Betul sekali. Ini cerita klasik yang terus berulang di negeri kita yang porak 
poranda ini. Sertifikasi selalu dijadikan lahan cari duit daripada sarana 
penjamin mutu. Selain itu, perlu dipastikan apakah orag-orang yang duduk di 
badan sertifikasi ini memang kompetensi dan kualifikasinya betul bagus? Jangan 
sampai cuma hasil KKN dan klik-klikan saja.
   
  Kalo liat bunyi statement Pak Moedjiman yang ketua BSN ini, ada tersirat 
semacam semangat persaingan dengan sekolahan penerbit ijazah. Ujung-ujungnya, 
bagi-bagi rejeki gitu. Ironisnya, dalam banyak organisasi profesi pemberi 
sertifikasi yang saya tahu, justru yang duduk di dalamnya adalah para profesor 
dan pakar dari sekolahan (universitas). Lha, sama aja bo'ong dong?
   
  manneke

"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Yang perlu sebenarnya bagaimana mengatur agar program sertifikasi 
tidak 
dijadikan pohon duit bagi para petualang organisasi. Sekarang ini biaya 
sertifikasi di semua bidang sangat mahal. Sertifikat yang cuma selembar 
kertas itu terpaksa dibeli karena menjadi "tuhan" baru untuk menentukan 
siapa yang bisa cari makan di negeri ini. 
Coba hitung sendiri kalau selembar sertifikat itu paling murah 
harganya 1 juta, sementara semua profesi mulai dari mandor, panitia 
lelang, guru, insinyur dll wajib punya. Bahkan untuk insinyur tarifnya 
samapi 2,5 juta. Uang itu untuk siapa?

wass,
Triyatni

Kirim email ke