Pucuk di cinta ulam tiba,

mau nanya .. ehh konsultasi nih dgn Pak Manneke dan lainnya soal 
sertifikasi profesi.

ay apikir konsep sertifikasi keompetensi itu bagus, tapi spt nbya yang mau 
menggerakkan itu, BMSP , juga nggak kerja dgn optimal, apalagi orang msih 
belum ngerti.

Yang harus memberi itu bukan pakar sekolahan ya pak, tetapi pakar di bidang 
riil/industri ??

Yang saya dengar semua stake holder, dimana asosiasi industri dan asosiasi 
professi serta pemerintah , harusnya dudukbersama.

Masalahnya ... , untuk set up tentu perlu biaya lumayan..,   sayakita 
industri, kalau disuruh memberi masukan kompetensi apa yg diperlukan, dan 
kesediaan memakai yang sudah lom,petten ya mau . Tapi kalau harus 
biayai  segala hal seperti membuat standar komepetensi, modul 
pelatihan  tenturepot.

Yang saya takut laluorang bikin asalan, yang penting bikin pelatihan dan 
kelauarkan sertifikat, padahal hasilout put belum kompeten..

Itu kan buang duit , juga buang duitnya yang ijut ji memperoleh 
sertifikasi.., tapi nyatanya dia belum kompeten, begitupun industri 
dirugikan.. , dikira benar punya karyawan kompeten ternyata bodong.


Aosiasi saya di ajak membangun LSP ( Lembaga Sertifikat Profesi ) butcher.. 
katanya, tapi terkesna kuat , mau di bikin semabarangan, karena lagi 
melihat ada kemungkinan dana meluncur dari suata dana bantuan.


SWah pendekatan yg mengerikan bagi saya..., harusnya bikinyang benar.. dan 
cari duit yang bisa mendukung proyek yg benar.

Dan bukan ada duit tertentu, buat utk mengejar itu apapun hasil out putnya 
dgnduit itu... repot kan..

Pak Manneke ,beri pencerahan dong,kalau saya yakin., asosiasi saya bisa 
beri masukan yang baik, dan bekerjasama dengan orang berlatar pendidikan 
bikin program training yg benar..,   kalau dana mestinya draipemerintah kan 
??  atau lain lagi.


Jelasnya.. bagaimana sih langkah yang benar dan bertanggung jawab dalam 
membentuk LSP yg jika berhasil akan ikit mencerdaskan bangsa .. ikut 
menaikkan produktivitas industyri.. ikut emudahkanpersaingan mencari 
lowongan kerja di dunia international.


Salam

Haniwar




At 12:38 AM 7/11/2007, you wrote:

>Betul sekali. Ini cerita klasik yang terus berulang di negeri kita yang 
>porak poranda ini. Sertifikasi selalu dijadikan lahan cari duit daripada 
>sarana penjamin mutu. Selain itu, perlu dipastikan apakah orag-orang yang 
>duduk di badan sertifikasi ini memang kompetensi dan kualifikasinya betul 
>bagus? Jangan sampai cuma hasil KKN dan klik-klikan saja.
>
>Kalo liat bunyi statement Pak Moedjiman yang ketua BSN ini, ada tersirat 
>semacam semangat persaingan dengan sekolahan penerbit ijazah. 
>Ujung-ujungnya, bagi-bagi rejeki gitu. Ironisnya, dalam banyak organisasi 
>profesi pemberi sertifikasi yang saya tahu, justru yang duduk di dalamnya 
>adalah para profesor dan pakar dari sekolahan (universitas). Lha, sama aja 
>bo'ong dong?
>
>manneke

Kirim email ke