mas doel makin menggila.....:)--- On Thu, 2/19/09, Daryanto, Andy Wahyu 
<[email protected]> wrote:From: Daryanto, Andy Wahyu 
<[email protected]>Subject: RE: [SMUN 1 Demak] APBD DemakTo: 
[email protected]: Thursday, February 19, 2009, 2:03 AMHidup Kang 
Doel…ternyata analysisnya sangat tajam..dan ber-solusi…tidak seperti para kaum 
demontran yg hanya menyuarakan protes tanpa solusi..  Kang doel..sepertinya 
kita perlu untuk arrange temu denga para birokrat dan legislative yg ada di 
Demak..paling tidak sharing terkait dengan pembangunan dan alokasi dana bisa 
lebih tepat sasaran..yg penting point terakhir dari kang doel..yaitu 
mengoptimalkan potensi DEMAK....  ThanksBest Regards  Andy Wahyu DaryantoPfizer 
IndonesiaOff.   62-21 8710521 ext. 108Cell. 62-812 1008325You can’t change the 
past, and you can ruin a perfectly good present, by worrying about 
future.Respect for people, Innovation, Integrity, Leadership, Team
 work, Customer focus & PerformanceDisclaimer - This message and any 
attachments are confidential and may contain privileged information intended 
only for the use of the addressee(s) named above. If you are not the intended 
recipient or the person responsible for delivering this message to the intended 
recipient, you are hereby notified that any use, dissemination, distribution or 
reproduction of this message is prohibited. If you have received this message 
in error, please notify sender immediately by return e-mail and destroy any 
electronic or paper copy of this message. Sender advises that this email and 
any attached files should be scanned to detect viruses and accepts no liability 
for loss or damage resulting from the use of any attached files. From: 
smu1de...@yahoogrou ps.com [mailto: smu1de...@yahoogrou ps.com ] On Behalf Of 
muh dularifSent: Thursday, February 19, 2009 4:50 PMTo: smu1de...@yahoogrou 
ps.comSubject: [SMUN 1 Demak] APBD Demak
  Melihat APBD Demak,   kita akan lebih memelas lagi.   Sebagai contoh, 
Realisasi APBD (Audited BPK) tahun 2006 (ini APBD terbaru   yang bisa saya 
peroleh), menunjukkan bahwa dari Total APBD sebesar 525   milyar, 86 % nya (452 
Milyar) digunakan untuk belanja rutin (gaji pegawai dan   belanja perlengkapan 
kantor). sementara proporsi belanja modal hanya 6.94 %.    Dari sisi 
pendapatan, PAD Demak hanya menyumbang 33 Milyar atau 6.44%. Dari   33 Milyar 
PAD tersebut, retribusi daerah menjadi penyumbang terbesar (15.9   Milyar), 
diikuti Pajak Daerah dan Lain-lain sebanyak masing-masing 8 Milyar.   Sedangkan 
Perusahaan Daerah yang dimiliki oleh Pemda hanya menyumbang 1.6   Milyar.    
Sementara itu total transfer dari Pemerintah Pusat (dikenal dengan istilah   
dana perimbangan dalam ilmu keuangan Negara) ke Demak sebesar 464 Milyar   
(88.37% dari total APBD) dan Transfer dari pemerintah provinsi sebesar 27   
Milyar atau 5.20 %. Dari Transfer Pusat sebesar 464
 Milyar tersebut, komponen   terbesarnya adalah DAU sebesar 408 Milyar, diikuti 
DAK sebesar 29 Milyar, dan   selanjutnya Dana bagi hasil pajak sebesar 25 
Milyar dan dana bagi hasil non   pajak hanya sebesar 0.5 Milyar.   Dengan 
demikian kita bisa melihat, bahwa ibarat rumah tangga, untuk makan   
sehari-hari saja, kita harus bergantung kepada “sumbangan” dari   orang tua 
kita. Hal ini sangat memprihatinkan kita, karena tanpa kemandirian   kita sulit 
untuk berkembang. Di samping itu, ke depannya, jika diterapkan   otonomi 
“murni”, dimana belanja rutin adalah tanggung jawab   sepenuhnya pemerintah 
daerah, maka hampir bisa dipastikan bahwa Pemda Demak   akan bangkrut dan 
terjadi demo besar-besaran dari PNS-nya karena Pemda tidak   mampu lagi 
membayar gaji mereka.   Ada beberapa   solusi yang bisa ditawarkan untuk 
mengatasi masalah ini. Yang mungkin bisa   kita lakukan adalah meningkatkan PAD 
terutama menyangkut beberapa pos. Yang   pertama adalah
 peningkatan penerimaan dari Pos Pajak Reklame. Jalan Nasional   di wilayah 
Demak yang membentang dari Perbatasan Kudus hingga Perbatasan   Semarang 
sepanjang 39.55 km adalah potensi yang sangat besar. ada beberapa   cara untuk 
meningkatkan pendapatan dari pajak reklame. Salah satunya adalah   delegasi 
wewenang ijin dan pengawasan dari Bupati kepada camat. Kemudian,   atas 
pendapatan yang diterima, para pegawai yang terlibat dalam proses tersebut   
mendapatkan upah pungut retribusi sebanyak 5 % dari pendapatan. cara ini   
terbukti efektif di beberapa daerah seperti Malang , dimana para pegawai sangat 
rajin   meneliti reklame dan tidak segan-segan untuk mencopotnya jika ternyata 
telah   kadaluwarsa ijinnya. birokrasi yang terlalu berbelit seperti yang 
diatur   dalam Perda No 13 tahun 2002, dimana untuk reklame dengan ukuran > 3 m 
  harus ijin bupati semestinya di ubah menjadi lebih sederhana. Mungkin untuk   
bando atau billboar dengan ukaran lebih dari
 3x5 meter memang harus dengan   ijin dinas kimpraswil dlam rangka menjamin 
keselamatan masyarakat, namun   untuk reklame kecil, cukup camat yang memberi 
ijin.   Pos kedua yang masih mungkin ditingkatkan adalah retribusi Tempat 
Pelelangan   Ikan. seperti kita ketahui, banyak wilayah Demak yang cukup bagus 
untuk   dikembangkan TPI-nya, seperti Kecamatan Bonang dan Kecamatan Wedung. 
akan   tetapi, yang penting untuk diingat adalah, bahwa pemda harus memperbaiki 
  infrastruktur jalan dan pelabuhan sehingga perahu atau kapal yang lumayan   
besar bisa mendarat di Pantai atau pelabuhan yang ada. lagi-lagi ini terkait   
masalah dana. tapi apakah tidak mungkin, jika Pemda menawarkan kepada   
investor dengan model BOT (built, Operate and transfer)?   Bidang lain yang 
mungkin pula dikembangkan adalah menawarkan Demak sebagai   bandara (airport) 
yang baru menggantikan Bandara Ahmad Yani Semarang.   Sebagaimana kita ketahui, 
Bandara ahmad yani, hampir tiap tahun
 selalu   banjir, sehingga beberapa kali penerbangan dan pendaratan tidak bisa 
di   lakukan. Dengan melobi pemerintah pusat dan provinsi, Demak mungkin bisa   
menjadi alternative untuk menjadi bandara yang baru. sebagai info tambahan,   
bandara Juanda bukanlah terletak di Surabaya ,   tetapi terletak di Sidoarjo. 
saya kira masih banyak lokasi di Demak yang bisa   menjadi alternative tempat 
pembangunan Bandara.   yang terakhir ini, mungkin sekedar usulan. sekarang kan 
musim kampanye, nah   tidak mungkinkah Demak, baik Pemerintah atau LSM untuk 
membuat kontrak   politik dengan calon wakil Dapil Demak untuk memperjuangkan 
tambahan DAK,   baik untuk terminal, pelabuhan, atau kalo mungkin pengembangan 
bandara di   Demak?  New Email names for you!  Get the Email name you've always 
wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does!      


      

Kirim email ke