Bukan dengan mendefinisikan cinta, maka cinta itu ada. Tapi dengan mewujudkan cinta, maka cinta itu ada. Karena ada maka cinta itu dirasa, dialami.
Maka, cinta atau kasih atau apalah namanya itu sebenarnya mudah dimengerti atau dipahami, bukan dengan pernyataan: AKU MENCINTAI, MENGASIHI,MELINDUNGI KAMU melainkan dengan pertanyaan: APAKAH KAMU MERASA DICINTAI, DIKASIHI, DILINDUNGI OLEHKU? Dalam konteks rumah tangga cinta atau kasih dari suami dirasakan oleh isteri dan anak-anak. Kalau suami mau tahu apakah ia bisa mencintai, dengarkanlah isteri dan anak-anak, apakah mereka merasa dicintai,dikasihi dan dilindungi oleh suami atau ayah mereka? Demikian juga sebaliknya isteri dan anak-anak berani menanyakan pertanyaan yang sama pada suami atau ayah mereka. Kekurangan kita adalah kerap kali kita kurang berani menanyakan pertanyaan: apakah kamu merasa dicintai olehku? Karena kita takut, nanti jawabannya tidak seperti yang kita harapkan. Kalau jawabannya tidak seperti yang kita harapkan, lalu kita kecewa. Karena kecewa lalu kita marah. Karena amarah lalu dendam. Karena dendam muncul keinginan membalas, dengan cara menyakiti. Kalau seperti itu memang kita tak pernah mencintai. Salam Mulyadi --- In [email protected], Godlip Pasaribu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Cinta mungkin lebih bersifat duniawi, karena bisa > mengandung nafsu, cemburu, dll seperti yang ibu > katakan. Cinta yang murni atau yang tidak bersifat > duniawi mungkin lebih tepat kalau kita sebut kasih. > Kasih tidak dendam, tidak kikir, tidak pemarah, tidak > menghakimi, sabar, tidak memfitnah, tidak menipu, > dlsb. > > Salam.
