saya pikir anda kurang jeli dalam melihat persoalan. ada beda yang besar antara sebutan maha untuk Tuhan dan manusia. dalam contoh : Maha Kuasa dengan mahasiswa, banyak beda.
I. Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Pengasih, Maha Penyayang dll. Kuasa, besar, pengasih, penyayang adalah kata sifat bukan kata benda. Artinya, tak ada lagi yang bisa menandingi dalam hal kuasa, besar, pengasih, penyayang dll. Sedang mahasiswa dan mahaguru : siswa dan guru adalah kata benda. jadi disini maha-siswa/maha-guru adalah maha dari yang terbatas pada manusia yang bernama siswa/guru saja. II Menulisnya juga beda. Maha untuk Tuhan dipisah : Maha Kuasa sedang maha untuk siswa/guru , disambung : mahasiswa/mahaguru. ini mah hasil pengamatan saya saja. benar tidaknya ya enggak tahu sebab saya bukan ahli bahasa indonesia. MJ --- In [email protected], Martin goro-goro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung Mul, > ngomong2 mereka-mereka yang mendaku (claim) diri sebagai Maha Guru dan Maha Siswa itu syirk, menyekutukan Tuhan, atau ngga ya menurut pemahaman keislaman Bung. Pada saat mereka shalat ada nggak perasaan bahwa dia, sebagai Maha Guru dan Maha Siswa sedang menyembah Sang Maha Kuasa yang lain? Penasaran aja. > > Trims sebelumnya. > Salam, Tamrin Tomagola > >
