa perdata, yg diperlukan adalah 'menjatuhkan vonis',
> bukan hanya 'mengambil kebijakan'.
> Beda domain: Kebijakan di Eksekutif-Legislati f, Vonis di Judikatif..
> kalau itu gagal.. ya bentrok di jalan..
>
> Salam,
> -K-
>
>
>
>
> 2010/4/20 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. 
> com<http://mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>
>> Sahabats,
>>
>> Wah meleset tangkapan idenya. Maksud saya, kita mengumpulkan kasus-kasus
>> penataan ruang dan arsitektur secara begitu detail dengan maksud agar jika
>> ada kasus yang sama di kemudian hari kita bisa belajar dan menggunakan
>> kearifan penyelesaian kasus yang pernah ada. Bukan persoalan hukum yang saya
>> tekankan melainkan kumpulan kasus itu sejak lahirnya, konteksnya, proses
>> penyelesaiannya, hingga endingnya seperti apa.
>>
>> Soal Mbah Priuk, misalnya, jika kasus makam di dalam terminal Giwangan
>> bisa dikemas secara sistematis menjadi bacaan yang mencerdaskan, maka para
>> pengambil keputusan dan masyarakat dapat belajar menjadi bersikap lebih
>> baik. Kasus penghancuran sebagian pesanggrahan Ambarukmo yang ditabrak Plaza
>> Ambarukmo, saya kira bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari "kearifan" untuk
>> siapapun yang terlibat, sehingga lebih hati-hati pada kasus yang kemudian.
>>
>> Kalau yurisprudensi hukum ya urusan orang hukumlah, ya pak Eka, tetapi
>> kalau kasus-kasus penataan ruang dan arsitektur ("yurisprudensi tata ruang
>> dan arsitektur", atau apalah namanya) tentu menjadi urusan kita dong !!!
>> Saya kira, di situlah kita sungguh-sungguh belajar dari sejarah dengan
>> mengolah materi sejarah secara nyata, bukan spekulatif seingat ingatan kita.
>>
>> Salam,
>>
>> Djarot Purbadi
>>
>>
>> http://realmwk. wordpress. com <http://realmwk.wordpress.com> [Blog Resmi
>> MWK]
>> http://forumriset. wordpress. com <http://forumriset.wordpress.com> [Blog
>> Resmi APRF]
>> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. 
>> com<http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com>
>>
>> --- On *Wed, 4/21/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ 
>> gmail.com<http://mc/[email protected]>
>> >* wrote:
>>
>>
>> From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ 
>> gmail.com<http://mc/[email protected]>
>> >
>> Subject: Re: [referensi] (Yurisprudensi? )Re: “Penyelesaian’ Bentrok Priok
>> dan Aspek ‘Pelestarian Sejarah’….
>> To: refere...@yahoogrou 
>> ps.com<http://mc/[email protected]>
>>
>> Date: Wednesday, April 21, 2010, 11:49 AM
>>
>>
>>
>>
>> Sebenernya bukan masalah 'bersih dan berwibawa'.. tapi masalah Civil law
>> atau Common Law..
>> Justru kalau sistemnya Common Law, mengkompliasi yurisprudensi bukan
>> menjadi pekerjaan sia-sia.. justru tiap putusan pengadilan akan memproduksi
>> refrensi hukum baru..
>>
>> Methodologi hukum yg berbasis analogi dan preseden hukum dalam
>> mengungkapkan argumen sebenarnya mirip-mirip praktek hukum Islam... dimana
>> sumber preseden/refrensi utama adalah Quran dan Hadis.. lalu fatwa-fatwa. .
>> CMIIW.
>>
>> pertanyaannya adalah: masalah di ranah yudisial yg kita hadapi ini
>> bersumber dari 'kotor' nya penegak hukum, mulai dari hakim sampai jaksa,
>> sampe reserse.. atau karena salah pilih sistem?
>> Apakah kalau sistem dirubah menjadi Common Law, secara otomatis (tidak
>> instan tentunya) akan terjadi 'pembersihan' ?
>>
>> Salam,
>> -K-
>>
>>
>>
>> 2010/4/20 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. 
>> com<http://mc/[email protected]>
>> >
>>
>>>
>>>
>>>  Adimas Yohanes Djarot ysh,
>>>
>>> Membukukan yurisrudensi masalah hukum spatial di Indonesia?..
>>> ....hahahaha anda ini aya aya wae ya? ..….sepertinya bahkan yg mau mencatat
>>> yurisprudensi hukum pidana atau perdata saja dinegeri kita ini  juga
>>> sekarang mikir2 dulu dan senyum2 dulu takut tangannya pegel atau
>>> ballpointnya kehabisan tinta ….atau takut  buku hariannya jadi segera
>>> penuh padahal tanggal 31 Desember  masih jauh ……karena hampir setiap
>>> keputusan hakim dinegeri kita hari ini hampir semuanya patut dibuat menjadi
>>> yurisprudensi………
>>>
>>> Kemari dulu siang saja di jalan Mardani Jakarta Pusat baru saja dilakukan
>>> rekonstruksi di TKP untuk kasus Hakim I Dari Pengadilan PTUN yg tertangkap
>>> tangan oleh KPK menerima  uang suap sebanyak 300 juta …...dimana hakim I
>>> hanya sanggup terduduk saja didalam mobil  sambil  membungkus   wajahnya
>>> dengan selimut dan terpaksa rekonstruksi dilakukan oleh pemeran pengganti
>>>  ………belum lagi hakim utk kasus Gayus yang hanya dgn 50 juta rp.
>>> (lagipula amit2 utk sangu umroh) sudah hayo…….
>>>
>>> Kalau di Inggris ya pantas saja kalau setiap yurisprudensi yg muncul tak
>>> akan pernah dilewatkan untuk dicatat …….wong karena disana   sistem
>>> peradilan disana  cukup bersih dan berwibawa :-)) ………begitukah
>>> barangkali?. ......salam,
>>>
>>> aby
>>>
>>> --- On *Tue, 4/20/10, Risfan Munir <risf...@yahoo. 
>>> com<http://mc/[email protected]>
>>> >* wrote:
>>>
>>>
>>> From: Risfan Munir <risf...@yahoo. 
>>> com<http://mc/[email protected]>
>>> >
>>> Subject: RE: [referensi] Re: “Penyelesaian’ Bentrok Priok dan Aspek
>>> ‘Pelestarian Sejarah’….
>>> To: refere...@yahoogrou 
>>> ps.com<http://mc/[email protected]>
>>>
>>> Date: Tuesday, April 20, 2010, 4:05 PM
>>>
>>>
>>> Pak Djarot, Eka dan Rekans ysh,
>>>
>>> Dari pengetahuan saya yang sedikit tentang hukum, katanya ada tradisi
>>> civil law dan common law.
>>>
>>> Common law pendekatannya banyak menggunakan jurisprudensi. Pengalaman
>>> dari kasus sejnis sebelumnya. Beda dengan Civil law, yang banyak mendasarkan
>>> pada turunan aturan di atas. Di Indonesia, cenderung civil law, sebagaimana
>>> kita familier. Semua aturan harus dimulai dari cantolan UUD, UU, PP dst.
>>> Sehingga risikonya sering ketinggalan dengan kasus yang berkembang terus,
>>> karena mau diputuskan nunggu UU dibuat, dan itu bisa bertahun-tahun.
>>> Sementara Belanda yang mewarikan tradisi hukum itu sudah bergeser ke common
>>> law.
>>>
>>> Saya ingat dulu belajar Texas Real Estate Law, referensinya banyak dari
>>> California, karena CA lebih metropolis, banyak sekali kasus-kasus barunya.
>>> Mungkin waktu belajar Land Use dulu kita juga baca kasus Euclid, (Euclid v.
>>> Ambler Realty Co. 272 US 365(1926). Saking legendarinya kasus ini sehingga
>>> kita kenal sbg Euclidian Zoning, yang mengindahkan hak penghuni dalam
>>> penerapan zoning. Walau dua tahun kemudian muncul kasus Newton v. Cambridge,
>>> 277 US 183 (1928), yang keputusan pengadilannya mengoreksinya.
>>>
>>> Dulu seingat saya Prof. E. Rajaguguk dari FHUI banyak berupaya mengangkat
>>> perlunya menerapkan common law di negara kita secara bertahap, terutama
>>> menyangkut pertanahan. Mungkin di antara teman-teman ada yang tahu.
>>> Keperluannya jelas untuk mengantisipasi perubahan cepat kasus-kasus yang
>>> ada. Bayangkan berapa puluh tahun kita menunggu lahirnya UUPR, sejak draft
>>> RUU Perkotaan th 60an, dan th ini PP baru disyahkan. Sementara itu udah
>>> berapa ribu kasus land-use/tata ruang yang ditangani pengadilan, yang
>>> mestinya bisa dipakai jurisprudensi. Mungkin begitu?
>>>
>>> Pak Eka dan Bu Reny yang pernah menyusun "Buku Kumpulan
>>> Peraturan-Perundang an Permukiman", tentu jauh lebih tahu dari saya.
>>>
>>> Salam,
>>> Risfan Munir
>>> www.management- cafe.blogspot. com
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> karena banyak warisan hukum Belanda
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> ------------------------------
>>> From: - ekadj <4ek...@gmail. com>
>>> Sent: Tuesday, April 20, 2010 9:57 PM
>>> To: refere...@yahoogrou ps.com
>>> Subject: Re: [referensi] Re: “Penyelesaian’ Bentrok Priok dan Aspek
>>> ‘Pelestarian Sejarah’….
>>>
>>>
>>>   Pak Djarot dan Referensiers ysh.
>>> Benar sekali pak, ada penerbitan rutin kalau tidak salah dari Dephukham
>>> berupa buletin "Justisia", memuat keputusan-keputusan final terpilih tiap
>>> bulannya. Sudah rutin sejak lama sekali. Saya dulu sempat mengkoleksi
>>> beberapa keputusan terkait keruangan, namun telah hilang. Selain itu juga
>>> ada yang menghimpun yurisprudensi MA secara tematik yang dilakukan oleh
>>> hakim-hakim pensiunan. Bahan-bahan ini yang dipelajari sepanjang waktu oleh
>>> para hakim, terutama sebagai rujukan kalau ada masalah-masalah yang serupa.
>>> Jadi ada pola 'modus' dalam pertimbangan para hakim; atau kalau dalam
>>> istilah kita adalah 'mode' (kecenderungan) seperti digunakan dalam mode of
>>> production, mode of transportation, dst. Cara ini saya lihat sangat dominan,
>>> padahal banyak cara lain 'yang lebih mendekati' dalam pencarian pertimbangan
>>> keadilan, seperti penggalian hukum dalam masyarakat, penafsiran pembuat
>>> undang-undang, dll.
>>> Sebaiknya kasus-kasus keruangan juga dilakukan serupa, seperti ada suatu
>>> 'fungsi dalam struktur' yang dapat mendokumentasikan dan menginformasikan
>>> berbagai progres yang dilakukan oleh berbagai pelaku secara rutin. Saya dulu
>>> sempat dipinjami buku oleh Pak Mochtaram mengenai "An Outline of Planning
>>> Law" dan satu lagi; berisi kompilasi peraturan-peraturan keruangan di
>>> Inggris sejak awal era industri; sehingga saya sempat mengetahui
>>> undang-undang pertama yang diterbitkan adalah semacam 'sanitary planning
>>> act'. Memang tertib pendokumentasian dan kompilasi itu sangat kental di
>>> Inggris, dan menjadi kiblat bagi common law 
>>> system<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3810>.
>>> Saya agak enggan mendiskusikan masalah hukum ini sejak 10 tahun yang lalu,
>>> karena saat ini lebih banyak insinyur yang lebih mengerti hukum dibandingkan
>>> ahli hukumnya sendiri.
>>>
>>> Namun kita mencoba menghimpun berbagai diskusi terkait melalui milis ini.
>>> Kita sudah punya sekitar 10 
>>> kompilasi<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/473>diskusi, 
>>> namun sejak 2 tahun terakhir ini sudah mandeg. Maunya ada
>>> rekan-rekan disini yang berkenan sukarela meneruskan kompilasi bahan-bahan
>>> diskusi kita, supaya ada rekaman sejarah seperti yang pak Djarot harapkan,
>>> dan pastilah berguna bagi praktek profesi kita masing-masing. Database yang
>>> disediakan yahooogroups sangat terbatas dan bersifat sementara, sehingga
>>> sewaktu-waktu bisa saja dihapuskan oleh penguasanya.
>>>
>>> Sementara demikian pak. Salam.
>>>
>>> -ekadj
>>>
>>>
>>
>
>  
>

Kirim email ke