Waahh soal sertifikasi ini jadi menarik sekali,
Bukan cuma karena menjadi lahan baru pembagian rejeki atau penghisapan uang 
rakyat, tapi juga ada indikasi menjadi lahan baru para auditor yang mengaudit 
masalah keuangan negara. Hal ini mulai terlihat saat 'pemeriksaan' proyek, yang 
mereka pertanyakan adalah apakah para pelaksananya sudah punya 'sertifikat 
profesi'?

Jadi bagaimana negara ini cepat maju, kalau semua hal kemudian di'bisnis'kan, 
tetapi dgn cara2 kotor?

salam,
nOvi

----- Original Message ----
From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, July 11, 2007 12:38:02 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kompetensi Tidak Berdasar Ijazah Sekolah









  


    
            Betul sekali. Ini cerita klasik yang terus berulang di negeri kita 
yang porak poranda ini. Sertifikasi selalu dijadikan lahan cari duit daripada 
sarana penjamin mutu. Selain itu, perlu dipastikan apakah orag-orang yang duduk 
di badan sertifikasi ini memang kompetensi dan kualifikasinya betul bagus? 
Jangan sampai cuma hasil KKN dan klik-klikan saja.

   

  Kalo liat bunyi statement Pak Moedjiman yang ketua BSN ini, ada tersirat 
semacam semangat persaingan dengan sekolahan penerbit ijazah. Ujung-ujungnya, 
bagi-bagi rejeki gitu. Ironisnya, dalam banyak organisasi profesi pemberi 
sertifikasi yang saya tahu, justru yang duduk di dalamnya adalah para profesor 
dan pakar dari sekolahan (universitas) . Lha, sama aja bo'ong dong?

   

  manneke



"[EMAIL PROTECTED] net.id" <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote:

          Yang perlu sebenarnya bagaimana mengatur agar program sertifikasi 
tidak 

dijadikan pohon duit bagi para petualang organisasi. Sekarang ini biaya 

sertifikasi di semua bidang sangat mahal. Sertifikat yang cuma selembar 

kertas itu terpaksa dibeli karena menjadi "tuhan" baru untuk menentukan 

siapa yang bisa cari makan di negeri ini. 

Coba hitung sendiri kalau selembar sertifikat itu paling murah 

harganya 1 juta, sementara semua profesi mulai dari mandor, panitia 

lelang, guru, insinyur dll wajib punya. Bahkan untuk insinyur tarifnya 

samapi 2,5 juta. Uang itu untuk siapa?



wass,

Triyatni

Kirim email ke