Tanggapan saya ada dibawah;

--- In [email protected], Yuliati Soebeno
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menurut pendapat saya, bahwa disiplin itu perlu, memang benar dan
harus apabila kedisiplinan tersebut memang akan dipakai untuk
menjalankan kehidupan sehari-hari dalam hal kesenjangan
bermasyarakat, seperti disiplin ber-"Good Governance"; Transparansi;
mematuhi aturan-aturan berlalu lintas; mematuhi aturan-aturan dalam
menjaga lingkungan, dsb.
>   Maka menurut pendapat saya (walaupun agak sedikit OOT=Out Of the
TOPIK); apakah kedisiplinan ini tidak bisa dilakukan melalu Gerakan
Pramuka? Baru-baru ini ada berita (lupa kapan tanggal pemberitaan)
bahwa ada kemungkinan JAMBORE tidak bisa lagi dilaksanakan karena
kekurangan Budget untuk menyelenggarakan-nya.
>   Apakah budget yang akan dipakai untuk WAJIB MILITER itu tidak
bisa dipindahkan ke Gerakan Pramuka?

~ Gerakan Pramuka masih jauh levelnya dgn wajib militer, didalam
wajib militer tidak hanya diajarkan kedisiplinan secara intens, tapi
juga penanaman doktrin negara secara intens pula.

Ada beda yg sangat prinsip antara menanamkan sikap disiplin lewat
pramuka dan lewat wajib militer, pramuka bisa dilakukan oleh anak-
anak SD (Siaga?),kemudian SMP dan SMA, disini hanya diajarkan
masalah2 kepanduan dan sedikit masalah sosial,lingkup mereka sempit
dan usia mereka realitf hijau untuk mengerti dgn benar akan arti
penting gerakan pramuka itu sendiri, lebih banyak dari mereka yg
tahunya cuma rasa suka karena bisa berkumpul dgn teman2 dari lain
daerah atau sekolah, kemah bersama atau menjelajah, just for fun
saya kira bagi otak anak-anak ingusan tersebut.

Sekarang bandingkan dgn wajib militer, orang2 yg diwajibkan disini
adalah mereka2 yg telah dewasa, sehat jasmani dan rohani, mereka ini
dipilih atau dikader untuk disiapkan sebagai pemimpin bangsa.
Dinegara-negara maju hampir tidak ada tokoh militer yg maju sebagai
pemimpin parpol dan kemudian dicalonkan sbg presiden, tapi dinegara2
maju ini hampir semua lelaki pernah merasakan pahit getir menjadi
militer (baca; dididik secara ketat dgn disipling militer). Ketika
anak-anak didikan ala militer ini berkiprah dalam dunia
perpolitikan, maka bekal mereka cukup untuk memahami kondisi riil
bangsa dan tanah air mereka.

Jangan lupa, wajib militer tidak berarti mengajarkan masyarakat
untuk perang dan atau "bela negara" secara fisik semata, disini
harus dipahami bahwa tugas militer tidak hanya sebagai serdadu yg
siap adu fisik macam gladiator untuk membela tanah air mereka,
disaat negara dalam kondisi damai, maka tugas-tugas militer ini bisa
dialihkan ke tugas-tugas penganan masalah-masalah sosial, macam ABRI
masuk desa itu, atau tugas2 untuk membantu korban bencana alam,
kedepan saya akan usulkan agar tugas militer ini ditambah dgn
membantu rakyat kecil dalam upaya memerangi kemiskinan, misalnya dgn
membantu rakyat miskin mendirikan rumah.Bebarapa waktu lalu ribuan
tentara Australi dikerahkan untuk memerangi tikus (atau katak?) yg
merusak tanah persawahan penduduk.

Sekarang anda bayangkan, andai saat ini ada wajib militer, dalamsatu
angkatan,katakan saja satu pleton, ada beberapa orang china,
beberapa orang jawa, beberapa orang batak, sunda, pandang,madura,
irian jawa atau ambon, ada beberapa orang kristen, orang islam,
budha, hindu dan atheis, ada anak pengusaha kaya raya, anak guru,
anak dosen, anak abang becak, anak tukang ojek dan macam-macam lagi
background mereka, yg jelas satu pleton ini isinya campur aduk bak
gado-gado campur soto.

Nah, dalam disiplin militer, disitu ditanamkan bahwa satu group
pasukan (pleton dalam contoh ini) adalah satu jiwa dan satu nyawa,
one for all and all for one.

Dari fenomana tersebut, anda bisa bayangkan andaikata "doktrin
militer" ini sanggup dijiwai oleh SELURUH masyarakat karena mereka
ikut wajib militer, rasa persudaraan sebangsa dan setanah air ini
akan kokoh dan kuat, satu sama lain tak akan tega untuk penderitaan
ada diantara saudara-saudara mereka, orang Jerman bilang; "one hand
wash the other".

Tiga tahun kita di "sekap" dalam kam-kam untuk di indoktrinasi, maka
setelah keluar dari kam kita akan "lahir baru" sebagai anak bangsa
yg punya rasa cinta dan peduli terhadap nasib saudara sebangsa kita.
Itu bagian terpenting dari perlunya wajib militer, saya melihat rasa
cinta antar bangsa di bumi Indonesia masish jauh dari cukup, perang
Poso, kasus Mey dan kasus-kasus friksi agama adalah bukti nyata
bahwa bansga ini gagal menjadi "satu bangsa".

   Saya rasa didalam ke-Pramukaan itu diajarkan banyak sekali ke-
Disiplinan; ke-Mandirian, ke-Cerdasan berpikir, dll. Karena saya
sendiri pernah ikut JAMBORE.
>   Dan saya pikir dalam Parmuka diterapkan KETEGASAN, bukan
KEKERASAN (dalam pandangan saya - CMIIW-Correct Me If I am Wrong -
ke Militeran itu agak-agak menjurus ke -KEKERASAN); KEMANDIRIAN,
bukan "KEMACOAN" (benar gak ya, kalau udah bawa-bawa senjata kok
jadi "Maco" tingkah lakunya?). Mudah-mudahan dalam hal KECERDASAN
akan sama ya, dalam Ke Pramukaan dan Ke Militeran?

~ Mungkin karena ulah orde baru anda jadi paranoia saat melihat apa
itu militer, memang dalam banyak hal militer selalu diindektikan dgn
kekerasan, tapi cobalah anda tengok, para preman ditanah abang, para
pelajar yg suka tawuran, atau juga laskar jihad itu tidak bisa
dikatakan mewakili kekerasaan? mereka suka ribut dan bawa2 senjata
tajam, bahkan tanpa jaminan hukum sama sekali.
Banyak sisi kemanusiaan yg bisa kita pétik dari dunia militer ini,
diantaranya rasa "setia kawan" dan kedisiplinan tadi.

Soal pramuka saya sudah membahasnya diatas.
Jangan dilupakan; setelah wajib militer usai, kita tidak lagi
berkeliraan bawa-bawa senjata tajam bak militer beneran, wajib
militer hanya memberikan dasar2 kemiliteran secara fisik.yg lebih
penting adalah membentuk mentalitas anak bangsa.

   Nah, sering saya lihat kok bapak-bapak MILITER ini yang sering
menyalahi peraturan, nyrobot "hard shoulder" di toll road; Menakut-
nakut-i masyarakat dengan alasan-alasan yang kadang-kadang tidak
masuk akal
>   Menaik-kan tarif SIM di kantor Kepolisian; mem-Backing pengusaha
Illegal Logging, dan masih banyak lagi hal-hal yang saya rasa bukan
cara-cara kedisiplinan yang diajarkan sewaktu mereka mereka ini
menjalankan pelajaran dinas Kemiliteran.

~ Anda masih biased memahami antara militerisme dan militer,antara
kewajiban untuk mengikuti didikan militer dan untuk menjadi militer
dalam arti yg sesungguhnya.

Kasus perkasus tidak bisa generalisir untuk melihat secara
keseluruhan, yg bukan militer juga banyak (atau lebih banyak?) yg
bejat dan tidak bermoral, rata-rata wakil rakyat saat ini adalah
bukan militer, tapi lihat aksi korup mereka, bahkan lewat UU yg
mereka rancang dan sahkan sendiri mereka mencoba merampok uang
negara yg notabene adalah uang rakyat.

Dgn logika kebalikan dari yg anda pakai, kita bisa katakan bahwa
rusaknya moralitas dan mentalitas elit-elit bangsa (partai) adalah
karena mereka tidak dibekali dgn didikan militer yg benar.
>   Jadi apa perlunya ya, "Wajib Militer" untuk 18 tahun keatas?
Jika nantinya juga tidak akan membantu terjadi-nya Good Governance;
Transparansi; Berakal budi dalam menuruti aturan berlalu lintas;
Menjaga Lingkungan untuk kelangsungan generasi mendatang?

~ Anda terlalu skeptis, anda terklalu takut dgn bayangan anda
sendiri,coba tengoklah negara2 maju, USAm Jerman dan bahkan Swiss yg
mereka sendiri tidak memiliki militer (tentara) secara official,
tapi mereka menerapkan wajib militer bagi rakyatnya.

Kenapa?

Karena negara-negara ini tahu persis akan arti penting persatuan dan
kesatuan bangsa, kalau bukan lewat generasi muda untuk mempererat
tali persudaraan mereka lewat didikan disiplin dan menanamkan
doktrin "one for all and all for one" kepada mereka, lantas lewat
pintu mana lagi mereka bisa selalu menjaga rasa persuadaraan antar
sesama anak bangsa?

Mohon dicatat; dinegara-negara yg menerapkan wajib militer bagi
masyarakatnya, bisa kita temui bahwa mereka SANGAT bangga pada
bangsa dan negara mereka.
Lewat wajib militer kita akan tahu apa itu sikap patriotik dan
nasionalis.

(mohon dicatat; saya bukan militer dan sama sekali tidak berasal
dari keluarga militer, sebaliknya saya pernah punya masalah pribadi
dgn oknum militer karena kesewenang-wenangan dia, dalam kasus
seperti ini oknummiliter tak akan ada nyalinya kalau setiap lelaki
di Indonesia juga pernah menjadi dan dididik ala militer).

Salam,
Yuli
>
> chairil sanie djailany <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Saya setuju dengan rekan ddinasty, untuk kondisi bangsa
kita yang sudah carut-marut diberbagai bidang kehidupan berbangsa
saat ini, maka WAMIL sebagai salah satu upaya menumbuhkan sikap
disiplin saya percaya masih dapat dilakukan, minimal untuk menjadi
triger untuk berbagai cara pendidikan disiplin lainnya.
> Kita tidak bisa terlalu berharap bahwa disiplin dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik apabila hanya melalui pendidikan informal di
rumah maupun pendidikan formal sekolah.
> Kalau yang diributkan masalah dana, selama masih didasari oleh
tujuan yang baik saya pikir masih bisa dinegosiasikan besarannya
kembali sehingga tidak memberatkan keuangan negara, atau dapat juga
dicari bentuk lain penyelenggaraan WAMIL dengan peran swasta
terlibat dalam pendanaan.
>
> Salam,
> csd
>


Kirim email ke