Siapa yang Tahu, Hari Ini Tahun Baru Sunda?

APAKAH Anda tahu kalau hari ini, Minggu, 8 Januari 2006, merupakan
tahun baru Sunda? Tahun baru yang berdasarkan sistem penanggalan
(kalender) Sunda.

Mungkin mayoritas masyarakat Sunda sendiri yang hidup di tatar
Pasundan, tidak tahu kalau hari ini, berdasarkan sistem penanggalan
Sunda (Kala Sunda) merupakan tahun baru Sunda yang jatuh pada dinten
Radite Pahing, ping 1 Sukla Paksa, sasih Kartika, Tahun 1942 Caka Sunda.

Memang, selama ini urang Sunda menjadi subordinat pelaku budaya lain.
Padahal, 400 tahun masa kejayaan Sultan Agung Mataram suku Sunda
menjadi bagian dari pelaku sejarah, tapi orang Sunda justru lebih
akrab dan banyak menggunakan sistem penanggalan Masehi, Hijriah, atau
Jawa.

Adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Drs. H.I.
Budhyana, M.Si., yang mencoba ngageuingkeun jajarannya bahwa Minggu
(8/1), merupakan tahun baru Sunda. "Tolong sosialisasikan bahwa kita
pun punya sistem penanggalan (kalender) sendiri, merupakan warisan
leluhur Ki Sunda yang harus kita lestarikan," ujar Budhyana.

Sistim penanggalan atau Kala Sunda, sudah dipergunakan sejak zaman
kerajaan Mataram dipimpin Sultan Agung 1633 Masehi lalu.

Berdasarkan Kala Sunda, nama hari terdiri dari, Dite atau Radite
(Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati
(Kamis), Sukra (Jumat), dan Tumpek (Sabtu).

Tapi, hal ini merupakan hal yang wajar, karena keberadaan Kala Sunda
menurut penelitinya, Ali Sastramidjaja (70), sudah lebih dari 500
tahun sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab dengan masyarakatnya.

Selama ini, hitung-menghitung hari baik yang dilakukan orang tua,
seperti ketika akan mengadakan pernikahan, sunatan, membangun atau
pindah rumah, merasa hal itu dilakukan berdasarkan penanggalan Sunda.
Padahal, proses tersebut berdasarkan penanggalan Jawa dan merupakan
pengaruh penanggalan India.

Keinginan menyosialisasikan kalender Sunda (Kala Sunda) berawal dari
tekad Yayasan Candra Sangkala menerbitkan kalender Sunda hasil
penelitian Abah Ali, panggilan akrab Ali Sastramidjaja, yang telah
melakukan penelitian selama 9 tahun.

Untuk pertama kalinya, penerbitan Kala Sunda dilakukan 18 Januari 2005
di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, bertepatan dengan tahun
baru Sunda, tanggal 1 Suklapaksa (parocaang) bulan Kartika tahun 1941
Caka Sunda.

Waktu itu dikatakan Abah Ali, penelitian yang dilakukannya bisa
berdampak pada perubahan tahun yang menandai peristiwa sejarah yang
terkait dengan manusia Sunda. Pasalnya, kata penyusun naskah "Sunda
Kalangider" (terdiri dari sembilan jilid dan memuat lima penanggalan
Caka, Masehi, Caka Sunda, dan Caka Jawa), tahun-tahun peristiwa
sejarah Sunda telah dipersepsi secara salah.

"Tahun-tahun yang termuat dalam prasasti maupun artefak itu selalu
dipersepsi sebagai tahun Saka India karena merunut pada pengaruh
Hindu. Sehingga, kalau dialihkan menjadi tahun Masehi tinggal ditambah
78 tahun saja (1 Saka:78 Masehi)," ujar Abah Ali waktu itu.

Hal ini, menurutnya, tidak lepas dari pengaruh budaya Mataram Jawa
yang juga memasukkan sistem penanggalannya. Sistem penanggalan Jawa
Mataram itu disebut kala pranata mangsa yang jauh berbeda dengan
sistem penanggalan Sunda. Kalender Mataram Jawa mencampurkan sistem
Caka Sunda, Saka Sunda, dan Hijriah.

Kelahiran kalender Sunda dilakukan oleh Sultan Agung Mataram pada 1633
Masehi. "Lagi pula dari bukti tertulis, pada saat diberlakukan seiring
pendirian Kerajaan Mataram, sistem ini tidak diawali dengan tahun ke-1
tapi langsung 1555. Kalau dihitung lagi, usianya tidak lebih dari 400
tahun," tuturnya.

Sistem penanggalan Sunda mengenal dua macam tahun, yakni Tahun Surya
dan Tahun Candra. Masing-masing tahun juga mengenal tahun pendek
(Surya 365 hari Candra 354 hari) dan tahun panjang (Surya 366 hari
Candra 355 hari). Kala Surya Saka Sunda (Tahun Surya) mengenal aturan,
tiga tahun pendek, keempatnya tahun panjang. Akan tetapi, setiap tahun
yang habis dibagi 128, dijadikan tahun pendek. Akhir tahun Surya
adalah ketika matahari berada di titik paling selatan.

Kala Candra Caka Sunda (Tahun Candra) mempunyai aturan bahwa dalam
sewindu (8 tahun), tahun ke-2, ke-5, dan ke-8 adalah tahun panjang,
sisanya tahun pendek. Setiap tahun ke-120 dijadikan tahun pendek.
Setiap tahun yang habis dibagi 2.400 dijadikan tahun panjang. Kala
Candra (yang dipakai dalam sistem penanggalan Sunda) memiliki
keistimewaan tersendiri yakni "ciples". Artinya, jika awal windu
(biasa disebut indung poe) Senen Manis, maka akhirnya adalah Ahad
Kaliwon. Keistimewaan lainnya, indung poe baru berganti setelah 120
tahun, mulai dari Senen Manis, Ahad Kaliwon, Saptu Wage, Jumaah Pon,
Kemis Pahing, Rebo Manis, Salasa Kaliwon, hingga terakhir Rebo Pahing.

Seperti halnya tahun Masehi, di Sunda-pun mengenal 12 bulan. Bulan
pertama Kartika memiliki 30 hari, Margatira (29), Posya (30), Maga
(29), Palguna (30), Setra (29), Wesaka (30), Yesta (29), Asada (30),
Srawana (29), Badra (30), dan Asuji (29/30).

Bagea rampah milangkala pabaru Sunda 1942 Caka Sunda, dinten Radite
Pahing, ping 1 Sukla Paksa, sasih Kartika, taun 1942. (Retno HY/"PR") ***





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke