Saya mungkin mau komentar sedikit, karena saya merasa feminis adalah 'laku' bukan hanya wacana, maka harapan perjuangan feminis yang sukses membina keluarganya tidak lepas dari peran laki-laki (suami) yang punya 'laku' feminis juga. Atau mungkin begini, saya pikir tak perlu ada kata feminis kalau laki-laki sudah feminis. Karena berarti kita tak perlu teori atau kritik lagi tentang patriarkhi karena patriarkhi sudah tidak ada dalam keluarga tersebut. (ingat, feminis tidak sama dengan feminin).
Saya tidak bisa membayangkan seorang feminist bisa sukses membina keluarganya kalau laki-laki atau suaminya patriarkhis. Misalnya, istrinya tak boleh bekerja, harus dirumah, tidak boleh berekspresi, tidak boleh menyatakan pendapat. Tak akan ada kesuksesan di sana. Tak pernah sejalan. Justru yang harus ditekankan adalah, seorang feminis harus tahu betul memilih laki-laki seperti apa bila mereka ingin berkeluarga. Dan laki-laki yang feminis adalah yang merasa tidak terancam ketika mendengar kata 'feminis'. Laki-laki yang memandang feminisme sebagai kehidupan positif dalam keluarga justru membantu relasi suami istri yang solid. Tak perlu ada peran-peran gender lagi, yang penting kerjasama. Saya sendiri, saya sangat mencintai keluarga saya, tapi saya juga harus menyatakan semua itu bukan karena saya saja, tetapi suami saya juga yang ikut berperan membuat keluarga menjadi rumah abadi bagi semua orang di dalamnya. Mariana > > Saya sangat respek terhadap perjuangan para feminist dan saya > sangat hormat dan angkat topi terhadap feminist yang juga sukses > dalam membina kehidupan keluarganya. Feminin - maskulin, bukankah > itu dua sisi yang selalu ada dalam setiap manusia, sama seperti > dalam panas ada dingin, dalam gelap ada terang, dalam baik ada buruk ? > > Salam, > > Irry.
