Kebanyakan kecelakaan kendaraan darat (bus, truk, mobil, motor, dll) lebih 
disebabkan oleh:
1. kesembronoan dan ketidaktaatan pengendara pada aturan yang ada;
2. keteledoran pemilik kendaraan yang tidak melakukan kontrol serta kurang 
memperhatikan kondisi kendaraannya;
3. sebagian petugas negara (kalau itu kendaraan angkut ya petugas kir 
kendaraan) yang lebih menomor satukan uang suap daripada benar-benar melakukan 
holistik check terhadap kondisi kendaraan;
4. kendaraan yang sudah out off date (tidak laik jalan) tapi masih dipaksakan 
terlebih di musim-musim kebutuhan akan alat angkut meningkat (seputar liburan 
panjang); dll.

Pertanyaannya: MENGAPA SEKARANG YANG DIPERMASALAHKAN ADALAH PINTU DI BAGIAN 
SOPIR? Kok konstruksi kendaraan yang harus pertama-tama diubah, MENGAPA BUKAN 
MENTALITAS MANUSIANYA (siapapun yang terlibat dalam penyelenggaraan angkutan 
umum itu khususnya)???

Inilah kelucuan yang untuk kesekian kalinya muncul pasca adanya kecelakaan yang 
berakibat fatal. Itukah jalan pemecahan yang sesungguhnya???

edy pur


  ----- Original Message ----- 
  From: Sukarnoto 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, July 12, 2007 11:55 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Peniadaan Pintu Sopir Bus


  Instruksi Dirjen Hubdar untuk meniadakan pintu sopir bus dan 
  menyediakan pintu darurat di sisi kanan tengah, dengan tujuan 
  meningkatkan standar keselamatan (Kompas 12/7). Pertimbangannya 
  adalah supaya sopir tidak kabur setelah terjadi kecelakaan.
  Beberapa hal yang perlu dicermati:
  1. Apakah kedaan sudah sedemikian genting sehingga instruksi 
  ini harus langsung dilaksanakan dalam minggu ini juga? Apakah tidak 
  dipikirkan bahwa bus yang dalam proses pengerjaan harus diubah 
  desainnya?
  2. Adakah jaminan bahwa setelah terburu-buru melaksanakan 
  instruksi ini akan terjadi perubahan pada keselamatan transportasi 
  dengan bus?
  3. Apakah ada suatu studi komperhensif bahwa instruksi tersebut 
  merupakan jalan keluar yang tepat?
  4. Peniadaan pintu dengan alasan supaya sopir tidak kabur 
  sungguh sangat aneh. Bus di luar negeri yang tidak ada pintu 
  sopirnya tujuannya bukan mencegah sopir kabur tapi semata-mata 
  efisiensi. Toh supir masih dapat lewat pintu penumpang. Sebetulnya 
  tidak seorang supir pun yang mau celaka. Tetapi pertimbangan 
  ekonomis membuat supir mengambil resiko dengan mengorbankan 
  keselamatan. Jadi kalau sudah terjadi kecelakaan tidak perlu lagi 
  alat pencegah supir kabur toh kecelakaan terlanjur terjadi.
  5. Instruksi ini kemungkinan bertentangan dengan PP atau UU 
  yang mengatur masalah lalu lintas. Kalau hal ini terjadi maka 
  peraturan yang lebih tinggi yang lebih kuat sehingga instruksi ini 
  hanya akan menjadi perdebatan tanpa mengatasi masalah sebenarnya.

  Sebetulnya banyak hal yang lebih esensial untuk dilaksanakan dari 
  pada sekadar mengurusi pintu supir bus. Misalnya bagaimana sistem 
  manajemen transportasi agar supir dapat lebih mengutamakan keselatan 
  dari pada sekadar mengejar setoran, aturan penempatan TV pada 
  kendaraan pribadi, aturan penggunaan HP oleh pengemudi umum/pribadi 
  dll.

  salam,
  Sukarnoto



   


------------------------------------------------------------------------------


  Internal Virus Database is out-of-date.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.18.11/721 - Release Date: 3/13/2007 
4:51 PM


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke