Saya kira ketidak percayaan anda karena anda kurang terbiasa 
mempelajari berbagai metoda sains (termasuk metoda2 estimasi secara 
deskriptif) yang sebenarnya bisa diterapkan dalam banyak hal2 lain 
di berbagai disiplin ilmyu, atau anda hanya belajar metoda sains 
untuk sains saja. Dari sisi 'prejudice' mengapa banyak orang tak 
percaya Holocaust, sepengetahuan saya dan sepengeyakinan saya :-), 
di Indonesia (dan di Iran :-)) tak pernah ada pemutaran BERBAGAI 
filem dokumenter (bukan dibikin oleh satu pihak saja lho) tentang 
Holocaust.

Banyak fakta2 Holocaust yang terdokumentasi dengan baik, mis. 
sebagian daftar/list tawanan yang hilang didapat oleh tentara 
sekutu, foto2/filem2 pengiriman tawanan perang ke kamp2 konsentrasi 
dg menggunakan KA. Lebih jauh, pembantaian dilakukan secara 
sistematis dan dilakukan dg metoda cepat untuk membunuh tawanan 
(dalam kamar gas) dan juga dilakukan dengan metoda yg cepat untuk 
menguburkannya (dengan kremasi). 

Saat ini, sudah semakin banyak dokumenter dalam bentuk DVD berisi 
kesaksisan2 langsung atau dokumen2 semacam, yang dijual di pasaran. 
Yang lebih penting, estimasi jumlah korban dilakukan dengan metoda 
perkiraan yang sangat rasional. 

Sebagai perbandingan, walaupun tak ada orang yg bisa memberikan 
angka pasti, kita bandingkan bagaimana cara menentukan jumlah korban 
orang Yahudi yang dibunuh dalam peristiwa Holocaust dan berapa orang 
korban yang dibunuh Westerling di Sulawesi. Saya yakin metoda 
estimasi yang berbasis dokumen dan kesaksian2 langsung dalam kasus 
Holocaust lebih akurat daripada metoda perkiraan statistik (berbasis 
hasil survey perkiraan rasio jumlah terdeteksi: jumlah tak 
terdeteksi) jumlah penderita AIDS sesungguhnya apabila diketahui 
jumlah penderita AIDS yang terdeteksi/melapor.

Berdasarkan pengalaman se-umur2 tinggal di Indonesia, khususnya 
selama tinggal di Makassar, bahkan pernah tinggal cuma sekitar 500 
meter dari Monumen (Kuburan) Korban 40 Ribu, tak pernah saya 
mendengar ada dokumentasi dari banyak pihak atau sekedar diskusi ttg 
cara2 sederhana di masa lalu dalam estimasi jumlah korban tsb, 
selain tulisan2 'sejarah', pidato2 dan ucapan2 retorik belaka. 

Contoh metoda yang saya bahas ini bisa diberlakukan untuk kasus2 
bencana lain. Walaupun tingkat kepercayaan kesimpulan metoda ini 
sulit dihitung, ttp jelas lebih rasional daripada cara2 estimasi 
lewat cerita mulut ke mulut atau lewat tulisan retorik dalam satu 
buku 'sejarah' versi SATU pemerintah. Mengapa lebih akurat? Sebab 
metoda semacam ini berbasis banyak dokumen2 (visual, tertulis, 
audio, dsb) yang ada ditambah kesaksian bekas2 tawanan dan 
penyelidik bisa memperkirakan dg metoda ini. 

Berikut ilustrasinya. Berdasarkan dokumen list tawanan satu 
rangkaian kereta misalnya. Setiap penyelidik pasti melakukan langkah 
pertama berikut: mencari/mengidentifikasi seluruh penumpang KA tsb 
di antara seluruh tawanan kamp konsentrasi yang bisa diselamatkan 
setelah PD 2. Jika seorang tawanan dalam satu kereta tsb yang 
selamat mengenal 20 tawanan lain di gerbong yang sama hilang dan 
hanya mendapatkan 1 tawanan lain yang dikenalnya dalam satu gerbong 
yang selamat, maka diperkirakan perbandingan yang selamat dengan 
yang hilang/ terbunuh paling tidak adalah 1:10, mungkin malah lebih 
parah, mis. 1:40. 

Mengapa mungkin 1:40? Sebab angka 10 dibatasi oleh kendala jumlah 
orang di KA yang dikenal oleh orang tsb. Mungkin saja ada 30 orang 
lain tak selamat (hilang/terbunuh) tetapi orang2 tsb tak dikenalnya. 
Angka 1/10 ini adalah 'upper bound' dari estimasi tsb. Untuk 
memastikan atau mendekati angka2 perbandingan sesungguhnya, 1:20, 1: 
40 atau 1:50, harus digunakan cara2 lain, fakta2 lain atau dokumen2 
lain. 

Salam

--- In [email protected], "IC" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Saya pikir bukan kita mengelak bahwa terjadi pembunuhan terhadap 
kaum Yahudi oleh Nazi pada waktu Perang Dunia II. Tapi yang menjadi 
masalah adalah, apakah memang betul bahwa yang dibantai berjumlah 
jutaan???

> 
> Dalam kondisi perang dan sesudahnya, jumlah yang meninggal 
(kwantitas) seringkali digunakan sebagai propaganda oleh pihak 
tertentu untuk kepentingannya. Terutama dalam hal ini adalah pihak 
Yahudi khususnya untuk menarik simpati dari banyak pihak atas 
pembantaian yang dilakukan oleh pihak Jerman. Atas dasar itulah maka 
kaum Yahudi kemudian membuat suatu alasan bahwa sudah saatnya mereka 
membentuk negara sendiri agar dapat melindungi mereka tanpa berharap 
ada perlindungan dari negara lain. Kaum Yahudi seperti kita semua 
tahu bertebaran di beberapa negara.
> 
> Karena tidak ingin melihat ada pembantaian yang "katanya" 
berjumlah jutaan, maka negara2 pemenang perang khususnya Inggris 
memberi kesempatan kepada kaum Yahudi untuk membentuk negara seperti 
Israel seperti sekarang. sebetulnya Inggris sendiri sudah menawarkan 
kepada Kaum yahudi untuk membentuk negara merdeka, yakni di Uganda, 
Afrika. Tapi kaum Yahudi kemudian menolak dengan alasan agama dan 
memilih wilayah Israel sekarang sebagai wilayah negara mereka. 
Padahal wilayah tsb saat itu didominasi oleh orang2 Palestina.
> 
> Inilah saya kira yang menjadi dasar kemudian orang meragukan 
holocaust yang sebenarnya, karena cerita mengenai Holocaust tsb 
hanya dijadikan dasar utk memberi "Iba" kepada orang2 Yahudi yang 
notabene memang merebut tanah milik bangsa Palestina.
> 
> Sekali lagi, pembantaian thd Kaum Yahudi memang ada, tapi 
jumlahnya apakah jutaan??? Apakah memang Kaum Yahudi saat itu memang 
berjumlah jutaan???
> 
> 
> Salam

Kirim email ke