Kalau ingin melihat apakah yang anda sebutkan itu signifikan atau tidak, ukur 
saja dengan detektor alpha, beta dan gamma. Atau paling sederhana pakai 
survermeter seperti nampak di film film. Kalau terlalu kecil mungkin sehat 
untuk manusia. Seperti tampak sadar kita komsumsi buah buahan yang mengandung 
racun serangga, tetapi tidak ada yang protes. Tetapi lain cerita kalau 
kecelakaan, radiasi yang dipancarkan berbahaya secara langsung maupun tidak 
langsung. 

Salam,
Iwan Kurniawan


  ----- Original Message ----- 
  From: Rovicky 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, July 16, 2007 1:29 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Fakta soal Chernobyl yang perlu diketahui


  Bacaan lain ada di 
  http://rovicky.wordpress.com/2007/07/14/fakta-chernobyl/
  Salah satunya fakta tentang radiasi. 

  Harus dimengerti juga bahwa PLTBatubara juga mengeluarkan radiasi !
  Quote -- Kalo kita mau membandingkan, dalam sebuah kasus PLTU, dengan
  asumsi dayanya 1.000 MWe dan membakar 4 juta ton batubara per tahun
  maka cerobong asapnya melepaskan SEDIKITNYA 17 ton radioisotop berat
  (Uranium dan Thorium) yang dominan sebagai pemancar alfa dan gamma.
  Nah silahkan diperkirakan berapa besar radioisotop yang terpancar jika
  kapasitasnya seperti PLTU Suralaya yang mencapai 4.000 MWe. Jangan
  dilupakan faktor akumulasi radioisotop, karena kita sudah memanfaatkan
  batubara selama lebih dari 150 tahun. So tanpa kehadiran dan kebocoran
  PLTN pun lingkungan kita sudah tercemar berat oleh radioisotop, itu
  dari emisi PLTU saja, belum diperhitungkan dari pabrik pupuk (Phosphat
  itu mengandung Uranium dan tidak pernah diremoval) maupun dari pabrik
  rokok (Tembakau itu mengandung Polonium-210, salah satu radioisotop
  paling berbahaya karena memiliki aktivitas per satuan massa paling
  tinggi sehingga puluhan ribu kali lebih toksik dari HCN). Dari
  perspektif ini layak dipertanyakan benarkah angka 9.000 jiwa itu MURNI
  korban Chernobyl, bukan karena kontaminasi dari sumber2 lain ?
  -- end quote 

  Jadi ketakutan radiasi PLTN sudah hampir sepadan dengan PLTBatubara
  karena dalam PLTB tidak ada keharusan menangani limbah sesempurna
  dalam PLTN.
  Bahkan di Amerika-pun sepertinya belum sadar hal ini 
  refrensi : http://www.ornl.gov/info/ornlreview/rev26-34/text/colmain.html

  Soal kecelakaan dan potensial mengalami celaka coba perhatikan :
  korban kecelakaan lalulintas di Indonesia ini tahun 2003 saja 30.464
  orang per tahun atau 83,4 orang per hari !!!

  Jadi jalan raya "lebih menakutkan" ketimbang PLTN, apalagi kita salah
  satu pemakai jalan .... 
  Hati2 dijalan ya ?

  rdp
  rovicky.wordpress.com 

  

Kirim email ke