Bu Ratih Yth, Menurunnya minat baca (terhadap buku/hardcopy) tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi informasi, hipotesa saya ini terbatas untuk kelas menengah ke atas (kelas A, B).
Buat mereka, waktu benar-benar sangat berharga, jadi daripada menghabiskan waktu membaca buku (hardcopy), lebih mudah, cepat dan praktis mencari informasi di dunia maya, misalnya dengan memanfaatkan Wikipedia, Google, atau YouTube. Ke depan, saya memprediksi penjualan buku elektronik (e-book) melalui internet akan meledak, seperti halnya penjualan lagu atau down load ringtone melalui internet saat ini. Bagi kelas menengah ke bawah (kelas C, D, E), menurunnya minat baca lebih disebabkan karena menurunnya daya beli (purchasing power), akibat melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, PLN dan lain-lain. Jangankan membeli buku, kita semua tahu semakin banyak anak-anak dari kelompok ini yang terpaksa berhenti bersekolah karena orang tua mereka tak mampu lagi menutup biaya pendidikan (uang sekolah, ekstra kurikuler, seragam, dll). Jadi melihatnya harus dengan dua kaca mata, Bu Ratih. Untuk mengembangkan minat baca bagi kelas menengah ke bawah, sebenarnya solusinya banyak Bu, misalnya dengan mengembangkan rumah-rumah baca yang menyediakan buku secara gratis, dengan menggandeng lembaga-lembaga donor seperti British Council, Ford Foundation, Japan Foundation dll. Salam. ----- Original Message ---- From: Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, April 28, 2007 11:08:08 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] bagaimana minat baca di Indonesia? Minat baca di Indonesia sangat sedikit karena mereka belajar bacanya tanpa dikuti dengan pemahaman dan tanpa motivasi yang jelas mengapa saya harus membaca. Yang anak rasakan itu hanya kekesalan dari banyaknya huruf yang memusingkan dan kumpulan huruf-huruf itu tanpa tujuan jelas harus dihafalkan, selain itu ada tuntutannya pula harus BENAR dan tidak ada kesempatan untuk bertanya apakah isi dari tulisan itu benar atau tidaknya, atau mengapa isi dari tulisan itu seperti itu. Atau tidak adanya kesempatan untuk memvariasikan isi dari tulisan itu sesuai dengan pemikirannya. Sehingga jelasmotivasi untukmembaca atau menulis menjadi hilang karena anak takut dituduh SALAH. Dan lagi kekrunga pengetahuan para guru dan orang tua. Maksud saya mereka lupa adanya pre reading sama dengan pre writing, dengan dimulai dengan membacakan cerita-cerita hebo, lucu , yang penting yang menarik perhatian anak seperti film-film di TV, dan juga meminta anak untuk mengulangi cerita yang sudah dibacakan. Ini bisa dimulai sedari usia dini, maksud saya saat anak mulai senang merobek-robek kertas/koran/ majalah. Saat itu sebetulnya minat baca pada anak sudah dimulai, juga saat anak senang melihat komik(cerita bergambar) hal itu kan di Indonesia dilarang tanpa alasan yang jelas. Alasannya hanya karena "Saya orangtuamu dan saya tidak suka kamu membaca komik". atau "Karena saya gurumu dan saya tidak suka kamu membaca komik". Orang dewasa di Indonesia selalu merasa benar...dan bila anak "melawan" maka di anggap kurang ajar......juga kadang akibat membaca anak menjadi lebih pintar itu akan menjadi masalah pula. Dan itu terjadi pada diri saya, karena saya selalu menjawab pendapat orangtua atau guru saya,maupun teman saya yang lebih tua maka jawabannya"Mengapa kamu selalu menjawab bila diberitahu, makanya jangan terlalu banyak MEMBACA itu membuat otakmu kurang waras" Anak diIndonesia memang di demotivasikan untuk membaca. Selain itu juga tentunya masih terlalu sedikit sekolah-sekolah mengadakan perpustakaan buku-buku yang diluar buku pelajaran sekolah yang bertujuan lebih untuk menghibur atau relaksasi, dan meningkatkan wawasan kita.Cara belajar kita di Indonesia terlalu dibatasi...kurangny a peluang anak atau guru untuk mencari perbandingan melalui buku-buku bacaan.Kurangnya penggunaan Lexicon (semacam Kamus) di kelas. Juga jarang sekali guru2 memberikan anak peluang untuk berdiskusi masalah buku yang dibacanya diluar sekolah. Mungkin karena adanya kemunduran wawasan pada orang-orang dewasa di Indonesia, menyebabkan mereka kurang mengarahkan anak-anaknya untuk sering membaca. Sebagai contoh disekitar lingkungan saya, selalu banyak orang menunggu koran kompas bekas dari saya untuk di beli...serius. ..mereka membeli untuk entah dijual kembali...yang jelas bukan untuk dibaca lagi. Mengajar membaca dan menulis bukan hal yang sederhana... ..kita suka lupa bahwa minat itu tidak bisa dipaksakan, melainkan harus dipupuk. Bagaimana cara memupuknya,ya dengan membuat anak merasa termotivasi untuk selalu mencari tahu apa yang dibaca dan meresa perlu untuk mencari tahu apa yang didengar melalui buku-buku yang tersedia dan bisamemberikan kelegaan pada anak karena sekarang mereka menjadi jelas dengan apa yang dibacanya. Salam Hormat, Ratih
