Yes, difable sama dengan disable. Tecuplik tulisan saya sebagai penderita cacat:
"Selama enam tahun cacat, dua kali saya ke Australia, berkeliling RRC selama lima belas hari dan menjalankan ibadah umroh meskipun duduk di kursi roda. Di Australia saya sangat terkesan pelayanan terhadap orang cacat. Bila akan menyeberang dari jauh mobil sudah berhenti dan memberi jalan, sedang orang sekitar berusaha membimbing menyeberang, ketika akan turun dari mobil semua yang lewat di sekitar berhenti dan berusaha membantu atau menanyakan apa yang mereka dapat bantu. Mobil bis umum sangat mudah ditumpangi karena ada bagian yang lantainya dapat diturun-naikkan agar penderita cacat dan pemakai kursi roda dapat turun-naik dengan mudah, ruang cacat disediakan dan tidak boleh digunakan orang sehat, bahkan dikenakan denda, dan lain-lain fasilitas yang memudahkan. Tidak heran kalau kemana saja orang cacat dapat berpergian, bahkan warga cacat terasa dimanjakan berlebihan. Mereka bisa hidup mandiri, banyak di antara mereka hidup sendirian dan mengerjakan sendiri kebutuhan hidupnya. Waktu diadakan Olypiade Cacat beberapa waktu sesudah Olympiade 2000 kota Sydney dipenuhi orang cacat berbaur dengan atlit cacat yang kemampuannya luar biasa, dengan kaki palsu berlomba melompat, berlari, di atas kursi roda mereka bisa bertanding tennis, basket dan lain olahraga yang bagi orang sehat saja sulit. Kondisi terbalik di RRT, tidak pernah kita menemui orang cacat kecuali turis, penduduk penderita cacat ditempatkan di balai perawatan. Karena semua harus bekerja tidak ada keluarga yang memelihara penderita cacat dirumahnya. Fasilitas untuk penderita di tempat umum tidak dijumpai, tetapi menjelang Olympiade tahun 2008 di Beijing mereka diharuskan menyediakan fasilitas cacat sebab orang cacat juga berhak menonton, apalagi akan diadakan juga Olympiade cacat. Alhamdulillah di Mekkah kursi roda bisa digunakan tawwaf mengelilingi kabbah. Sedangkan untuk sa'i naik ke bukit Marwah dan Safa tersedia fasilitas tandu. Bila akan mencium Hajar Aswad jemaah sehat akan memberi jalan. Di Indonesia lain lagi, hampir semua orang akan menolong tetapi harus diminta terlebih dahulu. Tidak ada bantuan spontan yang diberikan, malah kadang terasa menyepelehkan, misalnya tidak memberi kesempatan pertama ketika antri, tidak melambatkan kendaraan bahkan membunyikan klakson karena merasa jalannya terganggu. Sangat jarang ada orang yang spontan menawarkan bantuan jika ada penderita cacat yang tampak kesulitan. Tangga busway didesain antara lain untuk memudahkan penderita cacat yang menggunakan kursi roda akan tetapi antara jalan dengan tangga busway ada trap yang susah dilalui, bahkan di beberapa station hanya disediakan tangga biasa. Mungkin diperlukan pengajaran sejak kecil untuk membangkitkan rasa empati dan penduli kepada penderita cacat, sebab bukankah bangsa kita termasuk bangsa yang ramah, katanya". --- In [email protected], "jktlabdg" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Maaf, saya baru kali ini mendengar istilah "Difable". Apakah yang > dimaksud adalah "Disabled". > > Di negara Amerika, bisa dilihat bahwa orang2 yang "disabled" telah > diajar mandiri sejak kecil dan juga pada orang2 yang sudah dewasa. > Mereka tidak terlalu dipandang rendah dan dihargai sebagaimana > layaknya manusia hidup. > > Suatu kali saya tercenung sebentar, melihat seorang wanita disabled, > dengan menggunakan kursi rodanya bisa mengemudikan kendaraan yang > khusus dirancang untuk orang2 yang disabled tsb. > Alangkah indahnya bila di tanah air tercinta pun, para disabled > diberikan pendidikan yang cukup baik agar bisa mandiri. > > Sayang, sarana jalan di Indonesia belum cukup laik untuk orang2 > disabled menggunakan wheel chair dengan aman. > > Alangkah baiknya, bila ada yang baik dari negara lain diambil sebagai > contoh dan disesuaikan pelaksanaannya di negara Indonesia. > > Untuk yang mendapat kekurangan di penglihatan, ada anjing terlatih > yang membantu mereka dalam kegiatan se-hari2nya. > > dsb..............dsb............... > Salam > Lily
