Pak Martin dan Rekans, 

Mohon maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Martin, karena
pemahaman saya mengenai keislaman sangat minim. Saya sendiri beragama
Katolik. Mungkin saudara-saudara yang beragama Islam di milist ini
bisa menjawabnya. 

Kalau dalam paham Katolik,sebutan Mahaguru atau Mahasiswa dipahami
sebagai istilah (dalam konteks) akademik, yang mempunyai makna yang
berbeda dengan sebutan gelar untuk ALLAH (dalam konteks iman). Ketika
menyebut atau memberi gelar pada ALLAH sebagai Mahakasih, Mahakuasa,
sebenarnya manusia mau mengungkapkan keterbatasan diri yang tak punya
kata-kata untuk menggambarkan keagungan Allah yang tak terbatas.
Sedangkan istilah Mahaguru dan Mahasiswa tidak mengacu pada
kekuasaan/keagungan yang tak terbatas itu. 

Tapi lain soal kalau para Mahaguru dan Mahasiswa itu lalu
merasa/mengklaim dirinya juga Maha seperti Tuhan, saya berpendapat itu
syrik.Kalau dia sudah merasa/mengklaim diri seperi itu, mungkin juga
dia tidak mau berdoa/beribadah lagi pada Tuhan. 

Jadi, sejauh saya pahami, menurut paham Katolik, mereka yang mengklaim
diri sebagai Mahaguru/Mahasiswa tidak syirik sejauh mereka dengan
klaim itu tidak merasa/mengklaim dirinya sama dengan Tuhan. 

Salam
Mulyadi

> Bung Mul,
> ngomong2 mereka-mereka yang mendaku (claim) diri sebagai Maha Guru
dan Maha Siswa itu syirk, menyekutukan Tuhan, atau ngga ya menurut
pemahaman keislaman Bung. Pada saat mereka shalat ada nggak perasaan
bahwa dia, sebagai Maha Guru dan Maha Siswa sedang menyembah Sang Maha
Kuasa yang lain? Penasaran aja.
> 
> Trims sebelumnya.
> 
> Salam, Tamrin Tomagola
> 
>  
>  
> tat
> Tamrin Amal Tomagola
> 
> 
> 
> 

Kirim email ke