Lady first itu tradisi siapa sih? Di indonesia sepertinya tidak ada itu kecuali mau gaya-gayaan aja, atau hal-hal sepele seperti antrian, duduk di dalam bus atau mau lewat duluan. Saya pikir di negeri ini perempuan itu lebih dianggap the second sex.
Mariana Wednesday, April 25, 2007, 4:36:40 PM, you wrote: > setuju Mas ,, bhw feminis sejati nggak mau begitu.. > setuju juga perlunya ada aturan disaat masih marak kekerasan , kalau > ngandelin perubahan dr masyarakat sendiri jd terlalu lambat.., jadi bagus > ada komnas perempuan , uu kdrt...sayang bin ajaib yg keluar malah perda a > la Banten... > Tapi sy kira fenomena titanic yg terjadi setahun lalu, masih juga kok > terjadi sekarang antara lain dgn semboyan lady first > bagus juga direnungkan agar kesetaraan lebih dapat di hayati. > ..secara umum aku yakin itu nggak terlalu salah..masing masing ada > kelebihannya... soal fisik umumnya laki laki lebih kuat.. secara > daya tahan mental umumnya sering wanita yg lebih kuat.., makanya ada > penelitian bilang, kalau laki menduda .. nggak kawin lagi.. dia segra akan > nyusul ke akhirat, sementara perempuan bisa terus menjanda berpuluh tahun > tanpa kehilangan semangat hidup.. > Makanya lebih banyak janda yg hidup duda , dan lebih banyak duda yg kawin > lagi.dibanding janda .. smile.. > senang juga lho , kalau ada mahluk indah , minta > perlindunganku...,sepertinya aku hebat... smile..,jadi sebaiknya jangan > semua wanita merasa sama kuat dgn laki laki.. > Salam > Haniwar > At 10:20 PM 4/24/2007, you wrote: >>Titainic itu tenggelam satu abad yang lalu, Pak. Lha ya lucu kalo >>peristiwa seabad lalu mau dipakai untuk bicara soal situasi perempuan pada >>masa kini. Sudah mengertikah kini mengapa contoh Titanic ini paling cocok >>ya di-parodi-kan? >> >>Tapi, kembali saya katakan, perempuan feminis tak akan pernah >>menuntut-nuntut ditraktir atau didahulukan dalam segala hal. Perempuan >>feminis sadar bahwa dengan semakin besarnya kebebasan diri, semakin besar >>pula tanggung jawab. Kalo yang ngaku feminis tapi kesana kemari minta >>ditraktir laki-laki melulu dengan alasan bahwa dia perempuan, ya ini >>feminis gadungan. >> >>Bahwa negara, pemerintah, penguasa, hukum masih terus mau memperlakukan >>perempuan sebagai makhluk yang sama tak berdayanya dengan anak-anak, ini >>bukan hasil tuntutan kaum feminis, melainkan kelanjutan dari pola pikir >>patriarki. >> >>Tapi, dalam masyarakat yang masih belum setara, yang masih marak dengan >>kekerasan dan peminggiran terhadap perempuan, maka negara dan perangkat >>hukum wajib memberikan perlindungan kepada perempuan. Contohnya? Ya di >>negara kita ini. >> >>manneke -- Best regards, Mariana mailto:[EMAIL PROTECTED]
