banyak faktor akhi ...

di kampus saya training dan seminar gak pernah sampe 50.000 rupiah malah kadang 
gratis  paling mahal juga 25.000. ada yang bilang STEI Tazkia jelas kampus 
ekonomi Islam maka biaya-biaya pun akan tertekan karena banyaknya dukungan. 
padahal gak juga, birokrasi disini lumayan rumit dan sangat formal kalau tanmpa 
dukungan dan simpatisan KSEI yang jumlahnya ratusan lebih gak mungkin kita bisa 
menyelenggarakan seminar dan training ekonomi Islam

Dari Atas Satu Tanah Tempat Kita Berpijak: Teruslah Bergerak dan Jemput 
Kemenangan Yang Allah T'lah Janjikan di Ujung Kegelapan Apapun yang Kita Terima 
!! 

www.telagaalkautsar.wordpress.com 
Mahasiswa Akuntansi Syariah, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia 


--- Pada Rab, 16/6/10, Abdi Rahmadi <[email protected]> 
menulis:

Dari: Abdi Rahmadi <[email protected]>
Judul: Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 16 Juni, 2010, 10:16 PM







 



  


    
      
      
      Seharusnya Mas Faishol dengan gampang memahami mengapa training perbankan 
mencapai jutaan,?, karena meraih ilmu ekonomi perbankan di S1 dan di S2 juga 
mencapai puluhan juta. Biaya kuliah di S2 MM atau MBA, tidak bisa disamakan 
dengan sekolah di kampung. Biaya kuliah di LPPI dan ITB untuk S2 ekonomi 
syariah di atas 70 jutaan.Biaya kuliah di Program MM saat ini ada yang mencapai 
90 jutaan. Apalagi kuliah Doktor.Kuliah S3 biayanya di atas 100 juta Mas 
Faishal. Bagaimana mungkin training perbankan syariah dihargai hanya 100an 
ribu, yang benar aja. 


Pada 8 Juni 2010 15:16, AYeeP <fais1...@yahoo. com> menulis:
















 



  


    
      
      
      Salam,

Mengapa pelatihan, seminar dan sejenisnya yang berkaitan dengan perbankan islam 
atau ekonomis islam begitu mahal?

Hingga sekarang saya tak habis pikir, variable apa yang membuatnya bernilai 
juta-jutaan?
Apakah karena varibel fee dan transoprtasi pemakalah atau pembicara yang 
tinggi? Sewa gedung? harga kopi dan soft drink? variable harga trend?

Atau ini semua bisnis sebagaimana biasanya? Atau mungkin 
saya saja yang berpikiran cekak, kuno, gak maju, ndeso? 
Apakah ini indikasi bahwa geliat aktifitas ekonomi bernafaskan islam adalah 
geliat ekonomi biaya tinggi?

Kalau mau jujur, tidak sedikit yang hanya berlomba mengumpulkan sertifikat. 
Tentu bukan sekedar "kertas itu ukuran A4" itu yang penting, tetapi implikasi 
eksistensi sertifikat yang berakhir pada harga jual "personal".


Sentillah saya jika apa yang menggangu pikiran saya ini dinilai "mengganggu".

Salam hangat,
Faishol










      

    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  





Kirim email ke