Sdr. Osi,
Saya juga gemes kok ngeliat kualitas guru-guru kita, apalagi jika ditambah
kelakuan tak terpuji. Tapi saya berpendapat, tekanan ekonomi bisa membuat orang
jujur menjadi maling, orang baik menjadi bejat, dan orang idealis jadi
superpragmatis.
Saat ini, yang lebih penting didengar guru bukanlah: "Hoi, kerja yang baik,
kan lu udah jadi PNS?", melainkan: "Kalo saya gaji kamu secara layak, berani
nggak tanggung risiko jika ngaco dipecat?" Kalo berani, hayo. kalo nggak
berani, mundur aja.
Seperti kata Anda, guru punya tanggung jawab moral yang berat. Tapi, gimana
mereka bisa dituntut memenuhi tanggung jawab moral yang berat ini jika setiap
hari masih ribet cari tambahan biar dapur bisa ngebul terus selama 30 hari
dalam sebulan? Absurd, kan? Kalo udah gini, jangankan mereka itu mau jadi
"mulia." Mau jadi "baik" aja sulit bin mustahal.
Terima kasih buat urun rembugnya.
manneke
dwi osi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya jadi terharu loh membaca perjuangan Pak Manneke mengangkat
harkat martabat guru2 di Indonesia. Konsisten.
Pak Satria punya tujuan baik, tapi Pak Manneke punya tujuan mulia.
Saya lebih memilih cara yang mulia, karena guru buat saya punya
peranan mulia. Bukan hanya cuap2 lalu dibayar, tapi ada tanggung
jawab moral yg berat yg diemban.
~Osi
Manneke Budiman wrote: Thanks a lot, Pak Condro. Sangat mencerahkan. Semoga Pak
Satria sudi mempertimbangkan faktor-faktor yang Anda sebutkan ini sebelum
menghakimi para guru PNS. Saya tak pernah berhenti terheran-heran bahwa ada
konsultan pendidikan untuk Diknas sekaliber Pak Satria bisa luput dalam
memahami kompleksitas hidup seorang guru, dan tetap saja membabi-buta dengan
teori "full-time pay, part-time work."
manneke
---------------------------------
What kind of emailer are you? Find out today - get a free analysis of your
email personality. Take the quiz at the Yahoo! Mail Championship.
[Non-text portions of this message have been removed]