Satuju Pak'e, Ada cerita lucu terkait dengan hal sejenis yang saya alami sendiri, ceritanya gini...
Pada sekitar 2 bulanan lalu, perusahaan t4 saya bekerja melakukan Assesment Audit ISO 14001 : 2006 dan sekaligus Survalance Audit ISO/TS 16949 : 2000 dengan menggunakan "Badan Sertifikasi BVQI" Saat rehat saya bincang-bincang dengan si Auditornya, ada berapa banyak kliennya di Indonesia ? trus dari perusahaan yang bergerak dibidang apa aja ? trus ada ga perusahaan BUMN yang menjadi klien BVQI ? Pada pertanyaan saya yang terakhir, si Auditor tertawa terbahak-bahak, saya jadi heran, lho...kenapa anda ketawa begitu ? apa ada yang salah dengan pertanyaan saya ? Begini pak suhaimi katanya...Dalam komunitas "Badan Sertifikasi" ada semacam kesepahaman tak tertulis, dimana untuk BUMN itu dah jadi semacam kavlingnya SGS. Trus saya kejar lage dia, lho..emang ada apa dengan SGS pak ? si Auditor balik heran dengan pertanyaan saya, emange anda ga tau ? SGS itu singkatan dari "SEMUA GUE SERTIFIKASI" he he he ....duh ! Indonesiaku, Indonesiamu dan Indonesia kita. Suhaimi ----- Original Message ----- From: manneke budiman To: [email protected] Sent: Wednesday, July 11, 2007 12:38 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kompetensi Tidak Berdasar Ijazah Sekolah Betul sekali. Ini cerita klasik yang terus berulang di negeri kita yang porak poranda ini. Sertifikasi selalu dijadikan lahan cari duit daripada sarana penjamin mutu. Selain itu, perlu dipastikan apakah orag-orang yang duduk di badan sertifikasi ini memang kompetensi dan kualifikasinya betul bagus? Jangan sampai cuma hasil KKN dan klik-klikan saja. Kalo liat bunyi statement Pak Moedjiman yang ketua BSN ini, ada tersirat semacam semangat persaingan dengan sekolahan penerbit ijazah. Ujung-ujungnya, bagi-bagi rejeki gitu. Ironisnya, dalam banyak organisasi profesi pemberi sertifikasi yang saya tahu, justru yang duduk di dalamnya adalah para profesor dan pakar dari sekolahan (universitas). Lha, sama aja bo'ong dong? manneke
