Pak Loeky, Ini pendapat yang 'cool'. :-) Apakah Anda percaya atau tidak pada holocaust tidak berarti bahwa Anda pro atau kontra pada Israel. Meski demikian, Iran (dan yang anti pada Israel) punya alasan untuk tidak percaya pada holocaust. Mereka bisa keluarkan segala macam teori untuk itu. Tapi toh nantinya fakta yang akan berbicara. Jadi biarkan kedua belah pihak mengeluarkan statemennya. Sampai saat ini pun klaim bahwa Westerling membunuh puluhan ribu orang di Sulsel sangat diragukan oleh sejarahwan. Orang Sulsel silakan saja kalau mau percaya bahwa Westerling memang membunuh sebanyak itu. Tapi kalau ada sejarahwan yang tidak percaya dan ingin mengadakan penyelidikan sampai mana kebenaran klaim tersebut ya tidak perlu lantas kita tuding bahwa ia tidak simpati pada penderitaan orang Sulsel. Bukankah sejarah itu selalu ditulis ulang dan tidak pernah sekali jadi? Salam Satria
--- In [email protected], "loekyh" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya kira ketidak percayaan anda karena anda kurang terbiasa > mempelajari berbagai metoda sains (termasuk metoda2 estimasi secara > deskriptif) yang sebenarnya bisa diterapkan dalam banyak hal2 lain > di berbagai disiplin ilmyu, atau anda hanya belajar metoda sains > untuk sains saja. Dari sisi 'prejudice' mengapa banyak orang tak > percaya Holocaust, sepengetahuan saya dan sepengeyakinan saya :-), > di Indonesia (dan di Iran :-)) tak pernah ada pemutaran BERBAGAI > filem dokumenter (bukan dibikin oleh satu pihak saja lho) tentang > Holocaust. > > Banyak fakta2 Holocaust yang terdokumentasi dengan baik, mis. > sebagian daftar/list tawanan yang hilang didapat oleh tentara > sekutu, foto2/filem2 pengiriman tawanan perang ke kamp2 konsentrasi > dg menggunakan KA. Lebih jauh, pembantaian dilakukan secara > sistematis dan dilakukan dg metoda cepat untuk membunuh tawanan > (dalam kamar gas) dan juga dilakukan dengan metoda yg cepat untuk > menguburkannya (dengan kremasi). > > Saat ini, sudah semakin banyak dokumenter dalam bentuk DVD berisi > kesaksisan2 langsung atau dokumen2 semacam, yang dijual di pasaran. > Yang lebih penting, estimasi jumlah korban dilakukan dengan metoda > perkiraan yang sangat rasional. > > Sebagai perbandingan, walaupun tak ada orang yg bisa memberikan > angka pasti, kita bandingkan bagaimana cara menentukan jumlah korban > orang Yahudi yang dibunuh dalam peristiwa Holocaust dan berapa orang > korban yang dibunuh Westerling di Sulawesi. Saya yakin metoda > estimasi yang berbasis dokumen dan kesaksian2 langsung dalam kasus > Holocaust lebih akurat daripada metoda perkiraan statistik (berbasis > hasil survey perkiraan rasio jumlah terdeteksi: jumlah tak > terdeteksi) jumlah penderita AIDS sesungguhnya apabila diketahui > jumlah penderita AIDS yang terdeteksi/melapor. > > Berdasarkan pengalaman se-umur2 tinggal di Indonesia, khususnya > selama tinggal di Makassar, bahkan pernah tinggal cuma sekitar 500 > meter dari Monumen (Kuburan) Korban 40 Ribu, tak pernah saya > mendengar ada dokumentasi dari banyak pihak atau sekedar diskusi ttg > cara2 sederhana di masa lalu dalam estimasi jumlah korban tsb, > selain tulisan2 'sejarah', pidato2 dan ucapan2 retorik belaka. > > Contoh metoda yang saya bahas ini bisa diberlakukan untuk kasus2 > bencana lain. Walaupun tingkat kepercayaan kesimpulan metoda ini > sulit dihitung, ttp jelas lebih rasional daripada cara2 estimasi > lewat cerita mulut ke mulut atau lewat tulisan retorik dalam satu > buku 'sejarah' versi SATU pemerintah. Mengapa lebih akurat? Sebab > metoda semacam ini berbasis banyak dokumen2 (visual, tertulis, > audio, dsb) yang ada ditambah kesaksian bekas2 tawanan dan > penyelidik bisa memperkirakan dg metoda ini. > > Berikut ilustrasinya. Berdasarkan dokumen list tawanan satu > rangkaian kereta misalnya. Setiap penyelidik pasti melakukan langkah > pertama berikut: mencari/mengidentifikasi seluruh penumpang KA tsb > di antara seluruh tawanan kamp konsentrasi yang bisa diselamatkan > setelah PD 2. Jika seorang tawanan dalam satu kereta tsb yang > selamat mengenal 20 tawanan lain di gerbong yang sama hilang dan > hanya mendapatkan 1 tawanan lain yang dikenalnya dalam satu gerbong > yang selamat, maka diperkirakan perbandingan yang selamat dengan > yang hilang/ terbunuh paling tidak adalah 1:10, mungkin malah lebih > parah, mis. 1:40. > > Mengapa mungkin 1:40? Sebab angka 10 dibatasi oleh kendala jumlah > orang di KA yang dikenal oleh orang tsb. Mungkin saja ada 30 orang > lain tak selamat (hilang/terbunuh) tetapi orang2 tsb tak dikenalnya. > Angka 1/10 ini adalah 'upper bound' dari estimasi tsb. Untuk > memastikan atau mendekati angka2 perbandingan sesungguhnya, 1:20, 1: > 40 atau 1:50, harus digunakan cara2 lain, fakta2 lain atau dokumen2 > lain. > > Salam
