Ha..ha...pak Manneke..karena saya bukan "feminis"---istilah ini masih belum 
kupahami betul--saya hanya ingin pemahaman sebagai titik pijak dari para 
akitivis perempuan itu. Jadi maaf saya memang punya penjelasan sendiri tapi 
dari sisi saya lho, yang belum tentu sepaham dengan para feminis...gitu loh. 
   
  Mengenai budaya matrilineal ( bukan matriarki ya?? nanti saya cek literatur 
ya)..kok bisa yang berkuasa tetap laki-laki?? setahu saya kok para wanita nya 
yang punya power dan garis ibu kan yang menentukan keturunan??
   
  -CI-
   
  

manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Lha, soal stereotipe, bukannya Anda mestinya lebih ngerti? Kan 
bidangya psikologi toh? Hal ini banyak dikaji dalam cognitive psychology. Lebih 
baik Bu Cornelia yang menerangkan di sini dari pada saya ngeracau panjang lebar.

Satu lagi, budaya Minang itu bukan "matriarki" melainkan "matrilineal." kedua 
hal ini bedanya seperti laut dan gunung. Budaya matriarki cuma ada dalam mitos 
dan legenda, seperti legenda bangsa Amazon yang konon semuanya perempuan, 
misalnya. Kalo matrilineal, penguasanya tetap laki-laki. Kan tokoh kunci dalam 
sistem ini adalah Ninik Mamak, yang nota bene adalah laki-laki?

manneke

Kirim email ke