Salam,

Terimakasih Mas Dularif untuk analisis dan solusi-solusi yang diajukan untuk
pengembangan Kabupaten Demak. Semoga Anggota DPR-Ri yang mewakili Kabupaten
Demak, Kudus dan Jepara bisa memperjuangkan beberapa hal itu.

Ngomon-ngomong, ini Mas Dularif yang di BI Malang? Kalau benar, wah seneng
bisa ketemu di milis ini.


*Safira Machrusah [Rosa]*
Caleg DPR-RI untuk Demak, Kudus dan Jepara
PKB - 13 Nomer Urut 3
http://safiramachrusah.blogspot.com/
Pilihlah calon legislatif yang memperjuangkan kepentingan anda


2009/2/19 muh dularif <[email protected]>

>   Melihat APBD Demak, kita akan lebih memelas lagi.
>
> Sebagai contoh, Realisasi APBD (Audited BPK) tahun 2006 (ini APBD terbaru
> yang bisa saya peroleh), menunjukkan bahwa dari Total APBD sebesar 525
> milyar, 86 % nya (452 Milyar) digunakan untuk belanja rutin (gaji pegawai
> dan belanja perlengkapan kantor). sementara proporsi belanja modal hanya
> 6.94 %.
>
> Dari sisi pendapatan, PAD Demak hanya menyumbang 33 Milyar atau 6.44%. Dari
> 33 Milyar PAD tersebut, retribusi daerah menjadi penyumbang terbesar (15.9
> Milyar), diikuti Pajak Daerah dan Lain-lain sebanyak masing-masing 8 Milyar.
> Sedangkan Perusahaan Daerah yang dimiliki oleh Pemda hanya menyumbang 1.6
> Milyar.
>
> Sementara itu total transfer dari Pemerintah Pusat (dikenal dengan istilah
> dana perimbangan dalam ilmu keuangan Negara) ke Demak sebesar 464 Milyar
> (88.37% dari total APBD) dan Transfer dari pemerintah provinsi sebesar 27
> Milyar atau 5.20 %. Dari Transfer Pusat sebesar 464 Milyar tersebut,
> komponen terbesarnya adalah DAU sebesar 408 Milyar, diikuti DAK sebesar 29
> Milyar, dan selanjutnya Dana bagi hasil pajak sebesar 25 Milyar dan dana
> bagi hasil non pajak hanya sebesar 0.5 Milyar.
>
> Dengan demikian kita bisa melihat, bahwa ibarat rumah tangga, untuk makan
> sehari-hari saja, kita harus bergantung kepada "sumbangan" dari orang tua
> kita. Hal ini sangat memprihatinkan kita, karena tanpa kemandirian kita
> sulit untuk berkembang. Di samping itu, ke depannya, jika diterapkan otonomi
> "murni", dimana belanja rutin adalah tanggung jawab sepenuhnya pemerintah
> daerah, maka hampir bisa dipastikan bahwa Pemda Demak akan bangkrut dan
> terjadi demo besar-besaran dari PNS-nya karena Pemda tidak mampu lagi
> membayar gaji mereka.
>
> Ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah ini. Yang
> mungkin bisa kita lakukan adalah meningkatkan PAD terutama menyangkut
> beberapa pos. Yang pertama adalah peningkatan penerimaan dari Pos Pajak
> Reklame. Jalan Nasional di wilayah Demak yang membentang dari Perbatasan
> Kudus hingga Perbatasan Semarang sepanjang 39.55 km adalah potensi yang
> sangat besar. ada beberapa cara untuk meningkatkan pendapatan dari pajak
> reklame. Salah satunya adalah delegasi wewenang ijin dan pengawasan dari
> Bupati kepada camat. Kemudian, atas pendapatan yang diterima, para pegawai
> yang terlibat dalam proses tersebut mendapatkan upah pungut retribusi
> sebanyak 5 % dari pendapatan. cara ini terbukti efektif di beberapa daerah
> seperti Malang, dimana para pegawai sangat rajin meneliti reklame dan tidak
> segan-segan untuk mencopotnya jika ternyata telah kadaluwarsa ijinnya.
> birokrasi yang terlalu berbelit seperti yang diatur dalam Perda No 13 tahun
> 2002, dimana untuk reklame dengan ukuran > 3 m harus ijin bupati semestinya
> di ubah menjadi lebih sederhana. Mungkin untuk bando atau billboar dengan
> ukaran lebih dari 3x5 meter memang harus dengan ijin dinas kimpraswil dlam
> rangka menjamin keselamatan masyarakat, namun untuk reklame kecil, cukup
> camat yang memberi ijin.
>
> Pos kedua yang masih mungkin ditingkatkan adalah retribusi Tempat
> Pelelangan Ikan. seperti kita ketahui, banyak wilayah Demak yang cukup bagus
> untuk dikembangkan TPI-nya, seperti Kecamatan Bonang dan Kecamatan Wedung.
> akan tetapi, yang penting untuk diingat adalah, bahwa pemda harus
> memperbaiki infrastruktur jalan dan pelabuhan sehingga perahu atau kapal
> yang lumayan besar bisa mendarat di Pantai atau pelabuhan yang ada.
> lagi-lagi ini terkait masalah dana. tapi apakah tidak mungkin, jika Pemda
> menawarkan kepada investor dengan model BOT (built, Operate and transfer)?
>
> Bidang lain yang mungkin pula dikembangkan adalah menawarkan Demak sebagai
> bandara (airport) yang baru menggantikan Bandara Ahmad Yani Semarang.
> Sebagaimana kita ketahui, Bandara ahmad yani, hampir tiap tahun selalu
> banjir, sehingga beberapa kali penerbangan dan pendaratan tidak bisa di
> lakukan. Dengan melobi pemerintah pusat dan provinsi, Demak mungkin bisa
> menjadi alternative untuk menjadi bandara yang baru. sebagai info tambahan,
> bandara Juanda bukanlah terletak di Surabaya, tetapi terletak di Sidoarjo.
> saya kira masih banyak lokasi di Demak yang bisa menjadi alternative tempat
> pembangunan Bandara.
>
> yang terakhir ini, mungkin sekedar usulan. sekarang kan musim kampanye, nah
> tidak mungkinkah Demak, baik Pemerintah atau LSM untuk membuat kontrak
> politik dengan calon wakil Dapil Demak untuk memperjuangkan tambahan DAK,
> baik untuk terminal, pelabuhan, atau kalo mungkin pengembangan bandara di
> Demak?
>
>
> ------------------------------
>  New Email names for you!
> <http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
> Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
> 
>



--

Kirim email ke